Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Karena Puasa adalah Ilmu Pengendalian Diri

Karena Puasa adalah Ilmu Pengendalian Diri

karena-puasa-adalah-ilmu-pengendalian-diri
Karena Puasa adalah Ilmu Pengendalian Diri
service

Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak ibadah, Allah seolah begitu “posesif” terhadap puasa? Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menyatakan bahwa puasa adalah milik-Nya khusus, dan Ia sendiri yang akan mengganjarnya.

Secara kasat mata, orang berpuasa mungkin tampak lemas, tidak bersemangat, atau mudah lelah. Namun, di balik tampilan fisik yang payah itu, sedang berlangsung sebuah ibadah yang sangat rahasia—sebuah ruang intim yang hanya diketahui oleh sang hamba dan Sang Pencipta.

Mbah Nun dalam tulisan “Tuhan Pun Berpuasa”, mengajak kita melihat sikap posesif Tuhan ini bukan sebagai bentuk otoritas hukum yang kaku, melainkan sebuah romantisme yang mendalam. Allah tidak sedang “nakal” dengan kekuasaan-Nya, menyuruh kita lapar sementara Ia memetik manfaatnya. Sebaliknya, Allah sedang mengajak kita masuk ke dalam sebuah hubungan yang mesra dan intim. Ia ingin terlibat langsung, menunjukkan rasa memiliki-Nya, karena puasa adalah titik di mana manusia mulai belajar meniru sifat-sifat Tuhan.

Di sinilah puasa bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ritual menahan lapar. Mbah Nun dalam tulisan itu menekankan; jika Syahadat adalah fundamen dan Shalat adalah tiang yang statis, maka puasa adalah pedoman manajemen kehidupan. Ia adalah mesin penggerak dalam rumah tangga, masyarakat, negara, hingga peradaban. Tanpa puasa, kehidupan hanyalah serangkaian pelampiasan tanpa batas.

Karena inti dari Puasa adalah mengendalikan diri. Di bulan Ramadlan ini saja, kita sering kalap mata saat berburu takjil. Kita bisa dengan sadar melampiaskan nafsu penglihatan kita saat mendatangi penjaja takjil, kemudian membeli makanan dalam jumlah yang banyak. Namun ironisnya, setelah azan maghrib, hanya sedikit saja yang benar-benar kita santap. Meja makan kita seolah menjadi “kuburan” bagi makanan yang kita beli dengan nafsu, bukan dengan kebutuhan—berakhir di tempat sampah karena kita gagal mengemudikan keinginan.

Mari kita selami kembali bahwa prinsip dasar kehidupan sejati bukanlah menghabiskan atau melampiaskan segala keinginan, melainkan kesanggupan untuk menyaring, menyeleksi, dan mensublimasikan nafsu. Dalam berdagang, puasa berarti tidak rakus menguasai modal sendirian. Dalam politik, puasa berarti tidak menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang hanya karena kita mampu melakukannya. Puasa adalah kesadaran akan batas.

Puncaknya, teladan pengendalian diri ini datang langsung dari Allah Swt. Bayangkan, sebagai Pemilik otoritas mutlak, Allah sangat mampu untuk tidak menerbitkan matahari esok pagi bagi hamba-hamba-Nya yang membangkang. Ia punya sejuta alasan rasional untuk melenyapkan kita dalam sekejap atas segala pengkhianatan yang kita lakukan setiap hari. Namun, Allah memilih untuk tidak melakukannya.

Allah sendiri “berpuasa” dari amarah-Nya. Ia mengendalikan kekuasaan-Nya yang tak terbatas demi kasih sayang-Nya kepada makhluk. Inilah puncak dari ilmu pengendalian diri: ketika kita memiliki kuasa penuh untuk menghancurkan atau melampiaskan, namun kita memilih untuk tetap memberi, tetap menyayangi, dan tetap menahan diri demi kemaslahatan yang lebih besar.

Maka, jika kita masih berbuka dengan cara “balas dendam” atau menduduki jabatan dengan cara “aji mumpung”, mungkin kita belum benar-benar berpuasa. Kita baru sekadar menahan lapar, belum belajar mengendalikan diri. Padahal, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang pintar menahan diri karena takut aturan; dunia butuh manusia-manusia yang sanggup mengendalikan diri karena cinta dan kesadaran akan batas, sebagaimana Tuhan telah mencontohkannya kepada kita setiap hari.

Ramadlan hanyalah terminal sejenak untuk kita belajar menjadi tuan atas diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, derajat puasa kita tidak ditentukan oleh seberapa kering tenggorokan atau seberapa lama kita mampu menahan lapar, melainkan oleh seberapa dekat kita dengan cara Tuhan dalam mencintai hamba-Nya: tetap mengendalikan diri dan menahan murka, meski Dia memiliki segala kuasa untuk melampiaskanya. Dan tentu saja, Dia tetap menumpahkan rasa cinta dan kasih sayang kepada kita semua.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.