Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Urutan Lahir Ngaruh Nggak sih dalam Percintaan?

Urutan Lahir Ngaruh Nggak sih dalam Percintaan?

urutan-lahir-ngaruh-nggak-sih-dalam-percintaan?
Urutan Lahir Ngaruh Nggak sih dalam Percintaan?
service

Bincangperempuan.com- B-Pers, lini masa TikTok atau Reels kamu mungkin pernah dilewati konten bertema “oldest daughter & oldest son” atau duel klasik first child vs last child. Konten-konten ini biasanya menggambarkan visual estetik atau meme lucu tentang bagaimana dinamika hubungan romantis antar-urutan lahir. Katanya pasangan sesama anak pertama itu rawan konflik ego, sedangkan kombinasi eldest daughter (anak perempuan pertama) dengan youngest son (anak laki-laki terakhir) dianggap paling ideal karena sifatnya yang saling melengkapi.

Tapi apakah urutan lahir itu sebegitu berpengaruh dalam hubungan romantis? Mari kita bedah secara kritis dan ilmiah.

Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua

Apakah Urutan Lahir Mempengaruhi Kepribadian?

Gagasan bahwa urutan lahir membentuk kepribadian ini sudah ada sejak lama. Menurut artikel psikologi—Verywell Mind, konsep ini pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-20 oleh seorang psikiater asal Austria bernama Alfred Adler. Beliau adalah pendiri psikologi individual yang dulunya sempat bekerja sama dengan tokoh psikoanalisis terkenal, Sigmund Freud.

Adler mencetuskan teori “family constellation” (konstelasi keluarga). Teori ini menjelaskan bahwa dinamika dan interaksi di dalam keluarga sangat memengaruhi perkembangan mental seseorang. Menurut Adler, setiap posisi lahir memiliki kecenderungan karakter yang spesifik:

1. Anak Pertama (First-Born Child)

Sebagai anak yang lahir duluan, mereka mendapatkan perhatian penuh dan sumber daya dari orang tua yang baru pertama kali punya anak. Karena orang tua masih belajar dan cenderung cemas, gaya pengasuhan biasanya jadi lebih ketat, penuh aturan, dan berhati-hati. Dampaknya, anak pertama sering tumbuh menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, perfeksionis, tapi juga rentan mengalami “oldest-child syndrome” alias gila kerja, dan merasa harus selalu memegang kontrol.

2. Anak Tengah (Middle Child)

Anak tengah sering terjebak di posisi terjepit. Di satu sisi mereka merasa bayang-bayang si kakak terlalu besar, di sisi lain perhatian orang tua teralihkan ke si adik. Untuk mengatasi hal ini, anak tengah biasanya mencari perhatian di luar lingkaran keluarga. Karakter mereka cenderung mandiri, pandai bergaul, fleksibel, dan pandai menjadi penengah konflik (peacemaker). Tapi mereka bisa jadi people pleaser (selalu ingin menyenangkan orang lain), gampang cemburu, kompetitif, dan diam-diam merasa tidak aman (insecure).

3. Anak Terakhir (Last Child)

Sering disebut sebagai “anak bawang” atau si bungsu yang paling dimanja. Karena orang tua sudah jauh lebih berpengalaman (dan biasanya sudah terlalu sibuk), pola asuh yang diterapkan cenderung santai atau laissez-faire (bebas-bebas saja). Si bungsu kerap digambarkan sebagai sosok yang menyenangkan, berjiwa bebas, dan berani mengambil risiko. Tapi, mereka juga punya kecenderungan manja, egois, tidak dewasa, dan manipulatif karena terbiasa mendapatkan apa yang mereka mau.

4. Anak Tunggal (Only Child)

Anak tunggal adalah kasus yang unik. Mereka mirip anak pertama karena menerima 100% perhatian dan fasilitas dari orang tua tanpa perlu berbagi. Karena lebih sering berinteraksi dengan orang dewasa, anak tunggal biasanya tumbuh menjadi pribadi yang matang sebelum waktunya, rajin, imajinatif, dan mandiri. Tapi, ekspektasi tinggi dari orang tua membuat mereka rentan menjadi seorang perfeksionis yang obsesif dan sangat sensitif terhadap kritik.

Bagaimana Urutan Lahir Berpengaruh ke Hubungan?

Teori kepribadian di atas kemudian diadopsi ke dalam hubungan romantis. Dr. Avigail Lev, seorang terapis asal San Francisco, menjelaskan dalam artikel tersebut berpendapat bahwa urutan lahir memengaruhi cara kita membangun koneksi dan bertingkah laku saat pacaran.

Peran dalam Hubungan

Anak pertama biasanya sering mengambil peran sebagai pengasuh. Mereka sangat suportif dan melindungi, tapi kalau kebablasan, pasangan mereka akan merasa seperti sedang dididik oleh orang tua sendiri ketimbang didampingi pacar. Sedangkan anak tengah lebih santai dan fleksibel. Mereka adalah tipe pasangan yang mengikuti arus dan tidak suka memicu keributan besar. Anak terakhir membawa energi yang ceria ke dalam hubungan. Tapi suka melemparkan tanggung jawab berat ke pundak pasangannya demi mempertahankan kenyamanan mereka sendiri.

Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan

Standar Ekspektasi

Anak pertama biasanya menaruh standar dan ekspektasi yang kelewat tinggi pada pasangan, sehingga gampang kecewa. Anak tengah selalu menuntut keadilan, memastikan kedua belah pihak berkontribusi sama besar dalam hubungan. Sementara si bungsu, sering memiliki pandangan yang terlalu idealis (bahkan naif) tentang komitmen karena terbiasa disuapi kenyamanan.

Dr. Lev juga menambahkan adanya dinamika kompetisi antar-saudara sekandung yang kebawa sampai dewasa. Namun, gender di sini juga berpengaruh, kakak perempuan (older sister) cenderung menjadi figur yang mengayomi tapi penuh kecemasan, sementara kakak laki-laki (older brother) cenderung mengambil peran dominan tapi intimidatif. 

Realita Ilmiah: Patahnya Teori “Zombie”

Membaca penjelasan Dr. Lev dan Alfred Adler di atas mungkin membuatmu mengangguk-angguk setuju karena terasa cocok dengan pengalaman pribadimu. Tapi tunggu dulu. Sains modern ternyata tidak sepakat dengan generalisasi ini.

Sebuah studi masif yang dilakukan oleh Rodica I. Damian dan Brent W. Roberts (2015) yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), secara tegas mematahkan mitos urutan lahir ini. Studi tersebut menganalisis data kepribadian dari ratusan ribu sampel untuk melihat apakah urutan lahir bisa membentuk karakter seseorang. Hasil korelasinya bahkan mendekati angka nol.

Penelitian Damian dan Roberts menunjukkan bahwa variasi karakter seperti tingkat keramahan, stabilitas emosional, atau keterbukaan pikiran seseorang tidak dipengaruhi oleh status apakah dia anak pertama, tengah, atau bungsu. Karakter “si dominan” atau “si manja” yang selama ini dilekatkan pada urutan lahir ternyata tidak memiliki fondasi ilmiah yang kuat dalam psikologi empiris.

Damian dan Roberts bahkan menyebut teori urutan lahir ini sebagai Zombie Theory—sebuah teori yang secara pembuktian ilmiah sebenarnya sudah mati dan dikubur, tapi entah kenapa tetap hidup, berjalan, dan dipercaya oleh masyarakat luas. Kenapa kita masih sering merasa teori ini benar? Karena adanya bias usia. Kita melihat anak pertama lebih dewasa daripada adiknya bukan karena urutan lahirnya, melainkan karena dia memang hidup beberapa tahun lebih lama (lebih tua) sehingga perkembangan otaknya lebih matang saat diamati. Saat mereka sama-sama berusia 30 tahun, perbedaan karakter bawaan lahir itu menguap begitu saja.

Jangan Jadikan Urutan Lahir Kompas Hubunganmu!

Kepribadian manusia itu terlampau kompleks untuk dikotak-kotakkan hanya berdasarkan urutan keluar dari rahim. Karakter kepribadianmu dan bagaimana caramu memperlakukan pasangan dibentuk oleh kombinasi rumit antara genetik, trauma masa kecil, pola asuh, lingkungan pertemanan, status sosial-ekonomi, gaya kelekatan (attachment style), hingga pilihan-pilihan sadar yang kamu ambil sebagai orang dewasa.

Menjadikan konten-konten birth order di TikTok sebagai bahan seru-seruan atau topik obrolan saat kencan pertama tentu tidak ada salahnya. Hal itu bisa jadi jembatan yang bagus untuk saling menceritakan masa kecil masing-masing. Namun, jangan menjadikannya standar mutlak untuk menilai kecocokan atau bahkan memutus hubungan.

Karena hubungan yang sehat tidak lahir berdasarkan silsilah keluarga, tetapi diusahakan bersama lewat komunikasi yang jujur, kompromi, dan kemauan untuk saling bertumbuh setiap harinya. 

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.