Kerentanan yang terjadi pada perempuan Gen Z sering dibaca secara mainstream sebagai persoalan kesehatan mental atau gaya hidup.
Padahal, ada lapisan kerentanan lain yang jarang dibicarakan, yaitu tekanan untuk selalu produktif dan selalu tampak berhasil.
Tekanan ini tidak hanya bersifat personal. Tetapi juga dibentuk oleh struktur sosial, budaya, dan ekonomi digital yang terus mendorong individu untuk menjadikan hidupnya sebagai proyek tanpa henti.
Narasi populer di media sosial, misalnya melalui template video “a day in my life” yang kerap dibagikan para influencer. Di dalamnya hampir selalu muncul pola yang sama: bangun pagi, berolahraga, bekerja, mengembangkan side hustle, membaca buku pengembangan diri, menghadiri pertemuan, dan menutup hari dengan refleksi produktif. Sekilas tampak ringan dan personal. Tetapi secara tidak langsung konten seperti ini membentuk standar baru tentang bagaimana perempuan muda seharusnya menjalani hidup.
Hidup yang tidak sibuk atau tidak tampak berkembang akan diposisikan sebagai hidup yang tidak sesuai dengan standar perempuan Gen Z yang ideal.
Standar itu sejatinya dibentuk oleh pertemuan antara patriarki dan kapitalisme. Patriarki, sebagai sistem sosial, telah menempatkan perempuan dalam posisi harus terus membuktikan diri, mendorong mereka untuk selalu cantik, rajin, dan patuh pada standar.
Baca Juga: Sebagai Gen Z, Saya Bukan Acuh, Tapi Justru Marah dengan Kondisi Politik Hari Ini
Sementara itu, kapitalisme mengadopsi logika tersebut dan mengubahnya menjadi tuntutan produksi tanpa henti. Individu didorong untuk terus meningkatkan diri, mengoptimalkan waktu, dan mengukur hidup melalui pencapaian yang harus selalu tampak di permukaan.
Dalam konteks ini, produktivitas tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, melainkan ukuran nilai diri. Survei Global Gen Z and Millennial tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari empat dari sepuluh Gen Z melaporkan merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu. Sebagian besar mengaitkannya dengan tekanan finansial, ketidakpastian masa depan, serta tuntutan kinerja yang terus meningkat. Data ini bukan hanya menunjukkan tingginya tingkat stres. Tetapi juga memperlihatkan bahwa generasi muda hidup dalam kondisi psikologis yang rapuh secara struktural.
Jika tekanan tersebut dialami oleh Gen Z secara umum, perempuan menghadapi lapisan tambahan yang membuat situasinya lebih kompleks. Mereka tidak hanya dituntut produktif sebagai pekerja, tetapi juga sebagai tubuh yang harus tampil, sebagai individu yang harus menyenangkan, dan sebagai figur sosial yang harus selalu terlihat berhasil. Mereka bekerja di bawah tatapan publik yang tajam, kritik yang lebih personal, dan ekspektasi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Laki-laki Gen Z, Beneran ‘Woke’ atau Hanya Pura-Pura? ‘Kenalan’ dengan Performative Male
Di sinilah konsep toxic femininity dapat kita pahami. Toxic femininity adalah tuntutan pada perempuan untuk patuh, pasif dan lemah lembut. Ini merujuk pada situasi ketika standar feminin yang tampak positif seperti mandiri dan sukses berubah menjadi alat untuk saling mengawasi dan menghakimi.
Gagasan ini sejalan dengan penjelasan Sandra Bartky dalam esainya Foucault, Femininity, and the Modernization of Patriarchal Power (1990) dan Rosalind Gill dalam bukunya Gender and the Media (2007) tentang budaya self-surveillance. Mereka mengatakan, perempuan didorong untuk terus mengawasi diri dan orang lain agar sesuai dengan standar yang berlaku.
Konsep ini tidak berarti perempuan menjadi pelaku utama penindasan. Melainkan menunjukkan betapa dalamnya nilai patriarki diamini, hingga perempuan dapat menjadi perpanjangan tangan sistem yang menekan mereka. Sebagaimana ketika nilai diri perempuan diikat pada pencapaian yang harus selalu terlihat. Menjadi tidak produktif atau tidak memperlihatkan sisi produktif di media sosial terasa seperti kegagalan. Hingga produktivitas berubah menjadi bentuk kekerasan: perempuan belajar memaksa diri tetap bergerak dan selalu menghasilkan, bahkan ketika lelah.
Baca Juga: Green Jobs, Benarkah Diminati Gen Z?
Tekanan untuk terus berfungsi tanpa jeda itu dalam jangka panjang dapat bermuara pada burnout. Yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat stres berkepanjangan dan tuntutan kerja yang tidak berhenti.
Burnout menjadi salah satu dampak paling nyata dari kelelahan produktivitas ini. Tetapi sering kali tidak dikenali karena kelelahan justru dipandang sebagai konsekuensi wajar dari menjadi ambisius dan “aktif”.
Situasi tersebut semakin kompleks karena kapitalisme digital turut memonetisasi kerentanan ini. Platform media sosial tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga pasar perhatian. Kehidupan pribadi berubah menjadi konten, dan kerja tanpa henti menjadi identitas.
Perempuan yang memilih berhenti berisiko tenggelam dalam algoritma, tetapi mereka yang terus bergerak justru semakin terjebak dalam siklus yang melelahkan. Di sisi lain, gagasan tentang perempuan independen seringkali diasosiasikan dengan kemampuan untuk terus produktif. Tanpa melihat bahwa tuntutan untuk selalu mampu melakukan segalanya juga dapat menjadi bentuk penindasan baru. Singkatnya, tidak semua perempuan ingin menjadi mesin produktivitas, dan tidak seharusnya mereka dipaksa menjadi demikian agar dianggap bernilai.
Menggeser makna produktivitas bukan berarti menolak bekerja keras. Melainkan menolak gagasan bahwa nilai seorang perempuan ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas yang bisa ia tanggung sekaligus. Selama produktivitas terus dijadikan ukuran nilai diri, perempuan muda akan hidup dalam siklus pembuktian melelahkan tanpa akhir.
Dalam budaya yang memuja kesibukan di era kapitalisme ini, mengambil jeda atau sekadar memilih mematikan kamera sejenak menjadi bentuk perlawanan yang sederhana dalam menentukan standar aktivitas yang bisa kita bentuk sendiri.





Comments are closed.