Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Dari Lautan Manusia sampai Sidang Keluarga, Dua Wajah Imlek di Tiongkok dan Indonesia

Dari Lautan Manusia sampai Sidang Keluarga, Dua Wajah Imlek di Tiongkok dan Indonesia

dari-lautan-manusia-sampai-sidang-keluarga,-dua-wajah-imlek-di-tiongkok-dan-indonesia
Dari Lautan Manusia sampai Sidang Keluarga, Dua Wajah Imlek di Tiongkok dan Indonesia
service

Saya dulu membayangkan Imlek di Tiongkok bakal terasa seperti iklan sirup di televisi Indonesia. Merah di mana-mana, keluarga rapi, meja makan penuh, dan semua orang tersenyum seperti baru menandatangani perjanjian damai dengan hidup. Dalam bayangan saya, Imlek itu hangat, tertib, dan sinematik. Ekspektasi itu bertahan sampai Imlek pertama yang saya jalani saat masih kuliah di Shanghai. Setelah itu, bayangan manis tersebut rontok tanpa perlu bantahan. Yang datang bukan rasa haru, tapi rasa panik. Bukan suasana khidmat, tapi kepadatan. Imlek di sana bukan pembukaan perayaan, tapi pembukaan eksodus manusia.

Beberapa minggu sebelum tahun baru, topik utama di kampus bukan ujian, bukan skripsi, bukan juga gosip percintaan. Semua orang membicarakan tiket pulang seperti membicarakan jalur penyelamatan diri. Sistem pemesanan kereta resmi 12306 dibuka terus seperti pintu darurat. Refresh layar dilakukan dengan keyakinan spiritual. Banyak yang percaya bukan pada keberuntungan, tapi pada kecepatan jempol dan kestabilan sinyal. Ada yang berhasil dapat kursi, lalu diperlakukan seperti pahlawan keluarga. Ada yang hanya dapat tiket berdiri belasan jam, dan tetap dianggap pejuang. Ada juga yang pindah jalur lewat aplikasi perjalanan seperti Ctrip demi peluang lebih besar, seperti cari jalan tikus di game yang levelnya kelewat kejam.

Semua kekacauan itu masuk akal kalau ingat satu hal penting. Imlek di Tiongkok bukan libur tiga atau empat hari. Liburnya bisa tembus sekitar dua minggu. Cukup untuk membuat satu negara menekan tombol jeda bersamaan. Kantor tutup. Pabrik berhenti. Kampus sepi. Kota besar kehilangan sebagian besar penghuninya. Masalahnya, ketika lebih dari satu miliar orang libur di waktu yang sama, hasilnya bukan ketenangan nasional, tapi kepadatan nasional. Semua orang ingin pulang. Semua orang ingin jalan. Semua orang ingin keluar di tanggal yang sama. Libur panjang terdengar seperti berkah, sampai sadar semua orang lain punya ide liburan yang identik.

Stasiun berubah jadi festival koper dan wajah lelah. Kardus, tas kain, kantong plastik besar, semua ikut antre tanpa hirarki. Banyak orang duduk di lantai, tidur di sudut, makan mi instan tanpa niat terlihat estetik. Tidak ada yang memikirkan sudut kamera. Semua memikirkan arah pulang. Kota besar beberapa hari kemudian terasa seperti habis disapu. Distrik bisnis lengang. Toko tutup. Kantin kampus libur. Shanghai yang biasanya bising berubah seperti kota contoh di brosur properti, terlalu tenang untuk dipercaya. Sunyi yang bikin orang bertanya apakah dunia sedang tarik napas.

Saya kira dramanya berhenti di transportasi. Ternyata itu baru pemanasan. Begitu musim liburan berjalan, tempat wisata berubah menjadi lautan manusia. Angka 1,4 miliar penduduk tidak lagi terasa seperti data sensus, tapi seperti siku orang asing yang setia menempel di tulang rusuk. Di Tembok Besar, tangga batu yang terlihat gagah di foto berubah jadi antrean vertikal. Bukan lagi wisata sejarah, tapi antrean sembako versi situs warisan dunia. Langkah kaki ditentukan punggung orang depan. Jalan santai berubah jadi sistem dorong pelan. Berhenti foto terlalu lama terasa seperti mengganggu stabilitas peradaban.

Di Shanghai, kawasan The Bund berubah jadi arus manusia dua arah tanpa jeda. Orang tidak berjalan, tapi mengalir seperti notifikasi diskon. Berhenti sedikit bisa merusak keseimbangan kerumunan. Di Zhangjiajie, kawasan pegunungan yang sering dipuji karena lanskapnya, jalur wisata terasa seperti simulasi antrean akhir zaman. Lift penuh. Jembatan penuh. Gardu pandang penuh. Bahkan menikmati kabut pun harus gantian. Di sana terasa jelas, bahkan momen hening pun kena sistem kuota.

Pengalaman itu membuat saya melihat Imlek di Indonesia dengan sudut pandang baru. Di sini suasananya terasa lebih tertata dan lebih sadar tampilan. Lampion digantung rapi. Barongsai tampil terjadwal. Pusat perbelanjaan berubah jadi panggung budaya. Kadang terasa ironis, lampion di mal lebih rapi daripada kabel listrik di jalanan. Semua simetris. Semua fotogenik. Semua siap masuk unggahan. Barongsai tampil disiplin, tapi parkiran tetap chaos seperti habis konser dangdut. Tradisi di depan tampak anggun. Realitas di belakang tetap brutal.

Banyak orang tergoda menentukan mana yang lebih asli dan mana yang lebih teatrikal. Kesimpulan seperti itu enak diucapkan, tapi malas dipikirkan. Dua-duanya sama-sama pertunjukan. Sosiolog Erving Goffman dalam buku The Presentation of Self in Everyday Life sudah lama mengingatkan bahwa hidup sosial memang mirip panggung. Orang tidak cuma hidup, tapi juga tampil. Ada kostum, ada latar, ada cara mengatur kesan. Imlek di Indonesia terasa seperti panggung dengan lampu sorot dan dekorasi niat. Imlek di Tiongkok terasa seperti panggung kebanyakan pemain sampai dekorasi kalah ramai. Bukan soal palsu atau asli. Soal buat siapa pertunjukan itu ditujukan.

Di Indonesia, Imlek sering menjadi pernyataan identitas. Pesannya sederhana, kami ada dan tidak lagi sembunyi. Di Tiongkok, Imlek lebih terasa seperti kewajiban sosial tahunan. Pesannya bukan eksistensi, tapi kepatuhan keluarga. Tidak pulang saat Imlek bisa terasa seperti mangkir dari sidang orang tua. Komunitas minoritas cenderung merawat tradisi seperti barang pusaka. Dilap, dipajang, dijaga. Komunitas mayoritas lebih santai. Tradisi dipakai seperti baju rumah. Tetap penting, tapi tidak perlu selalu disetrika.

Semakin jauh dari sumber, kadang semakin niat bentuk simbolnya. Bukan karena lebih suci, tapi karena lebih waspada. Mirip orang yang pernah hampir kehilangan dompet. Setelah itu, saku dicek berkali-kali.

Namun di balik semua perbedaan panggung itu, ada satu persamaan keras kepala yang tidak kenal batas negara. Imlek di Tiongkok dan Indonesia sama-sama punya agenda tersembunyi. Sidang tahunan evaluasi hidup oleh keluarga besar. Barongsai hanya pembuka. Angpao hanya bonus. Acara inti tetap meja makan.

Pertanyaannya stabil seperti template tahunan. Kerja di mana sekarang? Gaji berapa? Kapan menikah? Kenapa belum punya anak? Sepupu dijadikan grafik pembanding, lengkap dengan catatan kaki dari tante. Meja makan berubah jadi etalase CV keluarga versi offline. Semua dipajang. Semua dibandingkan. Semua dinilai pelan-pelan. Tetap ada yang pura-pura kagum demi menjaga suasana sopan.

Kalau Pierre Bourdieu dalam Distinction menjelaskan bahwa gaya hidup dan selera adalah penanda posisi sosial, maka makan malam Imlek adalah pameran brosur hidup. Gelar jadi label premium. Karier jadi fitur unggulan. Prestasi anak berubah jadi spanduk berjalan. Pasangan hidup kadang diperlakukan seperti paket upgrade, bukan keputusan perasaan. Semua dibahas dengan senyum. Nadanya tetap audit.

Lucunya, hampir semua orang mengeluh soal interogasi keluarga ini, tapi tradisinya tetap hidup dan sehat. Semua tidak suka ditanya, tapi nanti gantian bertanya. Semua tidak nyaman dibandingkan, tapi tetap membandingkan sepupu. Sistem ini berjalan mulus dengan bahan bakar kemunafikan kecil yang diwariskan turun-temurun.

Lapisan modern membuat semuanya makin absurd. Media sosial mengubah perayaan jadi etalase. Sudut rumah dipilih berdasarkan cahaya, bukan kenyamanan. Foto keluarga diulang sampai semua tampak bahagia versi algoritma. Kamera sering lebih diperhatikan daripada percakapan. Banyak momen hadir hanya supaya bisa diunggah. Pasar membaca kebiasaan ini dengan cepat. Diskon tematik dan dekorasi massal muncul tepat waktu. Kalau simbol laku, simbol diproduksi ulang tanpa banyak tanya.

Dari dua wajah Imlek itu, saya sampai pada kesimpulan yang tidak manis tapi jujur. Tradisi bukan benda beku. Tradisi biasanya ikut arah tekanan sosial. Di satu tempat, tradisi jadi bendera eksistensi. Di tempat lain, tradisi jadi jadwal migrasi massal plus piknik desak-desakan yang niatnya healing tapi praktiknya uji mental.

Ukuran kesungguhan tradisi bukan pada keindahan dekorasi, tapi pada kerepotan yang rela ditanggung. Antre tiket seperti rebutan konser. Berburu reservasi seperti berburu promo. Terjepit di stasiun. Terdorong di tempat wisata. Duduk menghadapi audit keluarga tanpa hak veto. Tradisi hidup bukan karena indah difoto, tapi karena tetap dijalani meski melelahkan.

Perbedaan Imlek di Tiongkok dan Indonesia terlihat di panggungnya. Persamaannya terasa di tekanannya. Dan dalam urusan Imlek, yang paling konsisten lintas negara bukan lampion, bukan barongsai, tapi tekanan sosialnya. Itu tidak pernah libur. Selalu datang tepat waktu. Setelah semua dekorasi dilepas, semua angpao dihitung, dan semua kue habis, satu ritual penutup tetap muncul juga. Bahasa universal Imlek, lintas negara dan lintas generasi, selalu sama bunyinya. Sudah punya pacar belum? Kapan menikah? Kerja di mana? Gajinya berapa?


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Virdika Rizky Utama
Direktur Eksekutif PARA Syndicate

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.