Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Masjid Al-Ihsan Waegwan, Potret Islam Multikultural di Korea Selatan

Masjid Al-Ihsan Waegwan, Potret Islam Multikultural di Korea Selatan

masjid-al-ihsan-waegwan,-potret-islam-multikultural-di-korea-selatan
Masjid Al-Ihsan Waegwan, Potret Islam Multikultural di Korea Selatan
service

Chilgok, NU Online
Di tengah hiruk-pikuk modernitas Korea Selatan—negara yang dikenal dengan kemajuan teknologi, industri, dan budaya pop yang mendunia—terdapat sebuah ruang sederhana yang menjadi pusat ketenangan spiritual bagi umat Islam. 

Di lantai dua sebuah bangunan yang beralamat di 198-17 Gongdan-ro, Waegwan-eup, Chilgok-gun, Gyeongsangbuk-do, berdiri Masjid Al-Ihsan Waegwan, sebuah masjid kecil yang menjadi titik temu umat Islam dari berbagai bangsa. Di tengah masyarakat Korea Selatan yang mayoritas non-Muslim, masjid ini menghadirkan potret kebersamaan yang hangat: jamaah dari Indonesia, Pakistan, Sudan, Vietnam, Filipina, hingga Amerika Serikat berdiri dalam satu saf yang sama, menunaikan shalat dengan kiblat yang sama.

Keberadaan Masjid Al-Ihsan Waegwan tidak dapat dilepaskan dari dinamika komunitas pekerja migran di Korea Selatan. Waegwan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Chilgok yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Daegu, salah satu kota metropolitan terbesar di negeri ginseng tersebut. Kawasan ini dikenal sebagai wilayah industri dengan banyak pabrik manufaktur yang mempekerjakan pekerja migran dari berbagai negara. 

Di tempat-tempat inilah para perantau Muslim menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Di sela-sela rutinitas kerja yang panjang, masjid menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, sekaligus tempat melepas rindu pada suasana religius yang mungkin sulit ditemukan di lingkungan kerja yang serba cepat dan kompetitif.

Mayoritas jamaah di Masjid Al-Ihsan Waegwan merupakan pekerja migran Indonesia yang berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sunda, dan beberapa daerah lainnya. Mereka datang ke Korea Selatan untuk bekerja di sektor industri demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di tanah air. 

Menariknya, masjid ini tidak hanya diisi oleh jamaah asal Indonesia. Setiap pekan, terutama pada pelaksanaan salat Jumat, jamaah dari berbagai negara turut hadir. Ada pekerja dari Pakistan, mahasiswa dari Sudan, pekerja dari Vietnam dan Filipina, hingga warga negara Amerika Serikat yang sedang menetap dan bertugas di Korea Selatan. Perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang sosial tidak menjadi penghalang. Di dalam masjid, semua perbedaan itu melebur dalam identitas yang sama: sebagai sesama Muslim.

Kebersamaan itu terasa sangat kuat terutama ketika salat Jumat berlangsung. Sejak menjelang siang, jamaah mulai berdatangan dari berbagai penjuru kawasan industri. Sebagian menempuh perjalanan cukup jauh dari pabrik tempat mereka bekerja. 

Di halaman kecil di depan bangunan masjid, para jamaah saling menyapa dengan berbagai Bahasa — bahasa Indonesia, Urdu, Arab, Inggris, hingga bahasa Korea sederhana. Namun ketika azan berkumandang, semua percakapan berhenti. Para jamaah segera berwudhu dan mengambil tempat dalam saf shalat yang rapi, menegaskan persaudaraan yang melampaui batas negara dan budaya.

Masjid Al-Ihsan Waegwan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual semata. Di tempat ini pula terbangun relasi sosial yang kuat di antara para perantau Muslim. Banyak jamaah memanfaatkan masjid sebagai ruang bertukar informasi, berbagi pengalaman kerja, hingga saling membantu ketika ada sesama pekerja migran yang mengalami kesulitan. Dalam kehidupan diaspora yang jauh dari keluarga, masjid sering kali menjadi semacam rumah kedua yang menghadirkan rasa aman dan kebersamaan.

Selain salat berjamaah, berbagai kegiatan keagamaan juga rutin dilaksanakan. Jamaah asal Indonesia, misalnya, kerap mengadakan pembacaan Yasin, tahlil, serta kajian keislaman sederhana pada waktu-waktu tertentu. Tradisi keagamaan yang dibawa dari tanah air tersebut tetap terjaga meskipun berada ribuan kilometer dari Indonesia. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat hubungan persaudaraan di antara jamaah yang hidup di perantauan.

Di Korea Selatan sendiri, jumlah Muslim diperkirakan mencapai sekitar 200 ribu orang; sebagian besar merupakan warga negara asing yang datang sebagai pekerja migran, mahasiswa, maupun profesional. 

Dengan jumlah yang relatif kecil dibandingkan total populasi Korea Selatan, komunitas Muslim dapat dikatakan sebagai minoritas. Namun justru dalam posisi minoritas itulah solidaritas dan kebersamaan sering kali tumbuh lebih kuat. Masjid-masjid kecil seperti Masjid Al-Ihsan Waegwan menjadi simpul penting yang menjaga keberlangsungan kehidupan keagamaan umat Islam di negeri tersebut.

Meski tidak memiliki bangunan megah seperti masjid-masjid besar di negara mayoritas Muslim, Masjid Al-Ihsan Waegwan memiliki makna yang sangat besar bagi jamaahnya. Ia menjadi simbol keteguhan iman sekaligus ruang perjumpaan lintas budaya. Di tempat ini, seorang pekerja pabrik dari Jawa dapat berdampingan dengan mahasiswa dari Sudan, atau dengan pekerja dari Pakistan, dalam satu barisan shalat yang sama.

Dari sebuah ruangan sederhana di lantai dua bangunan kawasan industri Waegwan, tumbuh sebuah komunitas yang memperlihatkan wajah Islam yang inklusif dan penuh persaudaraan.

Keberagaman yang hadir di dalam masjid ini menunjukkan bahwa Islam mampu menjadi jembatan yang menyatukan manusia dari berbagai bangsa dan latar belakang.

Di tengah modernitas Korea Selatan yang terus bergerak cepat, Masjid Al-Ihsan Waegwan tetap berdiri sebagai oase spiritual bagi para perantau Muslim. Dari tempat sederhana itu lahir pesan yang kuat: bahwa meskipun menjadi minoritas di negeri orang, umat Islam tetap dapat menjaga kebersamaan, merawat iman, dan membangun persaudaraan lintas bangsa dalam satu keyakinan yang sama.

Acep Sutisna, Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Malang, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Sukabumi, Fouder of Alkarima Foundation Kota Sukabumi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.