Arina.id – Bulan suci Ramadhan kerap dimanfaatkan oleh umat Islam sebagai momentum untuk memperbanyak amal dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan, sebab Ramadhan dikenal sebagai bulan yang sarat dengan nilai rahmat, ampunan, dan keberkahan. Di samping itu, ibadah puasa yang dijalankan selama sebulan penuh juga menyimpan beragam manfaat besar, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun kesehatan.
Salah satu ulama kontemporer yang menjelaskan hikmah-hikmah puasa secara mendalam adalah Syekh Prof. Dr. Wahbah bin Musthofa Az-Zuhaili (wafat 1436 H). Beliau dikenal sebagai ulama produktif dengan tafsir monumentalnya yang berjudul: At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj.
Dalam tafsir tersebut, Az-Zuhaili menguraikan sejumlah faedah puasa dari sudut pandang teologi, hukum, maupun kehidupan sosial. Berikut 6 faedah puasa Ramadhan menurut penjelasan beliau:
1. Menumbuhkan Rasa Takut Kepada Allah dalam Setiap Keadaan
Puasa Ramadhan melatih jiwa agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah, baik dalam kondisi tersembunyi maupun terang-terangan. Orang yang berpuasa tidak memiliki pengawas selain Tuhannya. Tatkala ia menahan rasa lapar, haus, dan berbagai godaan lainnya sebab dorongan iman, maka saat itulah ia sedang menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Allah.
Kesadaran batin seperti ini membuatnya mudah kembali bertobat apabila terlintas godaan, serta menjadikan puasanya sebagai ibadah yang ikhlas, hanya karena mengharap pahala dari-Nya:
الأَوَّلُ: يُرَبِّي فِي النَّفْسِ الْخَشْيَةَ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ؛ إِذْ لَا رَقِيبَ عَلَى الصَّائِمِ إِلَّا رَبُّهُ، فَإِذَا شَعَرَ بِالْجُوعِ أَوْ بِالْعَطَشِ الشَّدِيدِ، وَشَمَّ رَائِحَةَ الطَّعَامِ الشَّهِيِّ، أَوْ تَرَقْرَقَ فِي نَاظِرَيْهِ بُرُودَةُ الْمَاءِ وَعُذُوبَتُهُ، وَأَحْجَمَ عَنْ تَنَاوُلِ الْمُفْطِرِ، بِدَافِعِ إِيمَانِهِ وَخَشْيَةِ رَبِّهِ، حَقَّقَ مَعْنَى الْخَوْفِ مِنَ اللَّهِ .وَإِذَا ازْيَّنَتِ الشَّهَوَاتُ لَهُ، وَتَرَفَّعَ عَنْهَا خَوْفًا مِنِ انْتِهَاكِ حُرْمَةِ الصَّوْمِ، فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ، وَرَاقَبَ رَبَّهُ .وَإِذَا اسْتَبَدَّتِ الْأَهْوَاءُ بِالنَّفْسِ، كَانَ سَرِيعَ التَّذَكُّرِ، قَرِيبَ الرُّجُوعِ بِالتَّوْبَةِ الصَّحِيحَةِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ .وَمِنْ أَعْظَمِ فَوَائِدِ الصَّوْمِ الرُّوحِيَّةِ: أَنَّ الصَّائِمَ يَحْتَسِبُ الْأَجْرَ وَالثَّوَابَ عِنْدَ اللَّهِ، وَيَصُومُ لِوَجْهِ اللَّهِ وَحْدَهُ
Artinya: “Pertama, puasa dapat mendidik jiwa untuk takut kepada Allah Ta’ala, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Sebab, tidak ada pengawas bagi orang yang berpuasa selain Tuhannya. Ketika ia merasakan lapar atau haus yang sangat, mencium aroma makanan yang lezat, atau melihat kejernihan dan kesegaran air, lalu ia menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa karena dorongan imannya dan rasa takut kepada Tuhannya, maka ia telah mewujudkan makna takut kepada Allah. Apabila berbagai syahwat dihiasi baginya, namun ia meninggalkannya karena khawatir melanggar kesucian puasa, berarti ia telah merasa malu kepada Allah dan senantiasa mengawasi Tuhannya. Jika hawa nafsu menguasai dirinya, ia akan segera ingat dan cepat kembali dengan tobat yang benar, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka diganggu oleh bisikan setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka menjadi sadar. Di antara manfaat rohani terbesar dari puasa adalah bahwa orang yang berpuasa mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah, serta berpuasa semata-mata karena Allah saja.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 130)
2. Meredam Syahwat Dan Menenangkan Jiwa
Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili, puasa Ramadhan mampu menahan gejolak hawa nafsu dan mengembalikan jiwa kepada keseimbangan. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW yang menganjurkan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, lantaran puasa berfungsi sebagai pengekang syahwat.
Dalam hadits lain, puasa disebut sebagai perisai yang melindungi seseorang dari perbuatan maksiat. Sehingga, puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga kehormatan diri seseorang:
الثَّانِي: يَكْسِرُ حِدَّةَ الشَّهْوَةِ، وَيُخَفِّفُ مِنْ تَأْثِيرِهَا وَسُلْطَانِهَا، فَيَعُودُ إِلَى الِاعْتِدَالِ وَهُدُوءِ الْمِزَاجِ، كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاصِفًا الصَّوْمَ لِمَنْ يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ الزَّوَاجُ، فِيمَا رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ، أَيْ بِمَثَابَةِ الْخِصَاءِ مُضْعِفٌ لِلشَّهْوَةِ .وَقَالَ أَيْضًا فِيمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ عَنْ مُعَاذٍ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، أَيْ وِقَايَةٌ مِنَ الْمَعَاصِي
Artinya: “Kedua, puasa mematahkan tajamnya syahwat, serta mengurangi pengaruh dan kekuasaannya, sehingga jiwa kembali kepada keseimbangan dan ketenangan. Sebagaimana sabda Nabi SAW tentang puasa bagi orang yang belum mampu menikah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah dari Ibn Mas’ud: Barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi pengekang baginya, yakni seperti pengebirian yang melemahkan syahwat. Beliau juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Mu’adz: Puasa itu adalah perisai, yaitu perlindungan dari perbuatan maksiat.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 131)
3. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Dan Semangat Berbagi
Rasa lapar yang dialami saat berpuasa membuat seseorang merasakan keadaan orang-orang yang kekurangan. Dari sinilah kemudian tumbuh kepekaan hati, rasa kasih sayang, dan dorongan untuk membantu sesama. Puasa Ramadhan juga dapat menghidupkan empati, sehingga seseorang terdorong untuk bersedekah dan meringankan beban orang lain.
Sikap saling berkasih sayang antar sesama inilah yang menjadi ciri orang-orang beriman:
الثَالِثُ: يَسْتَدْعِي الْإِحْسَاسَ الْمُرْهَفَ وَالشَّفَقَةَ وَالرَّحْمَةَ الَّتِي تَدْعُوهُ إِلَى الْبَذْلِ وَالْعَطَاءِ؛ فَهُوَ عِنْدَمَا يَجُوعُ يَتَذَكَّرُ مَنْ لَا يَجِدُ قُوتًا مِنَ الْبَائِسِينَ، فَيَحْمِلُهُ الصِّيَامُ عَلَى مُوَاسَاتِهِمْ، وَهَذَا مِنْ أَوْصَافِ الْمُؤْمِنِينَ الَّتِي ذَكَرَهَا اللَّهُ: رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Artinya: “Ketiga, puasa menumbuhkan kepekaan perasaan, kasih sayang, dan belas kasih yang mendorong seseorang untuk berderma dan memberi. Tatkala seseorang merasakan lapar, ia akan teringat kepada orang-orang yang tidak mendapatkan makanan dari kalangan yang sengsara, sehingga puasa mendorongnya untuk membantu dan menghibur mereka. Hal ini termasuk sifat orang-orang beriman yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: berkasih sayang sesama mereka.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 131)
4. Meneguhkan Makna Kesetaraan
Puasa Ramadhan berfaedah menghadirkan rasa persamaan di antara manusia. Baik orang kaya maupun orang miskin, kalangan terpandang atau masyarakat biasa, semuanya menjalankan kewajiban yang sama yakni menahan rasa lapar dan haus sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Ibadah ini menghapus sekat-sekat sosial dan menumbuhkan kesadaran bahwa semua manusia sama di hadapan Allah dalam segi ketaatan:
الرَابِعُ: فِيهِ تَحْقِيقُ مَعْنَى الْمُسَاوَاةِ بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ وَالْفُقَرَاءِ، وَالْأَشْرَافِ وَالْعَامَّةِ، فِي أَدَاءِ فَرِيضَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهَذَا مِنْ فَوَائِدِ الصِّيَامِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ، كَالْحَالَةِ السَّابِقَةِ
Artinya: “Keempat, puasa mewujudkan makna persamaan antara orang kaya dan orang miskin, antara kalangan terhormat dan masyarakat umum, dalam menunaikan satu kewajiban yang sama. Hal ini termasuk manfaat sosial dari puasa, sebagaimana pada keadaan sebelumnya.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 131)
5. Melatih Hidup Teratur Serta Mengendalikan Diri
Faedah selanjutnya dari puasa Ramadhan, ialah membiasakan seseorang hidup disiplin, mulai dari waktu sahur hingga berbuka yang terikat dengan ketentuan syariat. Pola hidup yang teratur semacam ini melatih kemampuan untuk mengendalikan keinginan dan menumbuhkan sikap sederhana.
Apabila adab-adab puasa dijalankan dengan baik, seseorang akan terbiasa hidup hemat dan tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya:
الْخَامِسُ: يُعَوِّدُ عَلَى النِّظَامِ فِي الْمَعِيشَةِ، وَضَبْطِ الْإِرَادَةِ فِيمَا بَيْنَ فَتْرَتَيِ السَّحُورِ وَالْإِفْطَارِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ، وَيُحَقِّقُ الْوَفْرَ وَالِاقْتِصَادَ إِذَا الْتُزِمَتْ آدَابُ الصِّيَامِ
Artinya: “Kelima, puasa membiasakan hidup teratur, serta melatih pengendalian kehendak antara waktu sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan. Puasa juga mewujudkan penghematan dan sikap hidup sederhana apabila adab-adab puasa dijalankan dengan baik.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 131)
6. Menyehatkan Tubuh Dan Menguatkan Daya Ingat
Dari sisi kesehatan, puasa Ramadhan berfaedah memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan memperbarui kondisinya. Puasa juga membantu proses detoks tubuh untuk membuang sisa-sisa zat berbahaya, memperkuat kesehatan, serta meningkatkan daya ingat, terutama ketika seseorang mampu mengatur pola makan dan aktivitasnya dengan baik.
Manfaat demikian biasanya mulai terasa setelah beberapa hari pertama, ketika tubuh telah beradaptasi dengan ritme puasa:
السَادِسُ: يُجَدِّدُ الْبِنْيَةَ، وَيُقَوِّي الصِّحَّةَ، وَيُخَلِّصُ الْجَسَدَ مِنَ الرَّوَاسِبِ وَالتَّخَمُّرَاتِ الضَّارَّةِ، وَيُرِيحُ الْأَعْضَاءَ، وَيُقَوِّي الذَّاكِرَةَ إِذَا حَزَمَ الْإِنْسَانُ أَمْرَهُ، وَتَفَرَّغَ لِعَمَلِهِ الذِّهْنِيِّ دُونَ أَنْ يَشْغَلَ نَفْسَهُ بِتَذَكُّرِ الْمُتَعِ الْجَسَدِيَّةِ .وَيَجْمَعُ ذَلِكَ كُلَّهُ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الطِّبِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: صُومُوا تَصِحُّوا .وَهَذَا يَكُونُ بَعْدَ الْأَيَّامِ الثَّلَاثَةِ أَوِ الْأَرْبَعَةِ الْأُولَى عَادَةً، بَعْدَ أَنْ يَتَعَوَّدَ الْإِنْسَانُ عَلَى الصَّوْمِ، وَيَسْتَعْلِيَ عَلَى حَالَاتِ الِاسْتِرْخَاءِ فِي الْفَتْرَةِ الْأُولَى مِنْ بَدْءِ الصِّيَامِ
Artinya: “Keenam, puasa memperbarui kondisi tubuh, memperkuat kesehatan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan zat-zat yang berbahaya, memberi istirahat pada organ-organ, serta menguatkan daya ingat apabila seseorang bersungguh-sungguh mengatur dirinya dan fokus pada pekerjaan mentalnya tanpa disibukkan oleh keinginan terhadap kenikmatan jasmani. Semua itu tercakup dalam sabda Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb dari Abu Hurairah: Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat. Hal ini biasanya terjadi setelah tiga atau empat hari pertama, ketika seseorang telah terbiasa berpuasa dan mampu mengatasi keadaan lemah yang muncul pada masa awal permulaan puasa.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 132)
Syekh Wahbah juga menegaskan bahwa seluruh manfaat spiritual, sosial, dan kesehatan dari puasa Ramadhan ini sangat bergantung pada sikap seimbang dalam makan saat sahur dan berbuka. Jika seseorang berlebihan dalam makan, maka tujuan puasa justru dapat berbalik menjadi kesulitan dan mudarat:
وَكُلُّ هَذِهِ الْفَوَائِدِ الْجَسَدِيَّةِ وَالرُّوحِيَّةِ وَالصِّحِّيَّةِ وَالِاجْتِمَاعِيَّةِ مَشْرُوطَةٌ بِالِاعْتِدَالِ فِي تَنَاوُلِ وَجَبَاتِ الْإِفْطَارِ وَالسُّحُورِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ الْحَالُ عَكْسِيًّا، وَانْقَلَبَ الْأَمْرُ وَبَالًا وَعَنَاءً وَضَرَرًا، إِذَا أَتْخَمَ الْإِنْسَانُ مَعِدَتَهُ، وَلَمْ يَعْتَدِلْ فِي طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ
Artinya: “Semua manfaat jasmani, rohani, kesehatan, dan sosial ini bergantung pada sikap sederhana dan seimbang dalam makan saat berbuka dan sahur. Jika tidak, keadaan justru akan berbalik, dan puasa dapat berubah menjadi kesulitan, kelelahan, serta membawa mudarat apabila seseorang memenuhi perutnya secara berlebihan dan tidak bersikap tengah-tengah dalam makan dan minum.” (At-Tafsir Al-Munir [Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir], vol. 2, h. 132)
Demikianlah 6 faedah puasa Ramadhan menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya At-Tafsir Al-Munir. Puasa bukan hanya ibadah ritual semata, melainkan sarana pendidikan jiwa, pembentuk kepedulian sosial, serta jalan menuju kesehatan lahir dan batin. Dengan memahami sejumlah faedah puasa, seorang Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan lebih giat, ikhlas, dan penuh makna. Wallahu a’lam bish shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.




Comments are closed.