Ditulis oleh Desty Luthfiani •
KABARBURSA.COM – Momen Lebaran 2026 yang identik dengan cairnya Tunjangan Hari Raya atau THR kerap menjadi dilema bagi banyak orang. Di satu sisi, dana tambahan ini membawa kebahagiaan untuk merayakan hari kemenangan. Namun di sisi lain, euforia belanja sering membuat saldo rekening terkuras dalam waktu singkat. Fenomena THR yang hanya “numpang lewat” pun kembali terulang setiap tahun.
Kondisi ini tidak lepas dari minimnya perencanaan keuangan. Tanpa strategi yang jelas, dana THR cenderung habis untuk kebutuhan konsumtif jangka pendek. Padahal, jika dikelola dengan tepat, uang tersebut dapat menjadi pijakan awal untuk memperkuat kondisi finansial ke depan. PT Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT pun membagikan panduan agar masyarakat dapat mengelola THR secara lebih bijak dan produktif.
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas, Sergio Ticoalu, mengatakan bahwa periode penerimaan THR seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk mulai menerapkan pola pikir smart money. Menurutnya, mengelola uang secara strategis jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti dorongan konsumsi sesaat.
“Momentum THR sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk mulai berpikir seperti smart money. Artinya bukan sekadar membelanjakan uang, tapi mengalokasikannya dengan lebih strategis agar sebagian tetap bisa tumbuh dan bekerja untuk masa depan,” ujar Sergio dalam keterangan tertulis Rabu, 18 Maret 2026.
Ia menjelaskan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memastikan keamanan finansial dengan memperkuat dana darurat. Sebagian THR sebaiknya disisihkan untuk mengantisipasi kebutuhan tak terduga setelah periode Lebaran.
“Minimal 20 sampai 30 persen THR bisa dialokasikan sebagai dana cadangan. Ini penting agar kondisi finansial tetap stabil sepanjang tahun,” jelasnya.
Dengan dana darurat yang memadai, masyarakat tidak perlu bergantung pada utang saat menghadapi kebutuhan mendesak. Hal ini juga membantu menjaga rencana keuangan tetap berjalan sesuai tujuan.
Setelah kebutuhan utama dan dana darurat terpenuhi, sisa THR dapat dimanfaatkan untuk investasi. Namun, Sergio mengingatkan agar keputusan investasi tidak didasarkan pada tren semata atau rasa takut ketinggalan.
“Investor yang sehat adalah mereka yang punya conviction terhadap keputusan investasinya. Jadi bukan sekadar ikut ramai, tapi memahami kenapa mereka memilih instrumen tersebut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa tingkat literasi finansial menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas keputusan keuangan. Pemahaman yang baik mengenai pasar dan instrumen investasi akan membantu investor bertindak lebih rasional.
“Confidence dalam berinvestasi datang dari pemahaman. Semakin kita mengerti cara kerja pasar dan instrumen investasi, semakin baik pula keputusan yang bisa kita ambil,” tambahnya.
Selain itu, Sergio juga menyarankan agar dana yang belum digunakan tetap ditempatkan pada instrumen yang produktif. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah rekening dana nasabah, yang tetap memberikan potensi imbal hasil dengan likuiditas tinggi.
Sergio menegaskan bahwa konsep smart money bukan berarti membatasi diri dalam menikmati momen Lebaran. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan perencanaan masa depan.
“Konsep smart money bukan berarti menahan diri dari menikmati momen Lebaran, tetapi memastikan sebagian uang tetap bekerja untuk kita setelah liburan selesai,” kata dia.
Menurut dia pengelolaan yang tepat, dana THR tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat, tetapi juga dapat menjadi langkah awal membangun kondisi finansial yang lebih sehat sepanjang 2026.(*)





Comments are closed.