Beberapa dari kita mungkin sudah tidak asing dengan film-film Hollywood seperti Clueless (1995), How to Lose a Guy in 10 Days (2003), 13 Going on 30 (2004), The Devil Wears Prada (2006), hingga serial populer Emily in Paris (2020).
Film-film tersebut dikenal dengan sebutan “chick flick”. Istilah yang populer pada era 1990-an hingga 2000-an ini, merujuk pada film yang ditujukan bagi audiens perempuan dengan tokoh utama yang berkutat pada cinta, relasi, dan pencarian jati diri.
Istilah chick flick sendiri tidak memiliki definisi yang baku, karena pada mulanya film-film tersebut hanya dikenal sebagai “girly films”. Selain itu, film chick flick pun kerap diasosiasikan dengan tokoh utama yang berpenampilan feminin maupun menyukai hal-hal yang berbau “keperempuanan”. Seperti warna pink dan penggunaan makeup.
Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan film-film semacam ini, sebab chick flick memang dibuat sebagai tontonan ringan. Baik dari segi penokohan maupun alur cerita, serta menyasar audiens perempuan yang tengah bergulat dengan pencarian jati diri dan relasi romantis lintas gender, yang dalam praktiknya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Namun, sebagian kalangan, mulai dari feminis, kritikus film, hingga pemerhati media, menilai bahwa chick flick kerap mengerdilkan posisi perempuan.
Rosalind Gill, akademisi yang banyak menulis tentang budaya media postfeminis, misalnya, mengkritik bagaimana relasi heteroseksual dalam film populer sering ditempatkan sebagai pusat kebahagiaan tokoh perempuan. Menurutnya, pola ini berisiko melanggengkan standar penampilan dan jalur karier tertentu yang seolah menjadi tolok ukur identitas perempuan secara umum.
Baca Juga: Drama Korea ‘Tempest’: Representasi Perempuan di Kancah Politik Tak Seindah di Layar Kaca
Ambil contoh film Clueless. Kehidupan Cher Horowitz, tokoh utama, yang bergelimang harta dari ayahnya yang berprofesi sebagai pengacara. Ia tinggal di rumah mewah di Beverly Hills dan tampil modis sebagai bagian dari kelas atas. Bahkan sejak adegan pembuka, ketika Cher menggunakan program komputer untuk memilih pakaian ke sekolah, film ini menampilkan representasi yang bukan hanya tidak realistis, tetapi juga memperlihatkan feminitas yang dikonstruksi oleh industri film, relasi kuasa, serta budaya konsumerisme yang mengakar.
Kehadiran Josh Lucas, yang tak lain merupakan mantan saudara tirinya, menjadi salah satu sumber kegelisahan Cher, di samping keretakan persahabatannya dengan Tai Frasier. Seolah-olah, kebahagiaan dan keutuhan diri Cher tetap diukur dari keberhasilannya dalam menjalin relasi romantis lintas gender.
Formula serupa kembali ditunjukkan dalam How to Lose a Guy in 10 Days. Andie Anderson, tokoh utama perempuan yang bekerja sebagai kolumnis majalah, memutuskan mendekati Benjamin Barry, seorang pria yang ditemuinya di sebuah klub dengan tujuan mengencaninya selama sepuluh hari. Semua itu dilakukan demi menulis pengalamannya sebagai bahan kolom di majalahnya, sekaligus memperoleh pengakuan dan validasi dari atasannya yang menginginkan topik berbeda dari biasanya.
13 Going on 30 pun menampilkan pola yang tak jauh berbeda. Jenna Rink, yang pada usia 13 tahun secara tidak sengaja berpindah ke masa depan, mendapati dirinya hidup sebagai perempuan berusia 30 tahun yang telah menjadi editor majalah fashion, sebuah karier yang ia impikan sejak kecil. Namun, ia kembali dihadapkan pada dilema klasik, yakni mempertahankan kariernya atau memilih Matt Flamhaff, sahabat masa kecil sekaligus pria yang ia cintai.
Hal serupa juga tampak dalam The Devil Wears Prada. Tokoh utamanya, Andy Sachs, harus memilih antara pekerjaannya di industri fashion, yang menuntut perubahan gaya hidup dan penampilan serta ketaatannya terhadap Miranda, atasannya yang perfeksionis di tempat kerja, atau mempertahankan hubungannya dengan sang pacar, Nate, yang merasa dirinya telah berubah dan tidak lagi mengenal Andy yang dulu.
Sementara itu, Emily in Paris mengisahkan perjalanan Emily Cooper dari Amerika Serikat ke Paris untuk urusan pekerjaan. Namun, alur ceritanya kembali berpusat pada kebimbangan yang sama, yakni kehadiran dua laki-laki yang bersaing untuk memenangkan hatinya.
Baca Juga: ‘Cinta Tak Seindah Drama Korea’: Dilema Cinta dan Persahabatan yang Saling Menguatkan
Meski film-film semacam ini lahir pada era 1990-an hingga 2000-an saat wacana feminisme yang lebih inklusif belum banyak mengemuka, popularitasnya seolah tidak lekang oleh waktu. Formula yang digunakan pun nyaris tidak berubah, di mana film-film tersebut diperankan oleh tokoh utama perempuan kulit putih dengan lingkar pertemanan sesama perempuan yang solid. Mereka meniti karier di bidang fashion, industri kreatif, atau media, serta tinggal di apartemen yang berlokasi di pusat kota New York maupun Paris.
Ada pula satu kesamaan mencolok yang terus berulang, di mana setiap tokoh perempuannya memiliki satu privilese berharga, yakni pilihan. Mereka dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari karier, pasangan, hingga keputusan untuk menerima atau menolak proses pencarian jati diri yang mereka alami. Mereka memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan mereka sendiri, akses untuk tinggal di lingkungan yang nyaman, pekerjaan bergengsi, serta sistem dukungan yang relatif stabil, baik dari keluarga maupun teman.
Lantas, bagaimana dengan perempuan-perempuan yang tidak memiliki kemewahan untuk merasa bebas dan menentukan hidupnya melalui serangkaian pilihan semacam itu?
Saat menonton film-film tersebut, mungkin yang dapat dilakukan mereka hanyalah tersenyum getir, menyadari bahwa rentetan kisah itu terasa lebih dekat dengan angan-angan daripada kenyataan. Atau bisa jadi mereka bahkan tidak akrab dengan jenis film seperti ini karena akses terhadapnya pun tidak selalu tersedia sebagai hiburan yang mudah dijangkau.
Tidak menutup kemungkinan pula bahwa pengalaman hidup mereka dalam hal berpakaian, bekerja, maupun memaknai feminitas tidak pernah benar-benar terwakili dalam narasi chick flick.
Hal ini membuat chick flick hanya sebatas menawarkan keindahan yang semu dan jauh dari hakikat perempuan di banyak belahan dunia, khususnya di negara-negara Global South seperti Afrika, Oseania, Amerika Latin, Asia, hingga Timur Tengah.
Baca Juga: Unheard Voice: Efek Budaya Patriarki yang Tidak Banyak Dibahas di Drama Kingdom
Dalam kacamata feminisme interseksional, pengalaman perempuan tidak pernah tunggal. Gender selalu berhubungan dengan kelas sosial, ras, lokasi geografis, tubuh, hingga akses ekonomi.
Persoalannya bukan karena kehidupan perempuan Global South selalu tragis, melainkan karena industri film jarang memberi mereka ruang untuk hadir sebagai tokoh utama dalam kisah yang ringan, romantis, dan penuh kemungkinan, sebagaimana yang dinikmati tokoh-tokoh chick flick.
Suara perempuan kulit hitam, perempuan difabel, perempuan kelas pekerja, maupun perempuan dengan orientasi seksual dan latar budaya yang beragam kerap terpinggirkan, seakan-akan pengalaman mereka tidak sejalan dengan nilai-nilai dominan industri Hollywood. Representasi semacam ini sering dianggap “tidak menjual” atau direduksi hanya sebatas kisah kemiskinan, penderitaan, dan trauma.
Meski tidak sepenuhnya berada dalam kategori chick flick, beberapa film dari negara Global South menunjukkan bahwa kisah perempuan marjinal juga dapat dikemas secara hangat dan relatable. English Vinglish (2012), contohnya, mengikuti perjalanan Shashi Godbole, perempuan yang diremehkan keluarganya karena tidak menguasai bahasa Inggris, namun perlahan menemukan kembali harga dirinya.
Sementara The Lunchbox (2013) menyoroti kisah Ila Singh, seorang ibu rumah tangga yang membangun kembali makna dirinya melalui relasi tak terduga lewat bekal makan siang yang salah alamat.
Film Indonesia Aruna & Lidahnya (2018) pun menghadirkan Aruna, tokoh perempuan urban yang menjalani pencarian diri melalui makanan, pekerjaan, persahabatan, dan relasi personal, tanpa menjadikan romansa sebagai satu-satunya pusat cerita.
Baca Juga: Drama Korea ‘Tempest’: Representasi Perempuan di Kancah Politik Tak Seindah di Layar Kaca
Sudah saatnya industri film memperluas narasi tentang siapa yang berhak menjadi tokoh utama dalam kisah perempuan. Walau tidak ada salahnya menikmati film chick flick garapan Hollywood sebagai hiburan, munculnya representasi yang lebih beragam bukan berarti menghapus esensi chick flick sebagai tontonan ringan, melainkan memperkaya narasinya dengan pengalaman perempuan non-kulit putih yang selama ini terpinggirkan.
Mereka berhak hadir dalam cerita yang jenaka, hangat, dan manusiawi.
Bayangkan sebuah chick flick tentang perempuan kelas pekerja yang menjadi buruh pabrik sekaligus tulang punggung keluarganya, namun tetap harus bergulat dengan konflik persahabatan dan relasi romantis yang rumit. Atau kisah seorang pegawai salon di pinggir kota yang diam-diam bermimpi menjadi penyanyi, lalu nekat mengikuti audisi dan mendadak dikenal luas oleh khalayak, sembari menghadapi gunjingan dari lingkungan tempat ia berada serta penolakan orang tuanya.
Lebih jauh, representasi yang adil tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampil di layar, tetapi juga oleh siapa yang berada di balik kamera. Keterlibatan perempuan dari latar Global South dan kelompok marjinal sebagai penulis, sutradara, dan pengambil keputusan kreatif menjadi langkah penting agar kisah yang lahir tidak sekadar inklusif secara simbolik, tetapi juga otentik secara pengalaman serta tidak semata-mata tunduk pada logika pasar.
Dengan demikian, chick flick tetap dapat menjadi hiburan yang ringan dan romantis, tanpa harus mengorbankan kompleksitas identitas serta realitas sosial perempuan yang berbeda-beda.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
(Sumber Gambar: Showpoller)




Comments are closed.