
Sepertiga Ramadhan sudah kita lalui.
Ambooi… Betapa cepat waktu berlalu. Kalo orang Londo bilang time’s flying. Pelajaran apa yang kita dapat dari puasa kita, dari tadarus, dan dari shalat malam kita. Apakah kita berproses positif atau sebaliknya?
Mari kita rileks sejenak, rerasan tentang apa yang sudah kita jalani, apa yang sedang kita jalani dan nanti bagaimana ke depannya.
Banyak orang memahami puasa Ramadhan sebagai kewajiban menahan lapar dan haus mulai Subuh sampai Maghrib. Kebanyakan di antara mereka hanya menggeser waktu makan. Bukan sekadar menggeser waktu makan, tetapi menambah volume makan, menambah kalori dan menambah pengeluaran keuangan selama bulan Ramadhan ini.
Bahkan yang lebih membuat mengelus dada adalah berat badan mereka justru akan meningkat di akhir Ramadhan nanti. Astaghfirullah! Apakah kita termasuk ke dalam golongan ini ?
Sebagian lagi melihat puasa Ramadhan sebagai momen spiritual tahunan, atau bahkan sekadar tradisi sosial. Nah,.ini yang harus kita garis bawahi. Momen tahunan yang akan perlahan menghilang seiring berlalunya bulan Ramadhan? Atau sekadar bagian dari tradisi sosial yang akan dipuncaki dengan momentum mudik? Itukah kita?
Mari kita coba mengulik dan membedah apa yang terjadi dengan tubuh kita sehubungan dengan puasa Ramadhan ini. Barangkali kita bisa menemukan adanya lapisan rahasia dari puasa yang sering luput kita sadari. Bukan karena tersembunyi, tetapi karena terlalu dekat dengan kita.
Gajah di pelupuk mata tak kan tampak!
Puasa bukan sekadar ritual. Ia adalah rekayasa Ilahi terhadap struktur manusia. Diri manusia yang terdiri dari jiwa dan raga, jasmani dan ruhani. Sosok biologis dan nyawanya. Masuk dalam target rekayasa ilahiyah selama bulan Ramadhan ini.
Apa saja rekayasa Ilahi itu?
Puasa mengubah relasi kita dengan tubuh. Banyak relasi yang terjadi antara kita dengan tubuh kita. Antara keinginan dengan tubuh kita. Biasanya kita hidup dalam ritme otomatis. Kalau kita lapar, ya makan. Kalau kita lelah ya istirahat, dan kalau kita ingin sesuatu ya tinggal perintahkan tubuh untuk mengambil atau mengerjakan keinginan kita. Tubuh menjadi pusat keputusan.
Puasa Ramadhan membalik struktur itu.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, manusia berkata kepada tubuhnya: “Tidak sekarang.”.
Ini bukan sekadar masalah menahan makan. Ini bukan masalah minum, tetapi reposisi kekuasaan. Nafsu tidak lagi menjadi pengendali utama. Nafsu tunduk pada aturan-aturan ilahiyah dan bisa mengatakan ‘tidak sekarang’ kepada wadag manusia
Dalam filsafat Islam, ini disebut tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa melalui penataan ulang dorongan dasar.
Puasa mengajarkan bahwa kita memiliki tubuh, tetapi bukan budak tubuh.
Apalagi yang bisa kita ambil hikmah dari puasa yang kita lakukan? Tidak usah kita memikirkan pahala apa yang akan kita dapatkan di akhirat nanti. Pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Tinggal kita melakukan puasa ini dengan benar, dengan ikhlas dan konsisten.
Rahasia besar Ramadhan adalah konsistensi.
Banyak orang bisa menahan lapar satu hari. Dari pagi sampai petang. Juga menahan haus.
Tetapi, menahan lapar selama sebulan (29–30 hari), pada jam yang sama, dengan struktur yang sama itu membentuk pola neurologis dan psikologis yang dalam. Secara tak sadar kita sedang membentuk suatu cetakan dalam diri kita yang menjadi panduan untuk kehidupan sebelas bulan ke depan sesudah Ramadhan. Agar kebiasaan-kebiasan yang baik dan berpola tersebut bisa kita jalani dengan baik. Syukur lebih baik.
Ada yang menyebutnya dengan habit reconditioning. Dalam Islam, kita menyebutnya dengan istilah taqwa.
Puasa mengukir ulang pola impuls dalam otak. Pola yang dibentuk dengan menyaring apa yang baik yang harus dikerjakan, serta membuang kotoran sampah yang mengganggu aliran cahaya ilahi yang menuntun kita. Pola impuls dalam otak tersebut adalah proses dari reaktif menjadi reflektif, dari impulsif menjadi sadar, dari instingtif menjadi terarah.
Apa maksudnya?
Respons reaktif adalah respons cepat dan otomatis terhadap stimulus. Ketika seseorang merasa lapar lalu langsung makan, atau merasa marah lalu langsung bereaksi membalas, ini adalah contoh perilaku reaktif.
Secara neurologis, respons ini banyak melibatkan sistem limbik (otak emosi: sistem dalam otak yang mengurusi emosi, motivasi, memori, lapar, takut, marah, hasrat dan respons terhadap stres), terutama amigdala dan hipotalamus. Sistem ini menghasilkan respons cepat untuk menjaga kelangsungan hidup.
Respons ini bersifat bottom-up, artinya dorongan emosional langsung mendorong tindakan tanpa evaluasi panjang dari sistem kognitif tingkat tinggi. Perilaku impulsif sering dikaitkan dengan sistem reward dopaminergik (sistem di otak yang menggunakan neurotransmitter dopamin untuk memproses: rasa senang dan motivasi.
Melihat makanan memicu pelepasan dopamin yang mendorong tindakan cepat. Puasa menciptakan jeda antara dorongan dan tindakan. Jeda ini memungkinkan otak melakukan evaluasi nilai dan tujuan sebelum bertindak.
Respons reflektif melibatkan evaluasi dan pertimbangan. Bagian otak yang berperan adalah prefrontal cortex (PFC), area di bagian depan batok kepala. PFC ini yang mengatur kontrol diri, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Saat seseorang berpuasa dan menahan lapar, PFC aktif menghambat dorongan dari sistem limbik. Proses ini disebut top-down regulation, yaitu pengendalian sadar terhadap impuls emosional
Bagian otak yang bernama Anterior cingulate cortex membantu memonitor konflik antara dorongan dan niat, sementara PFC mengambil keputusan yang sesuai dengan komitmen jangka panjang.
Insting lapar berasal dari bagian otak yang bernama hipotalamus yang mengatur keseimbangan energi. Namun dalam puasa, tujuan spiritual dan komitmen nilai lebih diutamakan. Otak mengintegrasikan makna dan tujuan sehingga tindakan menjadi goal-directed (tujuan yang tearah), bukan sekadar reaksi biologis.
Latihan berulang selama satu bulan memungkinkan penguatan jalur kontrol diri melalui mekanisme neuroplastisitas (kelenturan saraf). Hal ini dapat meningkatkan regulasi emosi dan kemampuan menunda kepuasan.
Itulah sebagian rahasia yang ada di dalam puasa Ramadhan.
Transformasi dari reaktif menjadi reflektif adalah hasil penguatan sistem kontrol eksekutif otak. Puasa dapat berfungsi sebagai latihan neurobehavioral yang menggeser dominasi sistem emosional menuju regulasi sadar dan terarah.
Rahasia ini jarang disadari karena efeknya tidak terlihat langsung, tetapi terasa dalam karakter setelah Ramadhan.
R11-1447H




Comments are closed.