Bincangperempuan.com- Di tengah beton dan gedung tinggi kota, perempuan menemukan cara untuk tetap hidup berdampingan dengan alam: lewat kebun rumahan. Dari Baguio City, Filipina, aktivis hak-hak masyarakat adat (Ibaloy), Jill Carino, menceritakan bagaimana perempuan kota memanfaatkan setiap sudut pekarangan, halaman belakang, teras, bahkan pot di balkon untuk menanam pangan, menjaga tradisi, dan membangun solidaritas.
Kebun rumahan bagi mereka bukan sekadar soal sayur dan buah, tapi tentang merawat kehidupan, mewariskan pengetahuan, dan menegaskan peran perempuan sebagai penggerak perubahan.
Kebun Rumahan: Bertahan Hidup dan Merawat Tradisi
Meski kebutuhan pangan kota masih banyak bergantung pada pasokan dari desa, keterbatasan ruang dan ekonomi memaksa perempuan mulai menanam sendiri apa yang bisa dikonsumsi keluarga. Aktivitas sederhana ini juga menjadi medium untuk menanam nilai-nilai tradisional kepada anak-anak: menghormati alam, bekerja bersama, dan memahami asal-usul pangan mereka.
“Bagi masyarakat adat, pangan bukan hanya soal konsumsi, tapi juga bagian dari tradisi dan budaya,” ujar Jill Carino, yang juga merupakan Direktur Eksekutif Philippine Task Force for Indigenous Peoples’ Rights.
Di beberapa komunitas, tradisi memelihara babi untuk keperluan ritual sering terhalang aturan kota. Sebagai solusi, perempuan mulai membuat baeng, kebun atau ruang ternak di pekarangan rumah. Di sini mereka menanam sayur, kacang-kacangan, dan menjaga kehidupan yang terhubung dengan alam, sekaligus mengenalkan anak-anak pada bumi sejak dini.
Perempuan sebagai Motor Perubahan
Mayoritas penggerak kebun adalah perempuan. Mereka membangun jejaring, saling memotivasi, dan perlahan mendapatkan pengakuan dari asosiasi maupun pemerintah lokal. Beberapa kebun bahkan diajukan untuk masuk ke kurikulum sekolah agar generasi muda memahami pangan lokal dan tradisi.
Menurut Jill Carino, melalui kebun rumahan perempuan belajar banyak hal: mengelola air, memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam, membuat pupuk sendiri, hingga mengolah hasil panen menjadi produk pangan tahan lama seperti roti, minuman, atau camilan.
“Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga dan mewariskan pengetahuan tradisional, sekaligus membangun solidaritas dan ekonomi keluarga,” tegas Jill.
Meski demikian, keterbatasan ruang dan minimnya pengakuan terhadap kelompok adat tetap menjadi tantangan. Perempuan terus mencari cara agar kebun tetap hidup dan memberi manfaat nyata bagi keluarga dan komunitas.

Menghidupkan Praktik Lama, Memperkuat Kemandirian
Jill menekankan pentingnya menghidupkan praktik lama yang mulai terlupakan.
“Kalau semua bergantung pada beli, kita kehilangan kemandirian. Hasil panen yang mudah rusak bisa diolah agar lebih tahan lama,” ujarnya.
Pengendalian hama secara alami dan pemanfaatan kotoran ternak, termasuk babi, menjadi strategi menjaga kesuburan tanah sekaligus meneruskan pengetahuan tradisional. Praktik sederhana ini menegaskan kembali peran perempuan sebagai penjaga tanah dan kehidupan.
Berbagi Pengalaman Antarwilayah
Sementara itu, peserta dari Malaysia berbagi pengalaman bahwa bagi masyarakat adat, tanah adalah kehidupan, bukan hanya komoditas ekonomi. Perbedaan pandang ini kerap memicu konflik dengan pemerintah dan pihak luar. Mereka juga menyoroti bagaimana ekonomi kolektif perlahan tergeser sistem uang serta tantangan baru seperti sampah plastik.
Lain lagi, peserta dari Manokwari, Papua, menceritakan bahwa banyak tanah adat diambil alih perusahaan tanpa penyelesaian hingga kini. Bagi perempuan adat Papua, berkebun bukan sekadar aktivitas sehari-hari, tapi sarana kolektif untuk mewariskan pengetahuan kepada anak-anak. Aktivitas tambang ilegal yang merusak sungai dan tanah menegaskan peran perempuan dalam menjaga ruang hidup.
Baca juga: Tenun Bumpak, Dikenal atau Dikenang
Kesamaan Lintas Wilayah dan Negara
Aktivis dan pemikir feminis Ruth Indiah Rahayu mengatakan, meski memiliki konteks yang berbeda-beda, ada beberapa kesamaan yang muncul lintas wilayah dan negara, yakni tanah dimaknai sebagai sumber kehidupan, perampasan tanah oleh perusahaan menjadi persoalan utama, dan pengetahuan perempuan adat, termasuk peran mereka menjaga tanah, pangan, dan budaya sering tidak diakui.
“Berkebun bukan sekadar urusan domestik. Ini adalah praktik politik perempuan sehari-hari: merawat kehidupan, mempertahankan ruang hidup, dan membangun masa depan bersama,” kata Ruth Indiah Rahayu.
Untuk diketahui, selama empat hari, dari 1 hingga 4 Februari, Yayasan Akar Global menyelenggarakan kegiatanInternational Indigenous Women’s Conference: “Rebuilding the Commons”. Forum internasional ini mempertemukan 106 perempuan adat dan perempuan akar rumput dari berbagai wilayah di Indonesia, serta dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, penguatan solidaritas, dan penyusunan agenda kolektif perempuan dalam memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan hidup, budaya, dan penghidupan yang berkelanjutan.





Comments are closed.