Arina.id – Kementerian Agama (Kemenag) RI menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan diambil dalam sidang Isbat berdasarkan hasil hisab di Jakarta, di mana posisi hilal pada 29 Syakban 1447 H atau 17 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk.
Ketinggian hilal tercatat berkisar minus 2 derajat 24 menit 42 detik, sementara sudut elongasi berada pada rentang 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. Kemudian tidak terdapat satu pun laporan hasil rukyat yang menyatakan hilal terlihat di wilayah Indonesia.
Umat Islam selama ini memang mengikuti kalender lunar atau siklus bulan, yang terdiri dari 12 bulan dengan durasi antara 29 dan 30 hari. Untuk menentukan awal bulan puasa Ramadan itu, bergantung pada penampakan bulan sabit atau hilal–sehingga dikenal dengan metode rukyatul hilal atau melihat penampakan bulan sabit.
Selain Indonesia, sejumlah negara lain di dunia yang memulai ibadah Ramadan pada hari Kamis dengan pertimbangan tidak bisa melihat bulan ini mulai dari Mesir, Brunei, Malaysia, Turki, Tunisia, Libya, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Yordania, Suriah, dan Oman.
Beberapa negara di luar dunia Muslim juga akan memulai pada hari Kamis, termasuk Filipina, Jepang, Singapura, Prancis, dan Australia. Kantor Ayatollah Ali Sistani, tokoh Syiah paling senior di Irak, juga mengatakan Ramadan akan dimulai pada hari Kamis.
Sementara negara yang memulai Ramadan pada hari ini, Rabu 18 Februari 2026, mulai dari Arab Saudi dan sejumlah negara mayoritas Muslim lainnya. Otoritas pemerintah Saudi mengatakan pada Selasa malam bawa bulan telah terlihat oleh tim mereka.
Negara-negara yang memulai Ramadan pada Rabu ini mulai dari UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, Yaman, Afghanistan, dan Palestina. Otoritas keagamaan Sunni di Irak dan Lebanon juga mengatakan Ramadan dimulai pada hari itu.
Adapun sejumlah negara lain yang diprediksi memulai Ramadan pada Kamis adalah Iran, Maroko, India, Bangladesh, dan Pakistan.
Melihat bulan sabit atau rkyatul hilal
Selama bertahun-tahun, Arab Saudi – rumah bagi situs-situs tersuci Islam – telah melaporkan beberapa penampakan bulan sabit pada hari-hari ketika para ilmuwan dan astronom berkukuh bahwa hal itu tidak mungkin terlihat. Otoritas Saudi belum menanggapi kritik-kritik ini.
Arab Saudi menggunakan kalender yang disebut Umm al-Qura, yang didasarkan pada perhitungan (hisab) dan menandai tanggal-tanggal penting bertahun-tahun sebelumnya. Untuk Ramadan tahun ini, kalender tersebut menandainya dengan hari Rabu, 18 Februari 2026.
Akademi Astronomi, Ilmu Ruang Angkasa dan Teknologi Sharjah (SAASST) di Universitas Sharjah Uni Emirat Arab mengatakan, secara ilmiah tidak mungkin melihat bulan sabit pada hari Selasa, 17 Februari – bahkan menggunakan teknologi baru sekalipun. SAASST sebelumnya menyatakan hari pertama Ramadan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Secara terpisah, astronom yang berbasis di Abu Dhabi, Mohammad Odeh, Direktur Pusat Astronomi Internasional di Abu Dhabi dan Proyek Pengamatan Bulan Sabit Islam, mengatakan bulan tidak akan terlihat pada hari Selasa di UEA atau Arab Saudi.
“Laporan semacam itu, jika memang terjadi, secara pasti mengkonfirmasi kesalahan yang mungkin dilakukan beberapa orang yang keliru percaya bahwa mereka telah melihat bulan sabit padahal sebenarnya tidak ada di langit,” kata Odeh.
UEA dan banyak negara mayoritas Muslim lainnya, terutama di kawasan Teluk, biasanya mengikuti Arab Saudi dalam penentuan awal dan akhir bulan. Namun terlepas dari komentar para ahli Emirat tentang ketidakmungkinan penampakan, UEA mengumumkan Ramadan akan dimulai pada hari Rabu.
Imad Ahmed, pendiri dan direktur New Crescent Society, sebuah perkumpulan astronomi yang mengkhususkan diri dalam kalender Islam di Inggris, menjalankan program astronomi bersama Royal Observatory di Greenwich.
“Pada hari Selasa, 17 Februari 2026, bulan sabit secara astronomis tidak mungkin terlihat, baik dengan teleskop berkekuatan tinggi maupun dengan mata telanjang di mana pun di Timur Tengah – bahkan, di seluruh Asia, Afrika, atau Eropa,” katanya kepada Middle East Eye (MeE) pekan lalu .
Kantor Almanak Nautika Yang Mulia di Inggris, sebuah badan pemerintah yang menghasilkan data astronomi, mengatakan bulan tidak akan terlihat di Arab Saudi pada hari Selasa.
Namun di negara-negara tanpa badan resmi penentu awal bulan, seperti Inggris, banyak umat Muslim juga mengikuti jejak Arab Saudi, meskipun beberapa ulama di kerajaan Teluk tersebut telah mendesak orang-orang di tempat lain untuk tidak melakukannya.




Comments are closed.