Puluhan nelayan dari berbagai desa di pesisir Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mendatangi kawasan PT Bintan Alumina Industri (BAI), Selasa (21/4/26). Kedatangan mereka untuk menolak rencana perluasan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang (KEK-GB). Dari atas perahu, nelayan bentangkan spanduk bertuliskan protes. “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Laut dan Darat Bintan untuk Nelayan dan Masyarakat.” “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Ruang Hidup Rakyat.” Para nelayan khawatir dampak buruk PLTU BAI dan menyebut sebagai ancaman bagi masa depan. “Kami berharap aspirasi ini dapat sampai kepada Presiden Prabowo,” kata Musthofa Bisri, warga Desa Kalong, usai aksi. Dia bilang, kehadiran kawasan industri di Bintan berdampak luas pada lingkungan dan nelayan pesisir, apalagi terus memperluas cakupan hingga ke Pulau Poto. Sebagai pulau kecil, kata Bisri, Pototak layak menanggung beban sebagai kawasan industri. Selama ini, warga tak mendapat informasi apapun terkait rencana pembangunan kawasan industri di pulau itu. “Kami sering disebut sudah terlibat dalam proses perancangan Amdal, tetapi nyatanya tidak ada. Kami tidak tahu persis informasi terkait pembangunan Pulau Poto,” katanya. Pemandangan di kampung nelayan Pulau Poto, Kepulauan Riau. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. Bisri mengaku, telah berulang kali sampaikan protes. Namun, sampai kini tak mendapat tanggapan berarti. Santoni, Direktur Utama BAI yang pengelola PSN KEK-GB menyebut aksi warga sebagai hal biasa. Dia menduga, itu terjadi karena mereka belum mendapat informasi utuh terkait proyek itu. “Jika mereka sudah memahami kajian yang kami miliki, tentu akan berbeda. Kami tidak mungkin merusak mata pencaharian nelayan, karena itu juga menjadi perhatian kami,” katanya saat Mongabay konfirmasi, Rabu (22/4/26). Aksi serupa…This article was originally published on Mongabay
Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus
Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus





Comments are closed.