Aishah Prastowo: Lulusan Oxford Jadi Guru SMA, di Jogja Pula
“Karena lagi rame soal kontribusi alumni LPDP, saya ingin ikut share kontribusi saya yang random. Saya alumni LPDP angkatan dinosaurus (PK-6), S3 Engineering Science di Oxford. Dulu waktu bikin esai/interview bilangnya mau jadi peneliti. Sepuluh tahun berlalu dan saya jadi… guru SMA.”
Pilihan Aishah jadi guru dinilai tak lazim. Lulusan doktor dari University of Oxford seharusnya bisa bekerja di tempat prestisius atau bahkan di luar negeri. Aishah malah memilih menjadi guru SMA.
Meski demikian, posisi Aishah di sekolah bukan guru biasa. Ia memimpin Praxis High School, sekolah alternatif berbasis STEAM di Sleman, Yogyakarta.
STEAM adalah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan lima bidang utama: Science (Sains/Ilmu Pengetahuan Alam), Technology (Teknologi), Engineering (Rekayasa/Teknik), Art (Seni & kreativitas), dan Mathematics (Matematika).
Awalnya dikenal sebagai STEM (tanpa huruf A). Huruf A (Art) kemudian ditambahkan untuk menekankan pentingnya kreativitas, desain, dan kemampuan berpikir kritis.
Aishah Tumbuh dari Keluarga Akademik
Aishah tumbuh di keluarga akademik. Ayahnya seorang dosen Fisika di UGM, sedangkan ibunya lulusan Kimia dari kampus yang sama.
Saat jadi mahasiswa, Aishah mengikuti jejak ayahnya. Aishah masuk S1 Teknik Fisika UGM pada usia 16 tahun, usia yang bagi banyak orang masih kelas 2 SMA. Bahkan, saat SMP, ia sudah meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional 2004 di Pekanbaru.
Lulus dari S1, Aishah mengambil S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Université Paris Descartes dengan beasiswa Pemerintah Prancis. Interdisciplinary Approach to Life Science adalah program magister yang mempelajari ilmu kehidupan (life sciences) dengan pendekatan lintas disiplin.
Di sana Aishah belajar biologi dari berbagai sudut pandang, mulai dari komputasi, pemrograman, hingga mekanika sel dari sisi fisika.
Selama S2, ada kewajiban magang riset sekitar tiga sampai empat bulan. Tapi Aishah tidak puas dengan jenjang master karena ia merasa durasi tersebut belum cukup untuk benar-benar menyelami penelitian.
“Karena saya merasa penelitian itu kalau cuma misalnya tiga bulan itu kayak baru nyiapin aja ya, belum benar-benar masuk ke dunia penelitian. Jadi saya memang waktu S2 itu langsung mencari untuk lanjut S3-nya seperti itu,” katanya.
Pada 2014, ia resmi melanjutkan pendidikan dan jadi mahasiswa doktoral di Oxford melalui beasiswa LPDP.
Pandemi dan Titik Balik Karier
Aishah lulus dari Oxford pada 2019. Ia lantas memutuskan menikah.
Usai menikah dan memiliki momongan, Aishah sempat menjadi tim peneliti dosen. Akan tetapi, pandemi saat itu mengubah hidup banyak orang, termasuk Aishah.
Ia pun lantas mulai membuka kelas academic writing, mengajar riset untuk penerima Beasiswa Indonesia Maju, mendampingi siswa LKTI dan OPSI, serta menjadi konsultan studi luar negeri.
“Sebenarnya saya terjun ke dunia pendidikan bisa dibilang tidak sengaja. Karena waktu itu ada pandemi, terus peluang yang besar saat itu menjadi pengajar secara online… Jadi ketika merefleksikan pengalaman tersebut ternyata saya tetap mencintai dunia penelitian, tetapi love language-nya sekarang berbeda saja,” terangnya.
Mendirikan Sekolah di Tengah Sawah
Kemampuan mengajar Aishah tidak berhenti setelah pandemi dinyatakan selesai. Ia justru makin melebarkan sayap.
Aishah mendirikan sekolah Praxis High School. Praxis High School berdiri 2024 di Bimomartani, Sleman. Awalnya adalah Praxis Academy, semacam IT bootcamp.
“Praxis High School sendiri adalah sekolah setingkat SMA. Sebelumnya kami adalah Praxis Academy, itu semacam IT bootcamp. Jadi visinya itu memang menjembatani antara lulusan kuliah atau dunia akademik dengan dunia kerja,” katanya.
Transformasi dari bootcamp menjadi sekolah formal tidak mengubah arah besarnya. Praxis tetap ingin menjembatani pendidikan dengan dunia kerja. Siswa tidak hanya dikuatkan secara akademik, tetapi juga disiapkan agar siap masuk ke ranah profesional sejak dini.
Kurikulum dasarnya mengacu pada Kurikulum Merdeka. Namun pembelajaran diperkaya dengan riset, inovasi, dasar-dasar bisnis, serta penguatan soft skills seperti komunikasi, kolaborasi, dan problem solving. Di ruang kelas, teori dan praktik berjalan berdampingan.
Di Praxis, STEAM menjadi pendekatan utama sekolah itu.
“Kemarin mengacu pada penelitian bahwa di masa depan ini nanti dunia kerja akan dipengaruhi banyak hal, terutama otomasi seperti robotika dan AI, itu akan banyak menutup lapangan kerja yang sekarang sudah ada. Namun, hal itu juga membuka banyak lapangan kerja baru,” jelasnya
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.