Mubadalah.id – Bagi saudara-saudara kita umat Kristiani, Tri Hari Suci Paskah merupakan momen sakral untuk merayakan kebangkitan rohani. Namun, perayaan Paskah pada 2-5 April 2026 di Yerusalem dan Gaza lumpuh total. Otoritas Israel menutup serta membarikade Gereja Makam Suci (Holy Sepulchre).
Akibatnya, Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, harus menggelar Misa secara tertutup dengan jemaat yang sangat terbatasi. Paskah tahun ini bagi umat Kristen Palestina menjadi reka ulang nyata dari sejarah penindasan di tanah tempat kisah tersebut bermula.
Pontius Pilatus Modern Bernama Board of Peace
Dua ribu tahun lalu, Pontius Pilatus berdiri di persimpangan antara kebenaran dan kekuasaan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Yesus, sosok yang diadili di hadapannya, sama sekali tidak bersalah. Namun, demi menjaga stabilitas politik Kekaisaran Romawi dan meredam gejolak massa, ia memilih mencuci tangannya. Dengan menyerahkan sang pesakitan untuk disalib. Hari ini, lakon pengadilan korup dan cuci tangan tersebut diperankan kembali secara kolektif oleh komunitas internasional dengan wujud paling vulgar pada lembaga Board of Peace (BoP).
Lembaga bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini mengklaim diri sebagai pelopor perdamaian. Kenyataannya, BoP beroperasi murni sebagai klub investasi eksklusif yang terkendalikan oleh kepentingan oligarki. Para pemangku kebijakan di dalam dewan ini melihat secara langsung ketidakadilan yang terjadi di lapangan.
Mereka mengetahui fakta pembantaian warga sipil dan perampasan ruang hidup yang berkedok operasi militer. Namun, sama seperti Pilatus, para arsitek diplomasi ini memilih untuk memalingkan wajah. Mereka mencuci tangan dari segala tanggung jawab moral demi mengamankan stabilitas ekonomi, agenda normalisasi, dan proyek properti bernilai miliaran dolar di atas tanah Gaza.
Kehadiran berbagai negara, termasuk Indonesia, di dalam dewan tersebut semakin mempertegas ironi ini. Keputusan pragmatis untuk duduk di meja yang sama dengan para makelar konflik menciptakan paradoks yang tajam. Yakni mengejar stabilitas ekonomi dan partisipasi rekonstruksi sambil membiarkan sebuah bangsa berjalan di atas rute kematiannya sendiri. Pada akhirnya, mereka meletakkan posisi diplomasi global setara dengan penguasa Romawi yang membiarkan penyaliban terjadi.
Memikul Salib dan ‘Jumat Agung’ yang Berkepanjangan
Dalam tradisi Kristiani, Via Dolorosa atau “Jalan Kesengsaraan” merujuk pada rute fisik yang ditempuh Yesus di Yerusalem. Mulai dari pengadilan Praetorium hingga bukit Golgota. Rute ini bukan sekadar jalan biasa, melainkan adalah panggung penghinaan sistematis. Di mana setiap langkah merupakan beban fisik dan mental yang luar biasa. Yesus dipaksa memikul salibnya sendiri di bawah tatapan tajam serdadu Romawi dan cemoohan massa, terjatuh berulang kali namun dipaksa bangkit demi mencapai tempat eksekusi.
Hari ini, kiasan liturgi tersebut bermutasi menjadi realitas harian yang mencekam bagi rakyat Palestina, baik Muslim maupun Kristen. “Salib” yang mereka pikul tidak lagi terbuat dari kayu, melainkan berwujud struktur penjajahan yang melumpuhkan ruang hidup. Beban itu bernama blokade militer yang mencekik denyut ekonomi, hujan bom dan peluru di Gaza, hingga teror pengusiran paksa dari rumah-rumah leluhur mereka di Tepi Barat.
Penderitaan ini mencapai puncak simbolisnya pada 30 Maret 2026. Di saat komunitas internasional bersiap menyambut Paskah, Knesset (Parlemen Israel) justru mengesahkan undang-undang yang melegalkan hukuman mati bagi tahanan Palestina melalui sistem peradilan militer. Undang-undang ini merupakan bentuk ‘penyaliban’ modern.
Sebuah vonis eksekusi sistematis yang dirancang secara diskriminatif. Jika pemukim ekstremis Israel melakukan kekerasan serupa, mereka akan diadili di pengadilan sipil dengan hak hukum yang luas. Sebaliknya, warga Palestina langsung berhadapan dengan tiang gantungan tanpa akses menuju keadilan yang setara.
Realitas ini memaksa kita untuk melihat bahwa bagi Palestina, setiap hari adalah ‘Jumat Agung’. Jika dalam teologi Kristiani Jumat Agung adalah hari peringatan wafatnya Yesus di atas salib. Maka bagi warga Palestina, ini adalah kondisi permanen di mana kematian, hukuman mati, dan perampasan martabat terus menghantui.
Jalan kesengsaraan mereka tidak berakhir di satu bukit. Melainkan memanjang di sepanjang garis blokade dan kawat berduri. Dunia menyaksikan rute penderitaan ini. Namun, melalui lembaga seperti Board of Peace (BoP), mereka memilih tetap membisu demi menjaga stabilitas proyek rekonstruksi yang transaksional.
Suara Vatikan Melawan Apatisme Global
Di tengah hingar-bingar ‘perdamaian’ transaksional yang ditawarkan Board of Peace (BoP), suara dari Basilika Santo Petrus pada Paskah 5 April 2026 hadir sebagai antitesis yang tajam. Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang menyasar langsung jantung kegagalan institusi global saat ini. Beliau menegaskan bahwa mereka yang memiliki senjata harus segera meletakkannya dan memilih jalan dialog.
Pernyataan ini membenturkan secara frontal definisi perdamaian sejati versi Vatikan dengan logika BoP yang hanya mengandalkan dominasi militer serta tekanan ekonomi. Perdamaian tidak boleh dipaksakan melalui kekuatan, melainkan harus tumbuh dari hasrat untuk merangkul, bukan mendominasi orang lain.
Paus Leo XIV juga membongkar fenomena sosiologis yang mengerikan: ‘kebiasaan akan kekerasan’. Saat ini, masyarakat internasional sedang mengidap penyakit apatis yang parah. Berita pembantaian warga sipil di Gaza atau pengesahan legalitas tiang gantungan bagi tahanan Palestina oleh Knesset Israel seolah hanya menjadi angka statistik harian yang lewat tanpa makna.
Paus mendobrak ketumpulan nurani ini dengan mengingatkan bahwa dunia tidak boleh menyerah pada kejahatan atau terus bersikap acuh tak acuh. Apatisme global adalah bentuk pengkhianatan lain terhadap kemanusiaan yang sedang tersalib di tanah Palestina.
Keteguhan Paus Leo XIV menunjukkan bahwa harapan akan perdamaian abadi di Palestina merupakan wujud dari ‘kebangkitan’ kemanusiaan global. Perdamaian tersebut menuntut kondisi di mana warga Muslim dan Kristen dapat hidup berdaulat di atas tanah mereka sendiri tanpa bayang-bayang moncong senjata.
Seruan dari Vatikan ini menjadi pengingat keras bahwa penderitaan di Palestina tidak boleh dianggap sebagai rutinitas konflik biasa. Kebangkitan nurani dunia adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri Via Dolorosa yang panjang ini, menuntut keadilan hakiki sebagai pengganti stabilitas semu yang dipaksakan.
Menggulingkan Batu Makam di Ujung Via Dolorosa
Membela hak umat Kristen Palestina untuk merayakan Paskah di Gereja Makam Suci bukanlah sekadar urusan toleransi modern. Tindakan ini merupakan eksekusi langsung dari warisan Traktat Umariyyah (Perjanjian Aelia) yang ditorehkan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada abad ke-7. Saat membebaskan Yerusalem, Khalifah Umar memberikan jaminan keamanan mutlak bagi umat Kristen, melindungi nyawa, salib, hingga gereja mereka dari segala bentuk perusakan.
Berpijak pada preseden sejarah tersebut, masyarakat global di luar tradisi teologis Paskah harus menyadari satu realitas penting. Istilah Via Dolorosa hari ini telah bermutasi. Rute tersebut tidak lagi sekadar jalur ziarah agama, melainkan kiasan faktual tentang penderitaan panjang sebuah bangsa di bawah cengkeraman rezim apartheid.
Dalam teologi Paskah, fase kebangkitan—yang menandai kemenangan atas maut—hanya terjadi setelah batu raksasa penutup makam berhasil terguling. Hari ini, “batu raksasa” yang mengubur hak hidup rakyat Palestina memiliki tiga lapisan tebal: kebisuan dunia internasional, pragmatisme ekonomi lembaga transaksional seperti Board of Peace (BoP), serta arogansi mesin militer Israel.
Selama komunitas global masih merasa nyaman memerankan Pontius Pilatus yang mencuci tangannya dari darah ketidakadilan, rakyat Palestina akan terus berjalan tanpa ujung di atas rute kematian tersebut. Perdamaian abadi tidak akan pernah lahir dari kesepakatan bisnis di atas meja oligarki. Kemerdekaan Palestina yang sejati hanya akan menyingsing ketika kemanusiaan global bersedia turun tangan secara kolektif untuk menyingkirkan batu makam penjajahan itu selamanya. []





Comments are closed.