Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo

Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo

akademisi-soroti-gejala-pembusukan-demokrasi-yang-kian-sistematis-sejak-era-jokowi-ke-prabowo
Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo
service

Jakarta, NU Online

Akademisi Hukum Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Zezen Zainal Muttaqin menyoroti gejala democratic backsliding atau kemunduran demokrasi secara perlahan yang semakin sistematis sejak periode kedua pemerintahan Joko Widodo hingga masa kepemimpinan Prabowo Subianto.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi tren global di negara-negara yang relatif baru menjalankan sistem demokrasi. Ia menjelaskan bahwa democratic backsliding merupakan proses degradasi demokrasi yang berlangsung secara bertahap dan sering kali tidak disadari.

“Periode Jokowi kedua sampai sekarang itu para ahli menyebutnya sebagai democratic backsliding. Itu tidak terjadi di Indonesia saja. Ini adalah fenomena global,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Menimbang Masa Depan HAM dan Kebebasan Berpendapat di Indonesia yang digelar di Outlier Cafe, Tangerang Selatan, pada Jumat (11/4/2026).

Ia mengatakan bahwa cara penghancuran demokrasi suatu negara paling mudah melalui kudeta. “Kalau mau menghancurkan demokrasi yang paling gampang kudeta. Militer turun, presiden yang terpilih, secara demokratis diturunkan, habis itu militer akan berkuasa,” katanya.

Namun, Zezen menekankan bahwa hal yang terjadi saat ini justru lebih berbahaya karena berlangsung secara sistematis dan tidak terasa. Ia menyebut akumulasi kekuasaan di tangan eksekutif sebagai salah satu indikator utama.

“Proses pembusukan demokrasi yang tidak terasa itu adalah ketika terjadinya akumulasi kekuasaan eksekutif yang secara sistematis dan disengaja. Caranya gimana? Biasanya untuk menghancurkan demokrasi itu matikan oposisi,” katanya.

Ia secara gamblang menyebut peran kepemimpinan politik dalam kondisi tersebut. “Jokowi mematikan oposisi, Prabowo mematikan oposisi. Buat Jokowi dan Prabowo karena orang kita ini orang timur, tidak layaklah ada oposisi,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa absennya oposisi di parlemen dapat membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan. “Di dalam sistem yang sehat, pemerintah hanya bisa berjalan dengan baik kalau pemerintah dikontrol oleh oposisi di parlemen. Kalau tidak ada oposisi di parlemen yang mengontrol, maka eksekutif bisa melakukan apa pun. Apalagi kalau parlemennya sudah dibeli semua, tidak ada lagi oposisi,” ucapnya.

Selain melemahkan oposisi, Zezen juga menyoroti pola tekanan terhadap masyarakat sipil sebagai bagian dari proses kemunduran demokrasi. “Penghancuran demokrasi secara pelan-pelan itu biasanya adalah menyerang masyarakat sipil. Cara menyerang masyarakat sipil gimana? Menakuti itu sebagai management of fear,” ujarnya.

“Wah, saya tidak mau lagi kritis nih. Nanti ditangkap. Saya enggak mau kritis nanti dilempar air keras. Saya tidak mau kritis, nanti dikasih kepala babi. Management of fear memang sengaja diciptakan karena tujuannya ingin mengakumulasi kekuasaan setelah berhasil melumpuhkan,” lanjutnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.