Bincangperempuan.com- Ketika membahas tentang kesetaraan gender, kita sering kali mendengar argumen skeptis seperti “Bukannya patriarki itu justru memuliakan perempuan? Bukankah enak jadi perempuan yang dilindungi, tidak perlu bekerja keras mencari nafkah, dan cukup di rumah saja?” Narasi ini seolah menawarkan kesepakatan yang menggiurkan.
Jika laki-laki menjalankan perannya sebagai pelindung dan pencari nafkah, dan perempuan menjalankan peran domestiknya di rumah, maka semua akan baik-baik saja. Lantas apakah perlindungan ini gratis, atau ada harga mahal yang harus dibayar perempuan?
Di balik janji perlindungan sistem patriarki, terselip sebuah mekanisme yang jarang dibahas yaitu toxic femininity. Jika selama ini kita lebih sering mendengar toxic masculinity—beban laki-laki untuk selalu kuat dan pantang terlihat rentan, maka toxic femininity adalah sisi mata uang lainnya yang memaksa perempuan untuk mengerdilkan diri sendiri demi kenyamanan sistem.
Baca juga: Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan
Apa Itu Toxic Feminity?
Mengutip dari Psychology Today, toxic femininity terjadi ketika perempuan mengekspresikan sifat-sifat yang secara stereotip dianggap feminin secara berlebihan, seperti pasivitas, empati yang tidak terbatas, kesabaran, dan kelembutan, hingga di titik mengabaikan kebutuhan mental maupun fisik mereka sendiri demi orang lain. Pada konteks patriarki, “demi orang lain” ini hampir selalu berarti demi menyenangkan laki-laki. Secara sederhana, toxic femininity adalah bentuk dari misogini yang terinternalisasi. Ini adalah upaya membatasi perilaku diri sendiri agar sesuai dengan standar tradisional yang dianggap “pantas” atau “menarik” bagi laki-laki.
Melansir Healthline, istilah ini mulai masuk ke arus utama sekitar tahun 2018 melalui tulisan psikolog sosial Devon Price dan jurnalis Jane Gilmore. Penting untuk diketahui bahwa toxic femininity bukanlah berarti memandang buruk sifat feminin itu sendiri, tetapi tekanan sistemik yang memaksa perempuan untuk harus patuh pada sifat tersebut meski mengorbankan kesejahteraan dirinya sendiri.
Bagaimana Wujud Toxic Femininity di Sekitar Kita?
Toxic femininity sering kali tidak datang dari laki-laki secara langsung, melainkan melalui sesama perempuan yang telah terinternalisasi nilai-nilai patriarki. Pernahkah kamu mendengar atau melihat situasi berikut?
- Menyalahkan Korban (Victim Blaming)
Saat seorang perempuan bercerita tentang pasangannya yang abusif, alih-alih didukung, ia malah ditegur dengan kalimat seperti “Mungkin kamu kurang melayani suami,” atau “Coba lebih sabar dan lembut lagi, laki-laki memang begitu.” Di sini, kelembutan dan kesabaran dipaksakan sebagai solusi atas kekerasan.
- Standar “Perempuan Baik-Baik”
Adanya tekanan bahwa perempuan yang baik-baik adalah mereka yang submisif, penurut, dan berorientasi penuh pada domestik (kerja rumah tangga). Sedangkan perempuan yang ambisius atau vokal sering dicap “kurang feminin” atau “sulit diatur.”
- Glorifikasi Pengorbanan Diri yang Berlebihan
Menganggap bahwa martabat tertinggi perempuan adalah saat ia bisa menderita dalam diam demi keutuhan keluarga, meskipun kesehatan fisik dan mentalnya hancur. Misalnya ada tekanan untuk melahirkan dan menyusui normal bagi perempuan yang baru saja menjadi ibu. Padahal tak semua kondisi tubuh perempuan prima untuk memenuhi standar tersebut. Ada kondisi-kondisi medis yang mengharuskan sebagian perempuan melakukan operasi caesar dan menggunakan alat bantu saat menyusui. Beban ini kian berat dengan adanya double burden atau beban ganda. Peran pengasuhan anak hampir selalu dititikberatkan hanya pada pundak perempuan. Jika di dalam rumah tersebut juga ada lansia yang harus dirawat, beban perempuan menjadi berlipat ganda sebagai pengasuh utama (caregiver), sementara kebutuhan dirinya sendiri diletakkan di urutan paling terakhir.
Padahal sifat-sifat seperti empati, sopan santun, dan kasih sayang pada dasarnya adalah nilai kemanusiaan yang positif. Tapi, ketika sifat-sifat ini berubah menjadi keharusan bagi satu gender tertentu ini menjadi toksik. Sehingga sering kali seorang perempuan merasa bersalah hanya karena ingin bersikap tegas, menetapkan batasan (boundaries), atau memilih untuk mandiri. Dalam sistem yang timpang, kebaikan hati perempuan kerap dijadikan senjata untuk melanggengkan penindasan terhadap dirinya sendiri.
Baca juga: Pelakor dan Patriarki: Saat Film Menyalahkan Perempuan atas Retaknya Rumah Tangga
Benarkah Patriarki Menguntungkan Perempuan?
Kembali ke pertanyaan awal, benarkah patriarki benar-benar melindungi perempuan? Jika kita melihat paparan mengenai toxic feminity, “perlindungan” yang ditawarkan patriarki bersifat transaksional dan bersyarat. Perempuan diberikan keamanan hanya jika mereka setuju untuk tetap berada di ranah domestik, bungkam, dan patuh.
Ketika perempuan ditempatkan sepenuhnya di ranah domestik tanpa kekuatan ekonomi, mereka menjadi sangat rentan. Jika pelindung mereka (laki-laki) berubah menjadi pelaku kekerasan atau mendadak hilang, perempuan tersebut tidak memiliki jaring pengaman karena selama ini aksesnya terhadap dunia luar dan kemandirian finansial diputus atas nama perlindungan.
Keamanan yang bergantung mutlak pada kepatuhan terhadap pemegang kekuasaan itu bukanlah keadilan. Itu adalah ketimpangan yang dibungkus dengan narasi demi “menjaga perempuan” . Padahal dalam sistem ini, perempuan tidak dianggap sebagai subjek yang berdaulat, melainkan objek yang harus dijaga selama mereka mengikuti aturan yang dibebankan kepada mereka.
Toxic femininity adalah alat yang digunakan untuk memastikan perempuan tetap betah dalam sangkar emas tersebut. Menolak toxic femininity bukan berarti menolak sifat feminin; tetapi menolak paksaan untuk menjadi submisif dan menuntut hak untuk menjadi manusia seutuhnya— boleh kuat, boleh ambisius, dan berhak aman tanpa syarat kepatuhan.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa perlindungan terbaik bagi perempuan bukanlah dengan bersandar pada sistem yang menindasnya, tetapi melalui pemberdayaan, solidaritas sesama perempuan, dan sistem hukum yang adil bagi semua gender.
Referensi:
- Bosson, J. K., & Michniewicz, K. S. (2019). Toxic Femininity: What It Is and Why It Matters. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/sex-sexuality-and-romance/201908/toxic-femininity
- Raypole, C. (2021). What Is Toxic Femininity? Examples and How to Respond. Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/toxic-femininity





Comments are closed.