Mon,3 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Aktivis Pendidikan Soroti Diskriminasi Sekolah terhadap Siswa Tak Lolos PTN

Aktivis Pendidikan Soroti Diskriminasi Sekolah terhadap Siswa Tak Lolos PTN

aktivis-pendidikan-soroti-diskriminasi-sekolah-terhadap-siswa-tak-lolos-ptn
Aktivis Pendidikan Soroti Diskriminasi Sekolah terhadap Siswa Tak Lolos PTN
service

Jakarta, NU Online

Pascapengumuman seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN), sejumlah sekolah kerap menampilkan ucapan selamat melalui banner kepada siswa yang dinyatakan lolos.

Namun di sisi lain, siswa yang tidak lolos atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sering kali luput dari perhatian, bahkan cenderung diposisikan sebagai “kelas dua”.

Fenomena ini mendapat sorotan dari seorang aktivis pendidikan sekaligus Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Ia menilai praktik tersebut sebagai bentuk diskriminasi yang berakar dari budaya dan sistem pendidikan yang terlalu menekankan capaian yang bersifat material dan terukur.

Menurutnya, orientasi pendidikan seperti ini tidak lepas dari pengaruh pendekatan lama yang berkembang sejak revolusi industri 2.0, di mana kualitas sumber daya manusia dinilai berdasarkan indikator angka dan capaian formal.

“Sumber daya manusia (SDM) yang baik seolah-olah adalah yang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam angka. Misal SMQ (Standar Mutu Pendidikan) yang baik dihitung berdasarkan jumlah anak yang masuk universitas favorit, demikian juga SMP yang baik, yang banyak piala dan prestasi serta muridnya banyak diterima di SMA favorit,” jelasnya kepada NU Online pada Kamis (2/4/2026) hari ini.

“Semuanya diukur dari sesuatu yang dilihat dan diukur. Itu namanya pendekatan human capital,” tandasnya.

Ia menambahkan, kompetisi yang berfokus pada capaian, peringkat, jumlah prestasi, serta eksposur terhadap keberhasilan tersebut pada akhirnya hanya bermuara pada validasi eksternal.

“Kompetisi ini menyebabkan diskriminasi besar-besaran pada anak-anak yang marginal. Misal tidak mampu, atau kompetensinya bukan di akademik,” jelasnya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini kemudian mengutip pemikiran ekonom dan filsuf India, Amartya Sen, yang menekankan bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga ketidakmampuan manusia untuk berkembang secara utuh.

Ia mencontohkan, siswa yang unggul secara akademik tetapi tidak memiliki empati, mengalami kekosongan batin, atau kesulitan berinteraksi sosial, juga dapat dikategorikan sebagai bentuk kemiskinan.

“Itu juga kemiskinan kompetensi atau bisa juga terjadi kemiskinan kompetensi moral,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Novi menekankan pentingnya pergeseran paradigma pendidikan, dari pendekatan human capital (capitalism approach) menuju pendekatan kapabilitas (capability approach) sebagaimana digagas oleh Amartya Sen. Pendekatan ini menekankan aspek-aspek yang tidak selalu dapat diukur secara kuantitatif.

“Percuma anak punya sepeda bagus dan banyak, jika ia tidak merasa aman mengendarai sepeda itu di jalanan. Artinya, rasa aman mestinya menjadi sebuah budaya yang dihadirkan di pendidikan,” terangnya.

“Gedung besar, banyak, tapi anak-anak tidak punya kemerdekaan berpikir?” lanjutnya mempertanyakan.

Ia juga menyoroti pentingnya pembentukan moral, karakter, serta aspek perkembangan manusia lainnya yang tidak kasatmata dan tidak selalu terukur dalam sistem pendidikan.

“Misal kesehatan, ketenangan, rasa mereka, integritas, interaksi sosial, dan lain-lain,” tuturnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.