Ada sebuah tren yang sedang marak di platform TikTok. Di layar gawai, sebuah video dibuka dengan tulisan “PoV unboxing mahar 500 juta” atau nominal mahar pernikahan lainnya. Kamera menjadi point of view seakan-akan adegan diambil dari selangkangan, otonomi paling intim perempuan dan menyorot wajah laki-laki yang menatap lurus ke lensa. Senyum sumringahnya tak lama berubah. Alisnya berkerut, hidungnya ditutup, mengekspresikan ‘pemandangan’ yang dilihatnya tidak sesuai dengan standar dan ekspektasinya. Dalam video lain yang serupa, “mahar” yang dibuka justru disambut dengan senyum makin lebar, bahkan ditambahkan efek cahaya yang menerangi wajahnya. Video tren ini kemudian dibalut dengan lagu-lagu yang bernada lucu dan sering digunakan untuk video humor.
Lucu? Jika penontonnya adalah seorang misoginis yang menganggap perempuan hanya senilai “mahar”, atau seseorang yang kerap melontarkan lelucon seksis, mungkin iya baginya. Tapi tentu tidak lucu bagi orang yang punya perspektif gender dan kritis.
Dalam sepekan terakhir, format seperti ini ramai beredar di TikTok dan menjelma menjadi tren, kebanyakan dibuat oleh laki-laki. Ribuan komentar pun bermunculan menanggapi tren ini. Banyak yang kemudian murka dan mengekspresikan kekesalan mereka terhadap tren dan konten ini. Komentar tegas seperti, “Pentingnya memilih lelaki yang berpendidikan,” serta, “Sexual jokes aren’t funny at all (lelucon seksual sama sekali nggak lucu),” adalah beberapa respon yang ditemui dari tren TikTok ini. Namun, tidak sedikit pula yang menertawakan konten tersebut, menganggapnya sekadar hiburan ringan yang tak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Baca juga: ‘GJLS Ibuku Ibu-Ibu’: Kapan Film ‘Lucu’ Bisa Bebas dari Pola Humor Seksis dan Ableist?
Di ruang digital, batas antara lelucon dan penghinaan sering kali memang tampak tipis. Padahal, di balik kemasan humor, tren ini membawa problematika. Perempuan tidak hadir sebagai subjek yang utuh, melainkan direduksi sebagai objek, sudut pandang yang kosong dan bahan lelucon. Mahar, yang dalam banyak budaya dimaknai sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan dalam pernikahan, perlahan kehilangan maknanya ketika ia dijadikan simbol objektifikasi perempuan. Di titik inilah martabat perempuan mulai tergeser oleh humor misoginis yang menempatkan perempuan sebagai bahan lelucon.
Kemudian, bagaimana mahar dimaknai dalam budaya? Satu hal yang menjadi ciri tren “unboxing mahar” di TikTok: selalu muncul nilai atau jumlah uang mahar. Ada yang menuliskan 500 juta, ada yang 80 juta, dan banyak lagi. Dengan nominal yang muncul, maka muncul pertanyaan, “Apakah mahar berarti membeli perempuan?”
Tidak ada catatan resmi kapan dan dari mana pertama kali mahar menjadi prasyarat pernikahan. Namun mahar diyakini sudah ada sejak zaman dulu kala. Mahar pun memiliki nama dan cara sendiri di tiap budaya. Seperti di daerah Kudus, Jawa Timur. Dulunya mahar harus berupa sapi atau kerbau yang melambangkan sebagai hewan pekerja dan menopang penghasilan. Sekarang bisa jadi wujud mahar berganti ke motor sebagai alternatif karena perkembangan zaman (Tasfiq dkk, 2022).
Indonesia memiliki beragam nama untuk menyebut mahar. Di Suku Bugis-Makassar ada “uang panai”, “belis” dari Nusa Tenggara Timur, “bowo” dari Nias, “jujuran” dari Banjar dan masih banyak lagi. Dengan nama dan jenis yang beragam ini mahar sejatinya memiliki nilai dan esensi yang sama.
Dosen Ilmu Komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Argo Twikromo, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa mahar sejak awal tidak berdiri sebagai urusan ekonomi semata.
“Mahar itu kan sebuah relasi atau ikatan keluarga laki-laki dengan keluarga perempuan. Bukan hanya individu laki-laki dan perempuan loh ya. Karena untuk mahar itu kan sebenarnya adalah kekerabatan,” ujarnya kepada Konde.co, 10 Februari 2026.
Baca juga: Dear Komika, Stop Humor Seksis! Itu Pelecehan dan Gak Ada Lucunya
Dalam banyak masyarakat di Indonesia, pernikahan merupakan proses sosial penyatuan jaringan keluarga besar. Maka, mahar berfungsi sebagai simbol penghormatan. Di Sumba, NTT misalnya, dikenal istilah belis yang dimaknai di sana sebagai pengganti air susu. Artinya, pemberian tersebut menjadi pengakuan atas peran, pengorbanan, dan nilai perempuan dalam keluarga asalnya.
“Sebenarnya esensinya itu untuk meninggikan perempuan. Mahar itu sebetulnya lebih pada pengganti air susu. Artinya perempuan ini ada penghormatan, dia masuk ke kerabat laki-laki,” ujar Argo.
Selain itu, tutur Argo, makna simbolik mahar kemudian perlahan bergeser ketika pernikahan mulai dibaca menggunakan kacamata ekonomi. Uang menjadi ukuran utama nilai seseorang. Kerja publik yang menghasilkan materi dihargai, sementara kerja domestik perempuan sering dianggap tidak bernilai karena tidak menghasilkan uang. “Karena ekonomi itu cukup kuat sekarang, akhirnya dianggap itu membeli perempuan. Kita sebenarnya terpeleset karena perkembangan sekarang ujung tombaknya ekonomi politik,” ujar Argo.
Ketika uang menjadi ukuran nilai, siapa yang membayar merasa berhak. “Akhirnya justru sebaliknya, si perempuan dibeli sehingga setelah dibeli itu disuruh apa-apa harus mau, harus menurut dan lain sebagainya,” tambahnya.
Lantas, apa hubungannya dengan tren “unboxing mahar” di TikTok?
Tren tersebut melecehkan dan merendahkan martabat perempuan atas nama “humor” yang tidak lucu sama sekali. Mahar yang seharusnya menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan menjadi hilang arah maknanya. Menurut Argo, persoalannya bukan sekedar soal candaan. “Karena namanya mahar atau beli-beli, dan ketika sudah dibeli perempuan itu ya bisa diperlakukan apa saja. Ada konotasi pemikiran seperti itu,” katanya. Logika ini, ketika terus diulang maka lama-lama akan dianggap wajar.
“Kesalahan yang diulang-ulang nanti menjadi suatu kebenaran. Itu yang disebut post-truth,” ujarnya. Seperti tren ini, perempuan terus-menerus ditampilkan sebagai objek, bukan subjek yang utuh. Lama-lama publik akan terbiasa melihatnya demikian. Maka rantai patriarki dan misogini semakin sulit diputus.
Baca juga: Model Callista Louis Speak Up Pelecehan Seksual: Stop Normalisasi Guyonan Seksis di Industri Kreatif
Ia mencontohkan, humor bisa dipakai untuk membongkar ketimpangan, bukan menertawakannya. Sayangnya, dalam tren ini, humor justru bekerja sebaliknya: untuk mengukuhkan posisi laki-laki sebagai penilai dan perempuan sebagai yang dinilai.
Dalam tren tersebut, anatomi perempuan bekerja seperti etalase. Ia tidak menampilkan perempuan sebagai manusia yang utuh dengan kehendak, pengalaman, dan suara, melainkan sebagai sesuatu yang “dinilai”.
Cara pandang tersebut adalah wujud objektifikasi. Teori Objektifikasi muncul dalam kajian psikologi perempuan dan diperkenalkan oleh psikolog asal Amerika Serikat Barbara L. Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts Teori ini menjelaskan, pengalaman seksualisasi dan objektifikasi perempuan akan berdampak serius bagi kesehatan mental perempuan.
Mereka juga menjelaskan bahwa dalam budaya yang sarat objektifikasi seksual, tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek untuk dinilai berdasarkan kegunaan dan penampilannya bagi orang lain. Mereka menulis bahwa perempuan, “Exist in a culture that sexually objectifies the female body (hidup di tengah budaya yang mengobjektifikasi tubuh perempuan secara seksual),” sehingga tubuh perempuan kerap direduksi menjadi sesuatu yang dinilai sebagian besar atas kegunaan (atau konsumsi) oleh orang lain.
Ketika tren ini menggunakan istilah “unboxing”, pilihan katanya sendiri sudah mengandung logika benda. Istilah “unboxing” atau “membuka” lazim dipakai untuk membuka gawai baru, sepatu, tas, atau barang mewah lain yang dibeli dan dicek kelayakannya. Saat kata itu dilekatkan pada mahar dan secara implisit pada perempuan, yang sedang dinormalisasi adalah imajinasi bahwa perempuan dapat “dibuka”, diperiksa, lalu diberi penilaian layak atau tidak layak.
Fredrickson dan Roberts menyebut proses ini sebagai objektifikasi seksual. Yaitu ketika tubuh atau bagian tubuh seseorang dipisahkan dari dirinya sebagai pribadi dan diperlakukan seolah mewakili keseluruhan dirinya. Dalam konteks tren ini, perempuan tidak lagi tampil sebagai subjek dalam suatu relasi, melainkan sebagai representasi nilai uang yang menyertainya. Tubuh dan martabatnya seolah melekat pada nominal mahar yang tertulis di layar.
Baca juga: Misogini Di Balik Stereotip Bimbo: Padahal Perempuan Bisa Tampil Otentik Sekaligus Pintar
Yang lebih halus, namun tak kalah berbahaya, adalah dampak psikologis dari budaya seperti ini. Teori objektifikasi menjelaskan bahwa ketika perempuan terus-menerus diposisikan sebagai objek penilaian, mereka dapat menginternalisasi pandangan tersebut dan mulai melihat diri mereka sendiri dari kacamata orang luar. Proses ini disebut objektifikasi diri. Perempuan belajar mengawasi tubuhnya sendiri, menilai dirinya berdasarkan standar eksternal, dan mengukur harga dirinya dari seberapa “layak” ia di mata orang lain.
Dalam ruang digital yang penuh kamera dan komentar, mekanisme ini bekerja semakin cepat. Setiap ekspresi jijik atau puas dalam video “unboxing mahar” bukan sekadar akting. Ia adalah pesan simbolik tentang standar. Tentang siapa yang dianggap pantas dihargai tinggi dan siapa yang bisa ditertawakan. Ketika ribuan orang menyaksikan, menyukai, dan membagikan video tersebut, pesan itu ikut diperkuat.
Humor mempercepat normalisasi itu. Banyak pembuat konten berlindung di balik dalih bercanda. Namun, bagi Argo, humor tidak pernah netral. “Kemasan humor itu perspektif zaman sekarang. Tapi humor seharusnya mengarah pada kesadaran, bukan justru memperkuat pelecehan,” katanya.
Ketika “unboxing mahar” menjadi tren ‘lelucon’, pelecehan terhadap perempuan seakan-akan dianggap layak menjadi bahan tertawaan. Ini tak luput dari pemikiran seksis yang menyebabkan mudahnya untuk meletakkan perempuan di posisi serendah mungkin sebagai objek kelakar.
Lalu tak jarang, ketika perempuan mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap humor seksis yang merendahkan atau melecehkan, respons yang datang justru berupa pembungkaman halus seperti “serius banget sih, kan cuma bercanda.” Atau, perempuan dianggap “berlebihan” melihat humor itu.
Dengan label “bercanda”, perasaan tidak aman dianggap berlebihan, sementara pelaku terbebas dari tanggung jawab atas dampak ucapannya. Dalam kajian feminis, humor seksis kerap dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik. Bemiller dan Schneider dalam artikel akademis mereka “It’s Not Just a Joke” menjelaskan bahwa humor seksis bekerja untuk menundukkan perempuan dengan cara yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya mengukuhkan relasi kuasa.
Baca juga: Posting di Medsos? Kamu Mesti Bedakan Antara Humor, Konteks, dan Sensitivitas
Dalam tren “PoV unboxing mahar”, mekanisme gaslighting ini bekerja berlapis. Pertama, perempuan diobjektifikasi melalui konten. Kedua, ketika perempuan protes, mereka dituduh “tidak bisa bercanda” atau “terlalu sensitif”. Ketiga, narasi ini disebarluaskan hingga perempuan yang lain mulai meragukan validitas perasaan mereka sendiri. Akibatnya, kritik terhadap misogini menjadi semakin sulit disuarakan karena sudah lebih dulu dibingkai sebagai “berlebihan”.
Tren “PoV unboxing mahar” mungkin akan berlalu seperti tren-tren lainnya. Dalam hitungan minggu, akan ada format baru, lelucon baru, cara baru untuk mengemas hal yang sama: merendahkan perempuan. Tapi jejak yang ditinggalkannya tidak sesederhana itu.
Setiap kali perempuan dijadikan objek lelucon, setiap kali tubuh dan martabat perempuan direduksi menjadi materi hiburan, setiap kali masyarakat tertawa dan menganggapnya wajar, kita sedang membangun fondasi bagi kekerasan yang lebih besar. Karena objektifikasi adalah akar dari segala bentuk kekerasan berbasis gender. Ketika perempuan tidak lagi dilihat sebagai manusia utuh, menjadi mudah untuk melecehkan, mengontrol, dan menyakiti mereka. Maka stop humor seksis, itu tidak lucu.
Sumber:
Bemiller, M., & Schneider, R. Z. (2010). It’s not just a joke: Masculinity, humor, and rape culture. Sociological Spectrum, 30(4), 459-479.
Fredrickson, B. L., & Roberts, T. A. (1997). Objectification theory: Toward understanding women’s lived experiences and mental health risks. Psychology of women quarterly, 21(2), 173-206.
Utama, C. P., Wulan, D. N., & Jati, A. N. (2023). Humor seksis: Bentuk pelecehan dalam sudut pandang perempuan. Jurnal Kultur, 2(2), 139-149.
Tasfiq, M. S., Maskur, A., Mahsun, M., Mashudi, M., & Nisa, K. (2022). Enkulturasi Hukum: Pemberian Mahar Hewan Kerbau dalam Perkawinan. Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia, 9(2), 145-164.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)





Comments are closed.