Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. #RebuildingtheCommons: Perempuan Kota Merawat Kehidupan Lewat Kebun Rumahan di Tengah Keterbatasan Ruang

#RebuildingtheCommons: Perempuan Kota Merawat Kehidupan Lewat Kebun Rumahan di Tengah Keterbatasan Ruang

#rebuildingthecommons:-perempuan-kota-merawat-kehidupan-lewat-kebun-rumahan-di-tengah-keterbatasan-ruang
#RebuildingtheCommons: Perempuan Kota Merawat Kehidupan Lewat Kebun Rumahan di Tengah Keterbatasan Ruang
service

Bincangperempuan.com- Di tengah beton dan gedung tinggi kota, perempuan menemukan cara untuk tetap hidup berdampingan dengan alam: lewat kebun rumahan. Dari Baguio City, Filipina, aktivis hak-hak masyarakat adat (Ibaloy), Jill Carino, menceritakan bagaimana perempuan kota memanfaatkan setiap sudut pekarangan, halaman belakang, teras, bahkan pot di balkon untuk menanam pangan, menjaga tradisi, dan membangun solidaritas. 

Kebun rumahan bagi mereka bukan sekadar soal sayur dan buah, tapi tentang merawat kehidupan, mewariskan pengetahuan, dan menegaskan peran perempuan sebagai penggerak perubahan.

Kebun Rumahan: Bertahan Hidup dan Merawat Tradisi

Meski kebutuhan pangan kota masih banyak bergantung pada pasokan dari desa, keterbatasan ruang dan ekonomi memaksa perempuan mulai menanam sendiri apa yang bisa dikonsumsi keluarga. Aktivitas sederhana ini juga menjadi medium untuk menanam nilai-nilai tradisional kepada anak-anak: menghormati alam, bekerja bersama, dan memahami asal-usul pangan mereka.

“Bagi masyarakat adat, pangan bukan hanya soal konsumsi, tapi juga bagian dari tradisi dan budaya,” ujar Jill Carino, yang juga merupakan Direktur Eksekutif Philippine Task Force for Indigenous Peoples’ Rights.

Di beberapa komunitas, tradisi memelihara babi untuk keperluan ritual sering terhalang aturan kota. Sebagai solusi, perempuan mulai membuat baeng, kebun atau ruang ternak di pekarangan rumah. Di sini mereka menanam sayur, kacang-kacangan, dan menjaga kehidupan yang terhubung dengan alam, sekaligus mengenalkan anak-anak pada bumi sejak dini.

Baca juga: #RebuildingtheCommons: Dari Dapur, Hutan, hingga Lumbung, Cara Perempuan Merawat dan Bertahan di Tengah Krisis

Perempuan sebagai Motor Perubahan

Mayoritas penggerak kebun adalah perempuan. Mereka membangun jejaring, saling memotivasi, dan perlahan mendapatkan pengakuan dari asosiasi maupun pemerintah lokal. Beberapa kebun bahkan diajukan untuk masuk ke kurikulum sekolah agar generasi muda memahami pangan lokal dan tradisi.

Menurut Jill Carino, melalui kebun rumahan perempuan belajar banyak hal: mengelola air, memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam, membuat pupuk sendiri, hingga mengolah hasil panen menjadi produk pangan tahan lama seperti roti, minuman, atau camilan.

“Perempuan memiliki peran penting dalam menjaga dan mewariskan pengetahuan tradisional, sekaligus membangun solidaritas dan ekonomi keluarga,” tegas Jill.

Meski demikian, keterbatasan ruang dan minimnya pengakuan terhadap kelompok adat tetap menjadi tantangan. Perempuan terus mencari cara agar kebun tetap hidup dan memberi manfaat nyata bagi keluarga dan komunitas.

Jill Carino menunjukkan bagaimana perempuan kota menanam pangan di pekarangan, teras, hingga pot balkon, merawat tradisi sekaligus membangun solidaritas. (foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan).

Menghidupkan Praktik Lama, Memperkuat Kemandirian

Jill menekankan pentingnya menghidupkan praktik lama yang mulai terlupakan.

“Kalau semua bergantung pada beli, kita kehilangan kemandirian. Hasil panen yang mudah rusak bisa diolah agar lebih tahan lama,” ujarnya.

Pengendalian hama secara alami dan pemanfaatan kotoran ternak, termasuk babi, menjadi strategi menjaga kesuburan tanah sekaligus meneruskan pengetahuan tradisional. Praktik sederhana ini menegaskan kembali peran perempuan sebagai penjaga tanah dan kehidupan.

Berbagi Pengalaman Antarwilayah

Sementara itu, peserta dari Malaysia berbagi pengalaman bahwa bagi masyarakat adat, tanah adalah kehidupan, bukan hanya komoditas ekonomi. Perbedaan pandang ini kerap memicu konflik dengan pemerintah dan pihak luar. Mereka juga menyoroti bagaimana ekonomi kolektif perlahan tergeser sistem uang serta tantangan baru seperti sampah plastik.

Lain lagi, peserta dari Manokwari, Papua, menceritakan bahwa banyak tanah adat diambil alih perusahaan tanpa penyelesaian hingga kini. Bagi perempuan adat Papua, berkebun bukan sekadar aktivitas sehari-hari, tapi sarana kolektif untuk mewariskan pengetahuan kepada anak-anak. Aktivitas tambang ilegal yang merusak sungai dan tanah menegaskan peran perempuan dalam menjaga ruang hidup.

Baca juga: Tenun Bumpak, Dikenal atau Dikenang

Kesamaan Lintas Wilayah dan Negara

Aktivis dan pemikir feminis Ruth Indiah Rahayu mengatakan, meski memiliki konteks yang  berbeda-beda, ada beberapa kesamaan yang muncul lintas wilayah dan negara, yakni tanah dimaknai sebagai sumber kehidupan, perampasan tanah oleh perusahaan menjadi persoalan utama, dan pengetahuan perempuan adat, termasuk peran mereka menjaga tanah, pangan, dan budaya sering tidak diakui.

“Berkebun bukan sekadar urusan domestik. Ini adalah praktik politik perempuan sehari-hari: merawat kehidupan, mempertahankan ruang hidup, dan membangun masa depan bersama,” kata Ruth Indiah Rahayu.

Untuk diketahui, selama empat hari, dari 1 hingga 4 Februari, Yayasan Akar Global menyelenggarakan kegiatanInternational Indigenous Women’s Conference: “Rebuilding the Commons”. Forum internasional ini mempertemukan 106 perempuan adat dan perempuan akar rumput dari berbagai wilayah di Indonesia, serta dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, penguatan solidaritas, dan penyusunan agenda kolektif perempuan dalam memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan hidup, budaya, dan penghidupan yang berkelanjutan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.