Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Hendri Satrio Berharap Pejabat Indonesia Sadar Meritokrasi: Yang Susah Nanti Rakyat!

Hendri Satrio Berharap Pejabat Indonesia Sadar Meritokrasi: Yang Susah Nanti Rakyat!

hendri-satrio-berharap-pejabat-indonesia-sadar-meritokrasi:-yang-susah-nanti-rakyat!
Hendri Satrio Berharap Pejabat Indonesia Sadar Meritokrasi: Yang Susah Nanti Rakyat!
service

2 Maret 2026 21.00 WIB • 2 menit

Hendri Satrio Berharap Pejabat Indonesia Sadar Meritokrasi: Yang Susah Nanti Rakyat!


Hendri Satrio (Hensat) adalah pengamat politik terkemuka. Ia dikenal sering memberikan pandangan kritis mengenai dinamika partai politik, oposisi, dan kebijakan pemerintahan di berbagai media massa.

Meski sering terlihat di layar televisi atau podcast ternama, Hendri Satrio tetap menjaga akarnya sebagai seorang pendidik. Sebagai dosen di Universitas Paramadina, ia menularkan ilmu komunikasi politik kepada generasi penerus.

Nama Hendri Satrio terkenal pula lewat KedaiKOPI yang didirikannya pada 2014. Lembaga ini menyajikan diskusi hingga survei terkait isu-isu politik yang terjadi di Indonesia. Menariknya, nama lembaga tersebut pernah diremehkan akibat tidak mencerminkan keseriusan memperbincangkan politik.

Dirikan KedaiKOPI

Kesadaran Hendri Satrio mendirikan KedaiKOPI terdorong dari keinginannya membuka bisnis. Setelah mendapat pencerahan dari teman-teman yang sesama pengamat politik maka didirikanlah lembaga tersebut.

Nama KedaiKOPI kesannya lebih dekat dengan dunia kuliner lalu diambilnya. Menteri Keuangan kala itu, Bambang Bojonegoro bahkan sampai bertanya-tanya mengapa nama itu dipakai.

Hendri pun menjelaskan bahwa nama itu memiliki filosofi di mana masyarakat gemar membicarakan ngalor-ngidul soal politik kala senggang menyeruput kopi di kedai-kedai kopi. Walaupun namanya memang terkesan tidak terlalu canggih untuk kelompok diskusi yang mengedepankan metodologi ilmiah, ia tetap memilih nama itu yang merupakan akronim dari Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia

“Karena perbincangan santai penting, no hard feeling, itu cuma terjadi di kedai kopi. Akhirnya gua panjangin Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia,” ucap Hendri kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Rupanya nama yang dipilihnya tersebut memancing protes dan pandangan remeh dari sejumlah kalangan. Namun, Hendri tetap percaya dengan nama KedaiKOPI keseriusan membahas isu publik dan politik akan terus konsisten diangkat olehnya.

“Diremehin, tapi kan akhirnya mereka ngelihat seorang Hendri Satrio bahwa Hendri Satrio itu serius kemudian memberikan masukan kritis dengan rasionalitas yang mumpuni,” ucap pemilik sapaan Hensat itu.

Meritokrasi

Sudah menjadi bukan rahasia lagi bahwa meritokrasi terpinggirkan di pemerintahan Indonesia. Salah satu faktor yang paling sering muncul untuk mengaburkan sistem itu ialah adanya politik bagi-bagi jabatan ketika presiden membangun susunan kabinet. Hasilnya, banyak dari menteri menduduki jabatan yang bukan di bidangnya sehingga kinerja menjadi kurang atau bahkan tidak optimal dan berdampak buruk bagi rakyat.

Sebagai pengamat politik, Hendri Satrio sadar pentingnya meritokrasi di dalam pemerintahan supaya bikrokrasi bisa tercipta secara profesional. Sayangnya, ia melihat kesadaran semacam itu tidak dimiliki kalangan yang ditunjuk sebagai pejabat.

“Ini penting buat pejabat di sini. Kalau lo emang enggak bisa, jangan lo terima tuh kerjaan itu. Buat pejabat meritokrasi. Ngadiem misalnya, kalau lo emang enggak bisa jadi Menteri Pendidikan ya jangan lo ambil. Atau misalnya siapalah kalau lo emang enggak bisa jadi Menteri Kehutanan, jangan lo ambil, yang susah tuh rakyat!” ucap Hendri.

Hendri tentu berharap kepada semuanya agar lebih memahami perannya masing-masing dalam hidup. Dengan memahami peran dan bekerja sesuai bidangnya, ia berharap pekerjaan dan hasil nyata kelak bisa terlihat.

“Setiap orang punya perannya sendiri-sendiri, saya juga punya peran sendiri. Ya, harus hormati peran,” ucapnya lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.