Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Masuk Musim Kemarau tapi Mengapa Hujan hingga Banjir Masih Terjadi? Begini Penjelasannya

Masuk Musim Kemarau tapi Mengapa Hujan hingga Banjir Masih Terjadi? Begini Penjelasannya

masuk-musim-kemarau-tapi-mengapa-hujan-hingga-banjir-masih-terjadi?-begini-penjelasannya
Masuk Musim Kemarau tapi Mengapa Hujan hingga Banjir Masih Terjadi? Begini Penjelasannya
service

Jakarta, NU Online

Memasuki bulan April yang seharusnya menjadi periode peralihan menuju musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia justru masih diguyur hujan lebat bahkan disertai badai dan banjir. Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik: mengapa hujan ekstrem masih terjadi di tengah peralihan musim?

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari fase transisi menuju musim kemarau yang tidak berlangsung secara tiba-tiba.

Menurutnya, peralihan menuju musim kering justru diawali dengan meningkatnya aktivitas badai konvektif yang cenderung ekstrem. Fenomena ini ditandai dengan hujan deras yang sering disertai angin kencang hingga menyebabkan pohon tumbang.

“Transisi menuju kering itu diawali dulu dengan badai gitu dengan badai-badai konvektif ya, jadi sekali hujan anginnya kuat banget gitu, sampai pohon-pohon bertumbangan,” tutur Erma, dikutip NU Online, Jumat (10/4/2026).

Dia menyampaikan bahwa hujan deras hampir selalu disertai angin kencang sebagai satu kesatuan sistem cuaca.

“Jadi artinya ada komponen yang selalu menyertai hujan ketika terjadi, yaitu angin,” katanya.

Fenomena angin kencang ini terbentuk dari proses atmosfer yang dikenal sebagai wind gas, yang muncul saat badai berkembang.

“Apa yang membuat angin itu terbentuk begitu kuat? Itu disebut biasanya wind gas, ketika terjadi hujan deras, tidak lain tidak bukan, itulah storm atau badai gitu,” ujarnya.

Badai tersebut, lanjutnya, dihasilkan dari aktivitas konvektif yang sangat kuat di atmosfer. Kondisi tersebut saat ini diperparah oleh munculnya siklon tropis di kawasan Sub-Pasifik.

“Badai yang dibangkitkan dari aktivitas konvektif yang sangat kuat, itulah yang kini sedang marak terjadi, dan siklon-siklon tropis juga sekarang mulai terbentuk di Sub-Pasifik,” ujarnya.

Fenomena ini, kata dia, menjadi sinyal awal kemunculan El Nino. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik mendorong pembentukan awan hujan dan siklon tropis secara intensif.

“Ini sebenarnya sinyal juga bahwa dimulainya El Nino, El Nino itu membuat panas di Samudera Pasifik, jadi otomatis Samudera Pasifik itu banyak hujan,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, terpantau dua siklon tropis di wilayah timur Papua yang semakin menguatkan indikasi tersebut dengan adanya perluasan area pemanasan laut memungkinkan dampak badai di Sub-Pasifik menjalar hingga wilayah Papua.

“Bagian dari El Nino bisa sampai ke Papua, karena ada perluasan kolam hangat atau pemanasan permukaan lautnya,” jelas Erma.

Dia mengingatkan bahwa dampak El Niño tidak selalu identik dengan kekeringan. Dalam beberapa kasus, justru dapat memicu hujan ekstrem hingga banjir di wilayah tertentu.

“Bisa juga dampak dari El Nino itu bisa membuat kering. Tapi untuk daerah tertentu, tapi daerah yang lain mungkin juga bahkan bisa banjir,” ujarnya.

Berdasarkan pembaruan dari berbagai lembaga, termasuk NOAA, potensi kemunculan Super El Nino diperkirakan menguat pada pertengahan tahun.

“El Nino itu prediksi salah satunya dari NOAA, memasuki terutama puncak-puncaknya Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November bahkan mungkin bisa berlanjut gitu,” katanya.

Erma mengatakan bahwa peluang terjadinya Super El Nino mencapai lebih dari 60 hingga 70 persen pada Juni mendatang, dengan fase awal yang kemungkinan dimulai pada Mei.

“Memang kita ini sedang kepanasan dan kapasitas panas yang sangat-sangat banyak di wilayah kita, karena wilayah kita juga banyak terdiri dari laut,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.