Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. PKB Melesat via Tehran?

PKB Melesat via Tehran?

pkb-melesat-via-tehran?
PKB Melesat via Tehran?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Langkah Partai Kebangkitan Bangsa mengutuk serangan AS–Israel ke Iran memantik pertanyaan baru: sekadar sikap moral atau strategi politik? Di tengah diamnya partai Islam lain, PKB justru membaca momentum geopolitik. Apakah ini awal perebutan kepemimpinan narasi politik Islam Indonesia di panggung global?


PinterPolitik.com

Di tengah meningkatnya ketegangan global antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, respons politik di Indonesia memperlihatkan dinamika yang menarik

Salah satu langkah paling mencolok datang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang menjadi partai politik pertama di Indonesia yang secara terbuka mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Tidak hanya itu, elite PKB juga menjadi yang pertama bertemu dengan Duta Besar Iran di Indonesia untuk menyampaikan dukacita dan solidaritas.

Langkah tersebut terlihat sederhana dalam bentuknya—sebuah pernyataan politik dan gestur diplomatik. Namun jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, tindakan ini memunculkan pertanyaan penting: apakah ini sekadar ekspresi moral, atau justru strategi politik yang lebih terukur?

Menariknya, sikap PKB tersebut muncul ketika sebagian partai Islam lain relatif berhati-hati. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang secara historis dikenal vokal dalam isu geopolitik dunia Islam, tidak segera mengeluarkan pernyataan kelembagaan yang kuat.

Kehati-hatian ini dapat dipahami. Iran merupakan negara dengan identitas Syiah yang kuat, sementara basis sosial politik sebagian besar partai Islam di Indonesia berada dalam tradisi Sunni yang sensitif terhadap isu sektarian.

Dalam konteks ini, PKB justru mengambil jalur yang berbeda. Partai yang memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama tersebut tampak menempatkan isu Iran bukan dalam kerangka sektarian, melainkan dalam narasi kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Langkah tersebut dapat dibaca melalui konsep symbolic politics yang diperkenalkan oleh ilmuwan politik Murray Edelman. Dalam pandangan Edelman, banyak tindakan politik bukan semata-mata bertujuan menghasilkan kebijakan konkret, melainkan membangun simbol yang mampu menggerakkan emosi dan persepsi publik.

Dalam kasus PKB, solidaritas terhadap Iran bukan sekadar posisi geopolitik, tetapi simbol keberpihakan terhadap keadilan global.

Dengan kata lain, gestur politik tersebut memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar diplomasi informal. Ia merupakan sinyal bahwa politik domestik Indonesia tidak sepenuhnya terpisah dari arus besar geopolitik dunia.

Kapital Politik Moral PKB?

Untuk memahami langkah PKB secara lebih mendalam, kerangka teori dari sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menjadi relevan. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, aktor politik tidak hanya mengandalkan modal ekonomi atau modal sosial, tetapi juga modal simbolik dan moral.

Modal moral ini muncul ketika seorang aktor atau institusi dipersepsikan memiliki legitimasi etis yang tinggi. Dalam konteks politik Islam Indonesia, isu seperti Palestina, konflik Timur Tengah, dan solidaritas umat sering kali menjadi sumber penting bagi pembentukan modal moral tersebut.

Langkah PKB mengecam serangan terhadap Iran dapat dibaca sebagai upaya membangun moral capital di hadapan publik Muslim Indonesia.

Dengan mengambil posisi lebih awal dibandingkan partai lain, PKB berpotensi mendapatkan apa yang dalam teori ekonomi politik disebut first mover advantage—keuntungan bagi aktor yang pertama mengambil posisi dalam suatu isu.

Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh ekonom politik Joseph Schumpeter. Dalam kerangka Schumpeter, inovasi tidak selalu berupa teknologi atau ekonomi; dalam politik, inovasi dapat berupa kemampuan membaca peluang simbolik sebelum pesaing melakukannya.

PKB tampaknya sedang memainkan logika tersebut. Ketika sebagian partai Islam memilih berhati-hati, PKB justru mengisi ruang narasi yang kosong. Dalam politik, ruang narasi yang kosong sering kali lebih penting daripada ruang kekuasaan formal.

Ada pula dimensi diferensiasi ideologis. Dalam lanskap politik Islam Indonesia, PKS selama ini dikenal sebagai partai yang kuat dalam isu solidaritas umat global, terutama terkait Palestina. Namun dengan mengambil sikap tegas terhadap Iran, PKB berpotensi memperluas posisi tersebut.

Strategi ini menarik karena PKB tidak masuk melalui jalur ideologi konservatif, melainkan melalui narasi Islam kosmopolitan—sebuah pendekatan yang lebih menekankan nilai kemanusiaan universal daripada identitas sektarian.

Akar historis pendekatan ini dapat ditelusuri pada pemikiran Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid. Gus Dur sering menekankan bahwa Islam Indonesia memiliki tradisi inklusif yang mampu menjembatani perbedaan mazhab dan identitas keagamaan.

Jika dibaca dalam kerangka tersebut, langkah PKB bukan sekadar sikap politik sesaat, melainkan upaya merevitalisasi tradisi Islam moderat Indonesia dalam arena geopolitik.

copyimage

Geopolitik Identitas

Lebih jauh lagi, dinamika ini juga dapat dianalisis melalui konsep politik peradaban yang diperkenalkan oleh ilmuwan politik Samuel Huntington. Dalam karya terkenalnya The Clash of Civilizations, Huntington berargumen bahwa konflik dunia pasca-Perang Dingin akan semakin dipengaruhi oleh identitas peradaban.

Terlepas dari kontroversinya, teori ini membantu menjelaskan mengapa isu seperti Iran atau Palestina memiliki resonansi emosional yang kuat di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia.

Bagi sebagian publik, konflik tersebut tidak hanya dipandang sebagai konflik geopolitik, tetapi juga sebagai simbol relasi antara dunia Islam dan Barat.

Dalam konteks ini, sikap PKB dapat dilihat sebagai upaya membaca emosi geopolitik umat. Namun yang lebih menarik adalah paradoks politik yang muncul: partai yang selama ini dikenal relatif moderat justru tampil paling vokal dalam isu geopolitik, sementara partai yang dikenal lebih ideologis memilih berhati-hati.

Paradoks ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu bergerak sesuai stereotip ideologis. Dalam banyak kasus, keberhasilan politik justru ditentukan oleh kemampuan membaca momentum.

Di sinilah muncul kemungkinan bahwa langkah PKB merupakan bagian dari perebutan kepemimpinan narasi dalam politik Islam Indonesia. Selama dua dekade terakhir, narasi solidaritas umat dalam isu global sering kali didominasi oleh kelompok tertentu.

Namun dengan mengambil posisi yang jelas dalam isu Iran, PKB membuka peluang untuk memasuki ruang tersebut.

Jika strategi ini dijalankan secara konsisten—misalnya melalui isu Palestina, konflik kemanusiaan global, atau diplomasi antarumat—PKB dapat membangun identitas baru sebagai partai Islam yang aktif dalam isu geopolitik.

Identitas tersebut berpotensi memiliki dampak elektoral, terutama di kalangan pemilih Muslim muda yang semakin terhubung dengan isu global melalui media sosial.

Namun tentu saja, strategi ini juga memiliki risiko. Politik Timur Tengah sarat dengan kompleksitas sektarian dan rivalitas geopolitik. Terlalu jauh terlibat dalam narasi tertentu dapat memicu resistensi di dalam negeri.

Karena itu, kunci keberhasilan langkah PKB bukan hanya pada keberanian mengambil posisi, tetapi pada kemampuan menjaga keseimbangan antara solidaritas global dan sensitivitas domestik.

Pada akhirnya, langkah PKB menunjukkan bahwa politik Indonesia tidak lagi sepenuhnya terisolasi dari dinamika global. Dalam era komunikasi digital dan geopolitik yang saling terhubung, isu internasional dapat dengan cepat menjadi sumber legitimasi politik domestik.

Dan mungkin di sinilah inti dari fenomena ini: PKB mungkin tidak sedang mencoba memengaruhi politik Iran. Yang sedang mereka lakukan adalah membaca perubahan lanskap emosi politik umat di Indonesia—dan berusaha berada selangkah di depan dalam perebutan makna dan narasi. (J61)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.