Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Kala Dzikir Dzikrul Ghafilin Menggema di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korsel

Kala Dzikir Dzikrul Ghafilin Menggema di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korsel

kala-dzikir-dzikrul-ghafilin-menggema-di-masjid-al-muhajirin-pyeongtaek,-korsel
Kala Dzikir Dzikrul Ghafilin Menggema di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korsel
service

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan para pekerja migran di Korea Selatan, denyut spiritualitas umat Muslim Indonesia tetap terjaga. Komunitas Muslim Indonesia (KMI), sebuah organisasi sosial keumatan yang berbasis di negeri ginseng, mencatat setidaknya terdapat 57 masjid dan mushala yang tersebar di berbagai wilayah Korea Selatan. Jaringan ini terbagi dalam lima zona, yakni FKMWU (Forum Komunikasi Masjid Wilayah Utara), KMJJ (Komunitas Muslim Jeollabuk-do, Jeollanam), FKMID (Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Daegu), Mitra Pumita, dan Pulau Jeju.

Mayoritas masjid di Korea Selatan mengamalkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah. Setiap akhir pekan, berbagai kegiatan keislaman rutin digelar, mulai dari kajian hingga amaliyah yang bernafaskan nilai-nilai Aswaja. Namun, di antara rutinitas tersebut, ada satu amalan yang terasa istimewa dan berbeda: Dzikrul Ghafilin di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, yang menjadi bagian dari FKMWU.

Selama menjalankan tugas dakwah Ramadhan 1447 H di Korea Selatan, saya menyaksikan langsung bagaimana amalan ini dijaga dan dilestarikan. Dzikrul Ghafilin terbilang jarang dijumpai di masjid-masjid lain di Korea. Justru di sinilah letak keistimewaannya, menjadi oase spiritual yang tumbuh di tengah kesibukan para perantau.

Menurut Kang Kusnandi, salah satu Dewan Syuro Masjid Al Muhajirin, dzikir ini pertama kali digagas oleh Kang Nurmansyah dan Kang Anwar, keduanya alumni pesantren di Jawa Timur. Gagasan tersebut muncul dalam pertemuan rutin akhir pekan, dengan tujuan menguatkan dimensi spiritual jamaah agar tidak larut dalam kelalaian.

“Atas persetujuan seluruh dewan syuro, pengurus, dan jamaah, dzikir ini kemudian dilaksanakan secara rutin setiap minggu kedua,” ujarnya saat perbincangan di pertengahan Maret 2026.

Pada awalnya, amalan ini dijalankan berdasarkan pengalaman pribadi para penggagas. Namun, untuk memastikan adanya mata rantai keilmuan yang jelas dan transmisi yang sah, pengurus kemudian menghubungi Agus Fery, cucu Gus Miek, putra dari Gus Tsabut Pronoto Projo, guna meminta ijazah. Permohonan tersebut disambut baik, sehingga Dzikrul Ghafilin di masjid ini memiliki legitimasi dari sisi thariqah dan dapat diamalkan secara luas.

Setiap bulan, tepatnya pada minggu kedua, jamaah berkumpul untuk melaksanakan dzikir secara berjamaah. Kegiatan ini dipimpin secara bergantian oleh para jamaah, dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning serta sesi tanya jawab. Suasana yang terbangun terasa hangat dan akrab.

“Suasana kebersamaan dalam setiap minggunya terasa seperti kumpul bersama keluarga,” ungkap Kang Lukman.

Rutinitas akhir pekan di masjid ini dimulai sejak malam Sabtu. Para jamaah berkumpul, melaksanakan shalat berjamaah, serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Kehidupan spiritual di lingkungan masjid pun terasa semakin hidup.

Bagi para jamaah yang sebagian besar merupakan pekerja migran Indonesia di Pyeongtaek, kegiatan ini menjadi penyejuk di tengah padatnya aktivitas kerja di pabrik-pabrik sekitar. Dzikrul Ghafilin bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan ruang untuk menenangkan jiwa sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.

“Dzikir ini menjadikan kami tenang batin kami dan tidak lalai kewajiban kami sebagai hamba Allah yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada-Nya,” ungkap Kang Bagus, pria asal Tulungagung.

Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek berharap, melalui pelaksanaan dzikir berjamaah ini, para jamaah semakin dekat dengan Allah Swt dan memperoleh ketenangan batin. Tak hanya kegiatan keagamaan, masjid ini juga aktif menggelar berbagai aktivitas lain, seperti olahraga bersama, tadabbur alam, hingga makan bersama di warung Indonesia di Korea Selatan, sebagai upaya mempererat persaudaraan di perantauan.

Melalui Dzikrul Ghafilin, Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek diharapkan terus menjadi pusat pembinaan spiritual bagi Muslim Indonesia di Korea Selatan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bertemunya rindu kampung halaman, persaudaraan, dan ikhtiar menjaga nilai-nilai keislaman di negeri rantau.

Moh. Fathurrozi Dai Go Global 2026 dengan penugasan ke Korea Selatan, Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.