Tue,5 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Menguak Makna “Ramadhan Hijau” yang Digaungkan Masjid Istiqlal, Ada Ajakan untuk Mencintai Alam

Menguak Makna “Ramadhan Hijau” yang Digaungkan Masjid Istiqlal, Ada Ajakan untuk Mencintai Alam

menguak-makna-“ramadhan-hijau”-yang-digaungkan-masjid-istiqlal,-ada-ajakan-untuk-mencintai-alam
Menguak Makna “Ramadhan Hijau” yang Digaungkan Masjid Istiqlal, Ada Ajakan untuk Mencintai Alam
service

20 Februari 2026 23.29 WIB • 2 menit

Menguak Makna “Ramadhan Hijau” yang Digaungkan Masjid Istiqlal, Ada Ajakan untuk Mencintai Alam


Masjid Istiqlal mengusung “Ramadhan Hijau” sebagai tema dalam penyambutan bulan Ramadan 1447 H ini. Apa maknanya?

Ternyata “Ramadhan Hijau” punya makna berupa dua semangat yang ingin digaungkan Masjid Istiqlal pada bulan Ramadan tahun ini. Adapun dua semangat tersebut adalah beragama dengan lembut serta cinta terhadap alam.

Tentu bukan tanpa dasar Masjid Istiqlal mengusung tema seperti demikian tahun ini. Tema tersebut ternyata sengaja dipilih agar selaras dengan Kementerian Agama yang saat ini sedang gencar memperkenalkan apa-apa yang disebut dengan ekoteologi.

Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa ekoteologi adalah konsep mengenai kesadaran bahwa Tuhan adalah entitas yang sifat feminin dan nurture-nya lebih menonjol ketimbang sifat maskulinnya.

Nurture itu apa? Lembut, mendidik, mengasuh, membina. Bukan sebagai Tuhan maha pendendam, mahakeras dan mahajantan,” ujar Nasaruddin kepada awak media di Masjid Istiqlal pada Rabu (18/2/2026).

Menurut Nasaruddin, menonjolnya sifat feminin ini sebetulnya tidak hanya melekat pada Tuhan. Nabi dan kitab suci umat Islam yakni Al-Qur’an pun demikian.

“Nabinya pun lebih menonjol sebagai jamaliyah, feminine prophet. Kitab sucinya pun menonjol sebagai kitab feminin, kitab kelembutan,” lanjutnya.

Nasaruddin tak menampik bahwa menonjolnya sifat feminin tersebut ternyata belum tampak pada umat Islam dewasa ini. Ia menekankan bahwa agama sejatinya bertujuan untuk melembutkan dan mencerahkan. Akan tetapi, nyatanya masyarakat justru lebih identik dengan apa yang disebut dengan teologi formalitas yang lebih mendekat ke aspek teologi yang bersifat menaklukkan dan heroik.

Oleh karena itu, lewat tema “Ramadan Hijau” Masjid Istiqlal mengajak masyarakat untuk bersama-sama bersikap lembut dengan cinta. Lebih khususnya lagi, cinta terhadap alam. Ini terlebih karena masjid itu sendiri sudah semestinya melembutkan hati, jiwa, dan pikiran seseorang.

“Nah, ini kita akan kembalikan fungsi agama yang sesungguhnya, bagaimana mengajak masyarakat mencintai alam semesta karena kita tidak bisa menjadi hamba tanpa alam yang sehat. Tidak mungkin menjadi khalifah yang baik tanpa alam yang sehat juga,” lanjut Nasaruddin.

Mencintai alam dianggap sebagai hal yang perlu didorong pada masa kini saat bencana seperti banjir dan longsor kerap terjadi sebagai dampak dari perilaku manusia yang kerap merusak alam. Nasaruddin menekankan bahwa sebagaimana manusia, alam juga punya hak yang harus dihargai.

“Cara untuk menyelesaikan persoalan-persoalan fundamental ini kita harus lebih banyak kembali bagaimana kita bersahabat dengan alam. Jangan hanya menganggap alam sebuah objek tetapi partner untuk hidup bersama yang saling menguntungkan dan saling menguatkan satu sama lain,” tuturnya.

Perlu diketahui juga, meski temanya baru, Masjid Istiqlal tetap mempertahankan satu tradisi yang jadi ciri khasnya setiap Ramadan, yakni mengkhatamkan Al-Qur’an sambil salat tarawih.

Masjid Istiqlal menyelenggarakan salat tarawih dengan bacaan satu juz Al-Qur’an setiap malamnya. Dengan mengikuti salat tarawih berjamaah di sana hingga malam terakhir Ramadan, masyarakat dapat mengkhatamkan Al-Qur’an.

“Tradisi kita di Masjid Istiqlal ini tarawihnya membaca 30 juz sampai akhir Ramadan. Tapi begini, dalam satu halaman itu dibagi tiga jadi tidak terlalu lama berdiri,” pungkas Nasaruddin.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.