Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menghapus Ragab: Sinergi Secwan untuk Inklusivitas Al Mashduqi

Menghapus Ragab: Sinergi Secwan untuk Inklusivitas Al Mashduqi

menghapus-ragab:-sinergi-secwan-untuk-inklusivitas-al-mashduqi
Menghapus Ragab: Sinergi Secwan untuk Inklusivitas Al Mashduqi
service

Mubadalah.id – Selama ini profesi petugas keamanan seringkaIi identik dengan ketegasan yang maskulin. Tapi, bagaimana jadinya andaikata sentuhan kasih sayang ibu hadir sebagai wajah pelayanan keamanan? Ketika sinergi kasih sayang, hadir melalui Secwan (Security Wanita) di sekolah. 

Bapak satpam di Al Mashduqi sebenarnya sudah luar biasanya hangat, ramah, dan interaktif akrab dengan siswa. Namun, kehadiran Ibu Siti-secwan memberikan dimensi baru. 

Menghapus Rasa “Ragab” bagi Siswa Disabilitas

Di Al Mashduqi, kegiatan menjemput dan mengantar siswa ke pintu gerbang sekolah bukan sekedar bagian rutinitas bagi bapak ibu satpam, melainkan cermin nyata dari kesetaraan akses yang hidup.

Setiap pagi, saya melihat guru-guru Excellent Islamic School (EXIS)-unit SLB di Al Mashduqi bersama bapak ibu satpam menyambut satu persatu siswanya.

Satu hal yang paling menyentuh dari apa yang saya perhatikan adalah bagaimana sinergi kasih yang ditunjukkan Ibu Siti-Secwan Al Mashduqi yang menguatkan ruang nyaman, terutama bagi adik-adik siswa perempuan penyandang disabilitas.

Dalam istilah Sunda, ada perasaan ragab, sebuah rasa canggung ketika seorang perempuan harus bersentuhan fisik atau dibantu oleh laki-laki yang bukan keluarga dekat.

Bagi siswa disabilitas yang membutuhkan bantuan mobilitas, seperti saat harus turun dari kendaraan atau perlu digendong untuk berpindah tempat, kehadiran secwan di sekolah adalah jawaban atas rasa ragab tersebut.

Di sinilah inklusivitas bukan sebatas tentang pemenuhan fasilitas fisik, tetapi hadirnya martabat, rasa aman, dan nyaman terhadap batas-batas personal. Sekolah tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga menjaga rasa.

Melengkapi Figur Orang Tua di Sekolah

Dari cerita kepala sekolah dan para guru di EXIS Al Mashduqi, kehadiran Ibu Siti merupakan penguat atmosfer sekolah.

Jika bapak satpam seringkali menjadi representasi figur ayah yang menjaga, Ibu Siti hadir sebagai figur ibu yang mengayomi.

Kehangatan itu ternyata tidak hanya terasa oleh siswa, tapi juga oleh para guru. Di setiap hari ketika berpapasan, Ibu Siti tidak pernah absen melangitkan doa-doa baik.

“Semoga sehat selalu Miss, lancar rezekinya, bahagia selalu ya.” Sapa beliau dengan tulus.

Sapaan sederhana ini adalah oase. Salah seorang guru pernah bercerita bahwa bertemu dengan Ibu Siti setiap pagi mengingatkan pada sosok ibu sendiri.

Doa-doa harian yang beliau ucapkan di gerbang seolah menjadi penguat semangat bagi guru sebelum tugas mendidik.

Dari hal ini kita melihat bahwa relasi yang terbangun bukan sekedar professional, tetapi juga emosional dan spiritual.

Sinergi Keamanan dan Kasih Sayang

Sekolah inklusif yang ideal tidak sekadar menjawab bagaimana terkemasnya sebuah kurikulum, tapi juga bagaimana setiap individu di dalamnya merasa sama-sama hadir sepenuhnya, seutuhnya.

Kehadiran sekwan di sekolah inklusif merupakan sebuah kebutuhan yang mendasar, untuk memastikan hak-hak perempuan dan penyandang disabilitas terpenuhi secara utuh. Ini merupakan bentuk sinergi kasih yang nyata.

Kehadiran Ibu Siti memberikan penguatan bahwa perlindungan dan kasih sayang adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Keamanan tidak selalu harus tampil kaku dan berjarak, ia juga bisa hadir dalam bentuk yang hangat, lembut, dan memeluk.

Bahkan lebih jauh, praktik inklusivitas sederhana ini menjadi pembelajaran sosial bagi seluruh warga sekolah. Anak-anak belajar empati, tentang saling menghargai perbedaan serta pentingnya saling menghadirkan rasa aman dan nyaman satu sama lain.

Pada akhirnya kita tersadar, di balik seragam petugas keamanan, ada detak jantung kepedulian yang menjadi ruh bagi pendidikan yang memanusiakan manusia.

Dari gerbang sekolah di Al Mashduqi, kita diingatkan, bahwa inklusivitas dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan penuh kasih.

*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah Goes to Community Garut, kerjasama media Mubadalah dengan Universitas Garut.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.