Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. International Women’s Day dan Pertanyaan tentang Siapa yang Disebut Perempuan

International Women’s Day dan Pertanyaan tentang Siapa yang Disebut Perempuan

international-women’s-day-dan-pertanyaan-tentang-siapa-yang-disebut-perempuan
International Women’s Day dan Pertanyaan tentang Siapa yang Disebut Perempuan
service

Bincangperempuan.com- Setiap tahun kita merayakan International Women’s Day dengan berbagai slogan tentang solidaritas perempuan. Diperingati setiap 8 Maret, hari ini telah menjadi simbol perjuangan panjang melawan ketidakadilan gender.

Selama lebih dari satu abad, International Women’s Day menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Memang, kita telah melihat berbagai kemajuan seperti semakin banyak perempuan hadir di ruang publik, akses pendidikan semakin terbuka, dan berbagai kebijakan kesetaraan mulai diterapkan. 

Namun di balik perayaan tersebut, masih ada pertanyaan mendasar yang jarang dibicarakan, yaitu siapa sebenarnya yang dianggap perempuan dalam perjuangan ini?

Baca juga: Sambut IWD 2025, Aliansi Perempuan Indonesia Soroti Isu PRT hingga Perampasan Ruang Hidup

Perdebatan tentang TERF

Idealnya, hari perempuan menjadi ruang bagi semua perempuan untuk bersuara tentang pengalaman mereka. Tetapi dalam beberapa perdebatan feminisme global, muncul pandangan yang menolak memasukkan transpuan dalam kategori perempuan. Posisi ini sering disebut sebagai Trans-Exclusionary Radical Feminist atau TERF.

Pandangan ini berangkat dari gagasan bahwa pengalaman perempuan sepenuhnya ditentukan oleh jenis kelamin biologis sejak lahir. Bagi kelompok feminis radikal, kategori perempuan harus dipertahankan berdasarkan seks biologis, bukan identitas gender. Beberapa tokoh publik yang dikenal menyuarakan posisi ini antara lain Sheila Jeffreys, Julie Bindel, dan J. K. Rowling.

Mereka berargumen bahwa konsep identitas transgender merupakan konstruksi patriarki yang berpotensi mengancam ruang perempuan dan melemahkan gerakan feminis. Dalam perspektif ini, hak-hak perempuan dipandang harus dilindungi dengan mempertahankan batas biologis yang jelas antara laki-laki dan perempuan.

Namun kritik terhadap posisi tersebut juga semakin kuat. Banyak peneliti dan aktivis berpendapat bahwa pendekatan yang hanya berfokus pada biologis justru mengabaikan realitas sosial yang kompleks. 

Transpuan juga mengalami diskriminasi berbasis gender—mulai dari kekerasan, stigma sosial, hingga marginalisasi ekonomi. Dengan kata lain, mereka juga menghadapi bentuk penindasan yang berkaitan dengan norma gender yang kaku.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa gerakan TERF memiliki pola retorika dan dinamika kelompok yang dalam beberapa aspek serupa dengan ideologi konservatif lainnya. Studi yang dilakukan oleh Nadine Ploch menemukan bahwa argumen-argumen TERF sering kali menekankan ketakutan akan hilangnya status perempuan dalam masyarakat. Narasi tersebut kemudian diperkuat melalui diskursus daring yang memposisikan transpuan sebagai ancaman terhadap ruang perempuan.

Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan Feminis?

Namun jika kita kembali pada akar gerakan feminisme, tujuan utamanya adalah menantang sistem patriarki dan norma gender yang menindas. Lantas apakah dengan membatasi definisi perempuan berdasarkan aspek biologis saja sejalan dengan tujuan tersebut?

Tilly Baden, seorang pekerja sosial, menulis bahwa dalam beberapa tahun terakhir muncul narasi yang menyatakan bahwa keberadaan transpuan mengancam keamanan perempuan cisgender. Narasi ini sering menggambarkan transpuan sebagai laki-laki yang menyamar untuk memasuki ruang perempuan. 

Namun pengalaman nyata menunjukkan hal yang berbeda. Kekerasan terhadap perempuan dalam banyak kasus justru dilakukan oleh laki-laki cisgender—yang sering kali secara terbuka dan bahkan dilindungi oleh sistem sosial yang ada.

Narasi yang menyatakan bahwa inklusi akan membahayakan perempuan sebenarnya mengalihkan perhatian dari sumber kekerasan yang sesungguhnya. Yaitu patriarki dan relasi kuasa yang timpang. Alih-alih melindungi perempuan, narasi tersebut justru berpotensi menciptakan hierarki baru tentang siapa yang dianggap layak mendapatkan perlindungan.

Baca juga: Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan

Mempertanyakan Kembali Gagasan Biologis

Selain itu, gagasan bahwa seks biologis bersifat sepenuhnya biner juga semakin dipertanyakan. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 1,7 persen populasi dunia lahir dengan karakteristik interseks—angka yang hampir sama dengan jumlah orang yang terlahir dengan rambut merah. Fakta ini menunjukkan bahwa realitas biologis manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar kategori XX dan XY.

Jika feminisme bertujuan memperluas kebebasan dan keadilan bagi semua orang yang mengalami penindasan berbasis gender, maka pendekatan yang eksklusif justru berisiko mereproduksi batas-batas yang selama ini ingin dihancurkan oleh gerakan tersebut.

Karena itu, peringatan International Women’s Day seharusnya menjadi ruang bagi siapa pun yang mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan untuk bersuara. Hari ini tidak semestinya menjadi ajang untuk menentukan siapa yang cukup “perempuan” untuk diakui, melainkan ruang solidaritas bagi semua yang mengalami ketidakadilan berbasis gender—termasuk transpuan dan individu interseks.

Tema solidaritas ini juga sejalan dengan semangat Give to Gain yang banyak diangkat dalam berbagai peringatan International Women’s Day tahun ini. Gagasan tersebut mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan bukan tentang mempertahankan ruang yang sempit, melainkan tentang berbagi ruang agar semakin banyak orang dapat memperoleh keadilan. Dengan memberi ruang bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, gerakan perempuan justru memperkuat dirinya sendiri.

Jika feminisme ingin tetap relevan sebagai gerakan pembebasan, maka ia harus setia pada prinsip dasar dalam melawan ketidakadilan gender dalam segala bentuknya—termasuk yang dialami oleh kawan transpuan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.