
Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak ibadah, Allah seolah begitu “posesif” terhadap puasa? Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menyatakan bahwa puasa adalah milik-Nya khusus, dan Ia sendiri yang akan mengganjarnya.
Secara kasat mata, orang berpuasa mungkin tampak lemas, tidak bersemangat, atau mudah lelah. Namun, di balik tampilan fisik yang payah itu, sedang berlangsung sebuah ibadah yang sangat rahasia—sebuah ruang intim yang hanya diketahui oleh sang hamba dan Sang Pencipta.
Mbah Nun dalam tulisan “Tuhan Pun Berpuasa”, mengajak kita melihat sikap posesif Tuhan ini bukan sebagai bentuk otoritas hukum yang kaku, melainkan sebuah romantisme yang mendalam. Allah tidak sedang “nakal” dengan kekuasaan-Nya, menyuruh kita lapar sementara Ia memetik manfaatnya. Sebaliknya, Allah sedang mengajak kita masuk ke dalam sebuah hubungan yang mesra dan intim. Ia ingin terlibat langsung, menunjukkan rasa memiliki-Nya, karena puasa adalah titik di mana manusia mulai belajar meniru sifat-sifat Tuhan.
Di sinilah puasa bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ritual menahan lapar. Mbah Nun dalam tulisan itu menekankan; jika Syahadat adalah fundamen dan Shalat adalah tiang yang statis, maka puasa adalah pedoman manajemen kehidupan. Ia adalah mesin penggerak dalam rumah tangga, masyarakat, negara, hingga peradaban. Tanpa puasa, kehidupan hanyalah serangkaian pelampiasan tanpa batas.
Karena inti dari Puasa adalah mengendalikan diri. Di bulan Ramadlan ini saja, kita sering kalap mata saat berburu takjil. Kita bisa dengan sadar melampiaskan nafsu penglihatan kita saat mendatangi penjaja takjil, kemudian membeli makanan dalam jumlah yang banyak. Namun ironisnya, setelah azan maghrib, hanya sedikit saja yang benar-benar kita santap. Meja makan kita seolah menjadi “kuburan” bagi makanan yang kita beli dengan nafsu, bukan dengan kebutuhan—berakhir di tempat sampah karena kita gagal mengemudikan keinginan.
Mari kita selami kembali bahwa prinsip dasar kehidupan sejati bukanlah menghabiskan atau melampiaskan segala keinginan, melainkan kesanggupan untuk menyaring, menyeleksi, dan mensublimasikan nafsu. Dalam berdagang, puasa berarti tidak rakus menguasai modal sendirian. Dalam politik, puasa berarti tidak menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang hanya karena kita mampu melakukannya. Puasa adalah kesadaran akan batas.
Puncaknya, teladan pengendalian diri ini datang langsung dari Allah Swt. Bayangkan, sebagai Pemilik otoritas mutlak, Allah sangat mampu untuk tidak menerbitkan matahari esok pagi bagi hamba-hamba-Nya yang membangkang. Ia punya sejuta alasan rasional untuk melenyapkan kita dalam sekejap atas segala pengkhianatan yang kita lakukan setiap hari. Namun, Allah memilih untuk tidak melakukannya.
Allah sendiri “berpuasa” dari amarah-Nya. Ia mengendalikan kekuasaan-Nya yang tak terbatas demi kasih sayang-Nya kepada makhluk. Inilah puncak dari ilmu pengendalian diri: ketika kita memiliki kuasa penuh untuk menghancurkan atau melampiaskan, namun kita memilih untuk tetap memberi, tetap menyayangi, dan tetap menahan diri demi kemaslahatan yang lebih besar.
Maka, jika kita masih berbuka dengan cara “balas dendam” atau menduduki jabatan dengan cara “aji mumpung”, mungkin kita belum benar-benar berpuasa. Kita baru sekadar menahan lapar, belum belajar mengendalikan diri. Padahal, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang pintar menahan diri karena takut aturan; dunia butuh manusia-manusia yang sanggup mengendalikan diri karena cinta dan kesadaran akan batas, sebagaimana Tuhan telah mencontohkannya kepada kita setiap hari.
Ramadlan hanyalah terminal sejenak untuk kita belajar menjadi tuan atas diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, derajat puasa kita tidak ditentukan oleh seberapa kering tenggorokan atau seberapa lama kita mampu menahan lapar, melainkan oleh seberapa dekat kita dengan cara Tuhan dalam mencintai hamba-Nya: tetap mengendalikan diri dan menahan murka, meski Dia memiliki segala kuasa untuk melampiaskanya. Dan tentu saja, Dia tetap menumpahkan rasa cinta dan kasih sayang kepada kita semua.[]





Comments are closed.