Mubadalah.id – Sebagai seseorang yang Alhamdulillah pernah mengenyam dunia pendidikan kampus, ada satu hal yang ingin saya bagikan melalui teman-teman pembaca di sini. Hal itu adalah salah satu realita tentang kehidupan pasca wisuda, saat kita sudah menjadi sarjana, dan saat kita telah berhadapan dengan realita dunia kerja.
Bagi yang sudah malang melintang di kehidupan life after campus selama beberapa tahun, pasti sudah paham betul bagaimana pahitnya dunia kerja. Ya, salah satunya adalah tentang proses seleksi dalam bursa kerja yang terbuka. Sependek pengalaman dan pengetahuan penulis, dunia ini telah Allah SWT ciptakan secara berpasang-pasangan. Ada halal, ada haram. Baik, ada buruk. Dan ada pantas, ada tak pantas.
Nah, dalam hal proses seleksi penerimaan bursa kerja ini juga berlaku hal demikian dalam realita yang berjalan selama ini. Ada jalan baik, ada jalan tak baik. Jalan baik itu bernama networking, di mana kita dapat mendapatkan pekerjaan atau lolos seleksi penerimaan kerja berkat usaha keras dan cerdas kita dalam berjejaring dalam masyarakat sosial.
Nepotisme
Sementara jalan buruk itu bernama nepotisme, di mana kita dapat memperoleh pekerjaan berkat cara-cara yang jauh dari kata baik. Yakni memanfaatkan “orang dalam”, atau berhasil masuk melalui uang pelicin yang disiap-suapkan kepada oknum tertentu.
Kalau kita memilih jalan networking (berjejaring), sudah pasti jalan ini berat, lama prosesnya, dan belum tentu berhasil. Di samping itu, dalam jalan “kebaikan” ini, kita juga harus siap untuk dicurangi, untuk dimusuhi, dan mendapat perlakuan secara tidak adil. Mungkin secara kompetensi, kita di atas rata-rata. Tapi, jika berhadapan dengan uang suap yang membinarkan mata, kita bisa apa?
Kemudian, kalau kita memilih jalan nepotisme, sekilas kita memang memilih jalan pintas. Kita seolah memang dapat lebih cepat sampai pada tujuan, di samping lebih pasti peluang kemenangannya. Tapi, yang jadi pertanyaan, apakah jalan itu baik? Apakah harta yang kita cari dan kelak akan kita makan, juga akan kita nafkahkan kepada keluarga itu halal bila kita dapatkan melalui pekerjaan hasil jalan nepotisme?
Padahal, Allah SWT dalam QS At-Tahrim ayat 6, dengan tegas telah berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Berdasarkan ayat di atas, dengan begitu jelas Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga diri sendiri dan juga keluarga kita dari api neraka. Maksud dari menjaga diri sendiri dan keluarga dari api neraka adalah dengan menjauhi segala hal yang menjerumuskan kita dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan. Sehingga, hasil akhirnya kelak adalah mengakibatkan diri kita dan keluarga masuk dalam neraka.
Masih dari ayat yang sama, bukankah telah dapat kita pahami kiranya bahwa jalan nepotisme bukanlah sesuatu yang halal? Bukankah ia adalah jalan yang jelas diharamkan dalam mencari pekerjaan? Padahal hasilnya akan kita gunakan untuk kebutuhan hidup atau sebagai nafkah bagi keluarga. Oleh sebab itu, sebisa mungkin kita kenali dan jauhi betul-betul jalan nepotisme ini. Di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun.
Meningkatkan Kompetensi Diri
Teman-teman, adalah betul adanya bahwa mencari penghasilan yang halal di zaman ini memang sangat-sangat berat. Bahkan mencari yang haram saja juga sudah mulai harus berkompetisi, bukan?
Tapi percayalah, saat kita mengaku sebagai umat Islam sejati, dan benar-benar menyematkan identitas tersebut dalam sanubari, integritas dan keteguhan hati kita akan tetap kokoh dan tak mudah terkotori oleh jalan-jalan yang tidak diridhai-Nya. Kita tetap akan mengusahakan jalan halal dalam memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga. Semampu kita, sekuat usaha kita.
Memang demikianlah kenyataan dunia kerja yang ada. Kita tak perlu kaget, karena kita sudah mengetahuinya sejak jauh-jauh hari, atau minimal sejak membaca tulisan ini. Melalui tulisan ini, saya ingin berpesan sekali lagi kepada diri sendiri dan teman-teman pembaca semuanya, agar benar-benar menjauhi jalan nepotisme ini. Sebuah jalan yang sejatinya tidak hanya haram secara agama, tetapi juga juga merugikan banyak pihak dalam hukum positif dan tatanan kehidupan sosial.
Dengan mengetahui kenyataan demikian ini, sebagai sarjana, mari kita bersama-sama lebih bersiap diri menghadapi realita dunia kerja. Dengan meningkatkan kompetensi atau upgrade kualitas diri, dan memperluas jejaring dan relasi. Selain itu enantiasa memohon pertolongan Allah SWT agar senantiasa memudahkan segala urusan kita. Tujuannya agar kita tetap senantiasa berada di jalan yang Dia meridhainya, bukan di jalan yang Dia tunjukkan kemurkaan-Nya di dalamnya. Aamiin. Wallahu a’lam. []





Comments are closed.