Bincangperempuan.com– Realitas hidup bagi perantau di kota besar mungkin terasa sepi di tengah keramaian. Berangkat kerja pagi hari, berkutat dengan tumpukan tugas 9-5, dan pulang dalam kondisi energi yang sudah terkuras habis. Jangankan mencari teman baru, untuk sekadar membalas pesan teman lama saja rasanya butuh usaha luar biasa.
Ingatkah saat kita masih kecil? Mencari teman rasanya semudah bernapas. Kita dikelilingi oleh teman bermain di sekolah atau taman. Di masa kuliah pun, pertemanan tumbuh subur karena sering bertemu di kampus. Namun, ketika memasuki usia dewasa, mempertahankan apalagi membangun pertemanan malah jadi misi yang sangat sulit. Pertemanan sering tergeser oleh prioritas pekerjaan, pasangan, urusan rumah tangga, dan tanggung jawab orang dewasa lainnya. Akibatnya mencari teman dekat atau sahabat tak semudah di masa muda.
Fase “Emerging Adulthood” dan Titik Balik Pertemanan
Menurut Jeffrey Jensen Arnett, profesor psikologi dari Clark University, masa emas pertemanan terjadi di fase emerging adulthood (usia 18-29 tahun). Di masa ini, jumlah dan intensitas interaksi sosial kita berada di titik tertinggi. Kuliah, organisasi, atau awal karier mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Tetapi, setelah melewati fase ini, struktur pendukung pertemanan perlahan memudar.
Berbeda dengan hubungan keluarga yang diikat oleh darah, pertemanan bersifat sukarela. Sifatnya yang fleksibel ini justru membuatnya mudah goyah, terutama saat hidup kita berubah seperti pindah kota demi kerja, menikah, atau memiliki anak.
Psikolog Marisa Franco dalam wawancara yang dimuat American Psychologist Association menyebutkan bahwa setelah masa kuliah, lingkungan yang memfasilitasi interaksi alami menghilang. Sehingga jumlah teman cenderung menurun seiring bertambahnya usia.
Marisa juga menambahkan ada teori bernama socio-emotional selectivity hypothesis. Teori ini menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, kita secara sadar lebih memilih kualitas daripada kuantitas. Kita mulai menyadari bahwa waktu kita terbatas, sehingga kita hanya ingin menghabiskannya dengan orang-orang yang benar-benar berarti. Sehingga lingkup pertemanan justru jadi semakin kecul seiring bertambahnya usia.
Baca juga: Dilema Etis Bayi Tabung di Indonesia: Hak Orang Tua Vs Kelayakan Hidup Anak
Kesepian: Krisis Kesehatan yang Nyata
Namun, ada sisi gelap dari mengecilnya lingkaran sosial ini. Penelitian terbaru, bahkan sebelum pandemi, menunjukkan bahwa jumlah orang yang tidak memiliki teman sama sekali meningkat empat hingga lima kali lipat dibanding dekade lalu. Fenomena ini lebih parah terjadi pada laki-laki.
Marisa Franco menegaskan bahwa ini adalah krisis kesehatan publik. Karena kesepian secara medis terbukti sama beracunnya dengan merokok 15 batang sehari. Bagi manusia sebagai makhluk sosial, koneksi bukan hanya hiburan, tetapi inti dari identitas dan kesehatan kita. Tanpa teman, kita kehilangan tempat untuk mengeksplorasi diri dan merasa utuh tanpa dihakimi.
Mitos Pertemanan Alami dan “Liking Gap”
Salah satu hambatan terbesar orang dewasa dalam mencari teman adalah kepercayaan pada mitos bahwa pertemanan harus terjadi secara alami tanpa diusahakan. Padahal, sains membuktikan bahwa orang yang menganggap pertemanan butuh usaha justru lebih jarang merasa kesepian.
Hambatan lainnya adalah rasa takut ditolak. Kita sering merasa ragu untuk menyapa duluan karena takut dianggap aneh atau tidak disukai. Ada fenomena yang disebut liking gap—perasaan takut tidak disukai setelah berinteraksi orang lain. Padahal orang lain kemungkinan besar menyukaimu lebih dari yang kamu duga.
Tantangan Setelah Pandemi dan Jebakan Media Sosial
Pandemi COVID-19 juga memperparah kondisi ini. Kita terbiasa hidup dalam “gelembung” yang sempit. Kebiasaan sosial kita mengalami penyusutan. Daniel Cox dari Survey Center on American Life mencatat bahwa setelah 2020, orang Amerika melaporkan lebih sedikit memiliki teman dekat dan lebih jarang mengandalkan teman untuk dukungan personal.
Di saat yang sama, media sosial menciptakan paradoks. Kita melihat kehidupan orang lain di Instagram tampak sangat seru dan penuh teman, yang memicu FOMO (Fear of Missing Out) serta rasa malu karena merasa lingkaran sosial kita tidak sekeren mereka. Padahal, apa yang tampak di layar belum tentu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.
Baca juga: Benarkah Patriarki Bisa Lindungi Perempuan? Mengenal Toxic Feminity
Lantas Bagaimana Menjaga Pertemanan di Tengah Kesibukan?
Marisa Franco memberikan beberapa tips praktis untuk menjaga kewarasan sosial kita:
- Jadwalkan Secara Rutin
Jangan menunggu waktu luang (karena tidak akan pernah ada). Buat jadwal rutin, misalnya nongkrong sebulan sekali, agar interaksi terjadi secara otomatis tanpa perlu membahas wacana ketemu.
- Gunakan Metode “Anchor”
Gabungkan pertemanan dengan tujuan pribadi. Mau hidup sehat? Ajak teman jalan pagi. Mau belajar masak? Ajak teman masak bareng. Ini memberikan alasan dan keteraturan untuk terus berinteraksi.
- Asumsikan Orang Lain Menyukai kamu
Gunakan pola pikir ini saat ingin menghubungi teman lama. Jangan berpikir “ah, dia pasti sudah sibuk dan lupa sama aku,” tapi berpikirlah “dia mungkin juga mau mendengar kabar dariku.”
- Komunikasi yang Terbuka
Pertemanan yang dalam membutuhkan keterbukaan emosional. Hal ini sering menjadi kendala bagi laki-laki karena adanya stigma bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh emosional (sering dikaitkan dengan ketakutan dianggap tidak maskulin). Padahal, membicarakan hal-hal yang jujur dan rentan justru memperkuat ikatan.
Menilai Kualitas Pertemanan
Terlepas dari usaha menjaga pertemenanan, sebenarnya tidak semua pertemanan layak dipertahankan. Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik (reciprocity) dan afirmasi identitas. Teman yang baik adalah mereka yang mendukungmu menjadi versi diri yang kamu inginkan, bukan mereka yang memaksakan kehendak atau hanya peduli pada kebutuhan mereka sendiri.
Jika kamu merasa di-ghosting, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Mungkin orang tidak membalas pesan bukan karena benci atau abai, tapi karena mereka sendiri sedang berjuang dengan beban hidupnya. Tapi, jika ini menjadi pola yang berulang dan tidak ada usaha timbal balik, mungkin itu saatnya untuk mengevaluasi kembali investasi emosionalmu.
Membangun pertemanan di usia dewasa memang berisiko—ditolak, kecewa, atau risiko membuang waktu. Namun, koneksi emosional adalah hal yang menakutkan sekaligus paling indah yang bisa kita miliki. Di tengah dunia yang semakin individualis, memiliki satu atau dua sahabat juga merupakan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Referensi
- Miller, K. J. (2025). Why Making New Friends as an Adult Is So Hard. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/i-hear-you/202507/why-making-new-friends-as-an-adult-is-so-hard
- Mills, A. S. (2024). Speaking of Psychology: Why adult friendships are so important and so hard to maintain, with Marisa G. Franco, PhD. American Psychological Association. https://www.apa.org/news/podcasts/speaking-of-psychology/adult-friendships





Comments are closed.