Bincangperempuan.com- Beberapa waktu lalu, publik dunia diguncang oleh rilisnya dokumen kasus Jeffrey Epstein. Meski proses hukumnya penuh drama dan pengungkapan faktanya bikin mual, banyak orang super kaya dan berkuasa di dunia ini yang memiliki obsesi seksual terhadap gadis di bawah umur. Kasus ini menjadi puncak gunung es dari sebuah budaya yang lebih besar, di mana kemudaan dan kepolosan telah lama dikomodifikasi menjadi standar kecantikan.
Jika kita melihat standar kecantikan mainstream saat ini mulai dari tren filter TikTok hingga prosedur operasi plastik kita akan menemukan pola yang mencemaskan. Apakah standar cantik yang kita kejar mati-matian sebenarnya adalah upaya untuk terlihat seperti anak-anak? Apakah estetika perempuan dewasa saat ini sebenarnya sedang berkiblat ke arah pedofilia?
Obsesi pada Purity
Di Indonesia, standar cantik sering terpaku pada kulit cerah, mulus, dan tubuh yang proporsional. Tetapi, ada satu detail yang sering dianggap lumrah padahal sangat simbolis, obsesi pada hilangnya rambut atau bulu tubuh. Perempuan dewasa secara biologis seharusnya memiliki bulu ketiak dan kemaluan. Tetapi, konstruksi kecantikan saat ini memaksa kita untuk rutin mencukurnya habis demi mendapatkan kulit yang lembut dan bersih.
Tubuh perempuan dewasa dipaksa kembali ke keadaan pra-pubertas. Kulit yang sangat halus, cerah tanpa noda, dan tanpa tekstur adalah karakteristik fisik anak-anak. Ketika standar ini diterapkan pada perempuan usia 20-an atau 30-an, kita sebenarnya sedang merayakan hilangnya tanda-tanda kematangan seksual dan pengalaman hidup. Kita sedang merayakan infantilization—proses menjadikan perempuan dewasa tampak seperti anak-anak.
Baca juga: Glass Cliff: Ketika Perempuan Diberi Takhta Saat Kapal Mulai Karam
Standar Kecantikan dalam Budaya Pop
Media populer punya peran besar dalam melanggengkan standar ini. Lihat saja tren Kawaii Style dari Jepang. Di sana, kecantikan sering dikaitkan dengan kesan vulnerable atau rentan. Perempuan bertubuh mungil diglorifikasi karena mereka tampak lemah, sehingga menimbulkan kesan bahwa mereka butuh dilindungi (atau dikontrol).
Tak jauh berbeda, standar kecantikan K-Pop atau Korean Beauty Standard (KBS) juga memperkuat narasi ini. Selain tuntutan kulit putih terang dan wajah oval, KBS melibatkan wajah kecil yang ramping, kulit yang fair, dan bibir heartshape. Riasan yang menonjolkan kesan polos ini membuat perempuan terlihat seperti boneka (diam, manis, dan tidak mengancam). Rambut hitam lebat yang dikombinasikan dengan kulit pucat tanpa pori-pori menciptakan citra polos yang identik dengan anak sekolah yang belum tersentuh dunia luar.
Dampak Pelabelan: Menghapus Otoritas Perempuan
Bahaya dari standar yang kekanak-kanakan ini bukan hanya tampilan luar semata, tapi juga soal bagaimana penggunaan bahasa. Sebuah studi eksperimental menguji bagaimana penyebutan istilah bagi perempuan dewasa mempengaruhi persepsi orang lain. Dalam riset tersebut, peserta diminta menilai seorang perempuan berusia 26 tahun bernama Erin. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika Erin disebut sebagai woman (perempuan dewasa), ia dinilai jauh lebih dewasa, bertanggung jawab, sukses, dan memiliki karakter yang kuat.
Sebaliknya, saat ia disebut sebagai “girl” (gadis/cewek), persepsi orang menganggap lebih feminin, tetapi juga lebih gullible (mudah ditipu) dan kekanak-kanakan. Ironisnya, riset ini mengungkap bahwa lebih dari separuh peserta lebih suka menggunakan istilah “girl” untuk menyebut perempuan dewasa, padahal istilah tersebut secara psikologis mereduksi kesan kompetensi dan otoritas seseorang.
Ini membuktikan bahwa infantilization—baik lewat standar kecantikan maupun bahasa—berujung pada pelemahan posisi perempuan. Dengan membuat perempuan terlihat dan dipanggil seperti anak-anak, masyarakat secara tidak sadar sedang memangkas agency atau kekuatan kita. Anak-anak tidak punya suara dan otoritas; jika kita dipaksa terus menjadi gadis imut, maka kita akan terus dianggap tidak mampu memimpin atau mengambil keputusan penting.
Baca juga: Gen Z Masih Bergantung Secara Ekonomi kepada Orangtua, Kondisi Ekonomi atau Gen Z yang Manja?
Sains di Balik Obsesi Terhadap Wajah Bayi
Ketertarikan kita pada fitur wajah anak-anak sebenarnya memiliki dasar biologis yang disebut baby schema (Kindchenschema). Secara evolusi, fitur seperti mata besar, dahi lebar, dan pipi chubby memicu insting protektif pada orang dewasa agar mau merawat bayi. Namun, masalah muncul ketika fitur-fitur ini menjadi tolok ukur daya tarik seksual perempuan dewasa.
Riset yang dilakukan oleh Kana Kuraguchi dkk. (2015) bertajuk “The impact of baby schema on perceived attractiveness, beauty, and cuteness in female adults” menemukan hal yang menarik sekaligus mengganggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur baby schema pada wajah orang dewasa memengaruhi penilaian terhadap daya tarik (attractiveness) dan kecantikan (beauty).
Penelitian ini menunjukkan bahwa kecantikan sering diasosiasikan dengan daya tarik seksual, sementara “keimutan” (cuteness) dianggap sebagai daya tarik non-seksual. Namun, ketika industri kecantikan mencampuradukkan keduanya dengan menuntut perempuan dewasa untuk terlihat imut agar dianggap cantik. Terjadilah pergeseran pandangan. Kita mulai menganggap fitur kekanak-kanakan sebagai sesuatu yang membangkitkan gairah.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mempertanyakan kembali, kenapa kita begitu terobsesi menjadi “awet muda” sampai-sampai takut terlihat seperti orang dewasa yang matang? Menjadi cantik seharusnya tidak berarti harus terlihat tidak berdaya atau mirip anak di bawah umur.
Kematangan, tekstur kulit, dan tubuh yang berkembang adalah tanda bahwa kita hidup dan berdaya. Kita bukan boneka yang harus dipangkas fiturnya agar terlihat polos. Kita adalah perempuan dewasa yang punya otoritas penuh atas tubuh kita sendiri.
Referensi:
- Kuraguchi, K., Taniguchi, K., & Ashida, H. (2015). The impact of baby schema on perceived attractiveness, beauty, and cuteness in female adults. SpringerPlus, 4(164).https://doi.org/10.1186/s40064-015-0940-8
- JSM Japan. (n.d.). Japanese beauty standards and the culture of kawaii. JSM Japan Blog.https://jsmjapan.com/blog/japanese-beauty-standart
- Schroeder, J. L. (2014). The girl/woman distinction: The effect of terms used to describe women on perceptions of maturity and responsibility [Master’s thesis, University of Northern Iowa]. UNI ScholarWorks. https://scholarworks.uni.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1072&context=etd#:~:text=Page%208,them%20of%20their%20adult





Comments are closed.