Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Era Disrupsi: Dialektika Ibnu Abbas dan Al-Ghazali untuk Netizen Indonesia

Era Disrupsi: Dialektika Ibnu Abbas dan Al-Ghazali untuk Netizen Indonesia

era-disrupsi:-dialektika-ibnu-abbas-dan-al-ghazali-untuk-netizen-indonesia
Era Disrupsi: Dialektika Ibnu Abbas dan Al-Ghazali untuk Netizen Indonesia
service

Masyarakat Muslim Indonesia hari ini hidup dalam era disrupsi digital yang riuh. Akses informasi melesat sangat cepat dan tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu, yang pada gilirannya berdampak multidimensional pada eskalasi perpolitikan dan sosial kemasyarakatan. 

Di tengah kemudahan ini, kita menyaksikan sebuah ironi: ruang publik dan media sosial kita dipenuhi oleh orang-orang yang gemar berbicara, berdebat, dan bahkan berfatwa, sering kali dengan mengabaikan kedalaman ilmu dan etika.

Kondisi keberagamaan di Indonesia di era digital ini sedang dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Digitalisasi memang membuka peluang dakwah yang luas, namun di sisi lain membuka celah bagi penyebaran paham radikal, hoaks, dan ujaran kebencian yang dapat mengancam nilai-nilai moderasi beragama. 

Dalam keriuhan wacana saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri ini, kita mendesak untuk kembali menengok warisan adab dari para salafus shalih, khususnya melalui teladan Ibnu ‘Abbas dan Imam Al-Ghazali.

Ketika ditanya mengenai rahasia keluasan ilmunya, sahabat Nabi, Ibnu ‘Abbas menjawab, “Dengan lisan yang banyak bertanya, dan hati yang memahami.” Qalam ini sejatinya adalah fondasi dalam mencari ilmu. Sayangnya, jika kita mengamati realitas netizen Indonesia hari ini, kita mendapati “lisan dan jari yang banyak bertanya serta berkomentar“, namun kehilangan “hati yang memahami“.

Kemudahan akses internet sering kali membuat masyarakat lebih cepat mendapatkan informasi tanpa memiliki kapasitas yang memadai untuk menyeleksi kebenarannya. Akibatnya, kita mudah terjebak dalam era post-truth, di mana fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. 

Untuk mengatasi hal ini, adab inkuisisi ala Ibnu ‘Abbas menuntut kita untuk menghidupkan kembali “hati yang memahami” sebuah metafora untuk daya nalar, sikap tabayyun, dan pemikiran rasional-ilmiah yang menjadi salah satu indikator utama seorang Muslim yang moderat.

Namun, memiliki ilmu dan pemahaman saja tidak cukup. Di sinilah Imam Al-Ghazali memberikan rambu-rambu peringatan yang sangat keras: “Di antara godaan terbesar orang berilmu adalah lebih senang berbicara daripada mendengarkan.” 

Peringatan Al-Ghazali ini seolah menampar realitas para tokoh, pemengaruh (influencer) agama, hingga masyarakat awam di Indonesia. Ketika seseorang merasa sudah berilmu, ego sering kali mengambil alih. Dakwah digital yang seharusnya menjadi ruang edukasi justru berubah menjadi ajang debat kusir, echo chamber, dan justifikasi untuk merendahkan kelompok lain. Terlebih ketika agama diseret ke ranah politik identitas demi memenuhi syahwat kekuasaan semata; hal ini sangat mengkhawatirkan bagi kemajemukan dan integritas bangsa.

Sebagai solusinya, pemikiran tasawuf Al-Ghazali menawarkan apa yang disebut sebagai “Terapi Diam“. Diam di sini bukanlah sebuah kepasifan, melainkan pengekangan diri secara sadar dari perdebatan yang nir-faedah, ujaran kebencian, dan pamer intelektualitas. Kearifan untuk mau mendengarkan orang lain adalah kunci untuk merawat toleransi dan menghindari klaim kebenaran tunggal (truth claim) yang sering memicu ekstremisme.

Gagasan keseimbangan antara inkuisisi kecerdasan lisan dan hati ini sejatinya bermuara pada pembentukan karakter ummatan wasathan (umat pertengahan), sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah pada Surah Al-Baqarah ayat 143: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia…“. 

Menariknya, di dalam Tafsir At-Thabari, makna kata wasathan pada ayat ini ditafsirkan langsung oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagai wujud “keadilan dan kebaikan”. Keadilan di sini menuntut sikap yang proporsional tahu kapan harus proaktif menggunakan lisan untuk menggali ilmu, dan sadar kapan harus mengerem lisan agar tidak terjebak dalam fanatisme atau klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) yang memperkeruh suasana.

Di sisi lain, kebiasaan mengerem lisan melalui “Terapi Diam” ala Al-Ghazali juga menemukan pijakan teologisnya yang sangat kokoh, khususnya ketika kita dihadapkan pada keriuhan, ejekan, atau debat kusir di ruang digital. 

Allah SWT memberikan panduan etika komunikasi ini dalam Surah Al-Furqan ayat 63: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, salam (perkataan yang baik dan penuh kedamaian)”.

Ayat tersebut mempertegas bahwa menahan lisan dari membalas provokasi dengan provokasi serupa adalah ciri hamba yang dirahmati. Sikap ini adalah bentuk “diam yang aktif“; sebuah diam yang menumbuhkan tafakur dan kedamaian . Berdiam diri saat diprovokasi di media sosial bukanlah tanda kekalahan secara intelektual, melainkan bukti kedewasaan spiritual dan kehati-hatian agar kita tidak jatuh pada perkataan yang menyakiti sesama. 

Melalui dua dimensi tafsir ini, kita disadarkan bahwa merawat lisan dan hati bukan sekadar etika menuntut ilmu secara personal, melainkan sebuah strategi kebudayaan untuk merawat kewarasan publik dan integrasi sosial.

Pada akhirnya, harmoni antara inkuisisi (semangat belajar) Ibnu ‘Abbas dan kearifan mendengarkan (terapi diam) Imam Al-Ghazali adalah fondasi penting untuk menyelamatkan wajah Islam Indonesia saat ini. Moderasi beragama di era digital menuntut umat Islam untuk aktif memproduksi pesan-pesan damai, namun juga memiliki kebijaksanaan untuk menahan lisan saat perdebatan hanya membawa mudarat.

Menjadi penuntut ilmu di zaman ini bukan dinilai dari seberapa lantang kita berbicara di media sosial, melainkan seberapa dalam hati kita merenung, dan seberapa tulus telinga kita bersedia mendengarkan kebenaran dari lisan orang lain.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.