Mubadalah.id – Kekerasan digital semakin marak terjadi khususnya terhadap perempuan. Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2024 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 7,2 juta perempuan pernah mengalami kekerasan digital oleh yang bukan pasangan.
Oleh karenanya PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) bersama United Nations Population Fund (UNFPA) meluncurkan program SHECURE Digital. Langkah ini sebagai inisiatif nasional untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak di ruang digital (27/2/2026).
UNFPA adalah salah satu badan terkemuka PBB yang bekerja untuk menciptakan dunia terkait kehamilan, persalinan dan orang muda. Sejak 1972, UNFPA sudah menjadi salah satu mitra terdepan Indonesia dalam kesehatan reproduksi, orang muda, kependudukan dan pembangunan, dan kesetaraan gender. Yakni melalui pencapaian yang terkenal sebagai three transformative results atau three zeros yang dipandu oleh International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 dan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Sedangkan PT ITSEC Asia Tbk adalah perusahaan keamanan siber dan AI terdepan di Indonesia dengan 400 ahli yang tersebar di Indonesia, Singapura, Australia, Mauritius, dan Dubai. Mereka menghadirkan perlindungan data end-to-end bagi perusahaan dan individu.
ITSEC membantu individu maupun perusahaan tetap tangguh, patuh, dan terlindungi dari berbagai risiko siber di bidang operasi keamanan siber. Kemudian intelijen ancaman, dan pertahanan berbasis AI secara menyeluruh. Mulai dari layanan konsultasi strategis, integrasi solusi teknologi, hingga Security Operation Center (SOC) dan Managed Security Services (MSS).
Kolaborasi Lintas Sektor
ITSEC Asia terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan terverifikasi oleh BSSN. Selain itu memiliki sertifikasi internasional bergengsi seperti ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 14001. Lalu lembaga ini merupakan anggota resmi CREST. Portofolio keahliannya diperkuat oleh para profesional bersertifikasi global. Termasuk OSCP, OSCE, OSEP, OSWE, CRT, CPSA, CRTP, CISSP, CISA, CISM, CSXF, CSXP, CEH, GPEN, GSEC, GCIA, GCIH, dan GDPR.
“Kolaborasi lintas sektor untuk pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) adalah bentuk perlindungan yang berkelanjutan. Yakni untuk meminimalisir dampak negatif yang terasa oleh korban baik secara kesehatan, sosial, hingga masa depannya.” ungkap Hassan Mohtashami selaku Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia.
Patrick Dannacher selaku Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), mengatakan “SHECURE DIGITAL hadir sebagai sebuah perlindungan yang sangat penting perannya untuk masyarakat yang kerap beresiko mendapatkan kekerasan berbasis gender online baik menyadari hal tersebut ataupun tidak ketika beraktivitas online. Apalagi saat ini anak-anak juga menggunakan gadget dan mengakses internet lebih ahli dari orang tua mereka. Oleh karena itu ITSEC berkomitmen untuk menciptakan ruang digital yang aman dan terkoneksi secara adil.”
Perlindungan Diri Digital
SHECURE Digital merupakan edukasi perlindungan diri digital dengan pendekatan teknologi berbasis privasi dan advokasi berbasis data yang dapat kita gunakan untuk pencegahan maupun penanganan kasus KBGO seperti pemerasan digital, penyalahgunaan data pribadi, hingga penyebaran konten tanpa persetujuan.
SHECURE Digital memiliki tiga pilar yaitu SHECURE Class, SHECURE Shield, dan SHECURE Voices. Ketiga pilar ini memiliki fokus yang berkesinambungan. SHECURE Class bertujuan untuk meningkatkan edukasi literasi keamanan digital bagi perempuan dan remaja.
Kemudian SHECURE Shield bertujuan untuk perlindungan teknis berbasis pendekatan privacy-first sebagai pengendali atas data pribadi di ruang siber. Yaitu dengan memanfaatkan fitur keamanan IntelliBroń yang dikembangkan oleh ITSEC ASIA. Salah satunya untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merespons insiden siber secara real-time. Seperti tautan berbahaya, aplikasi beresiko, hingga aktivitas mencurigakan lainnya.
Sedangkan SHECURE Voices bertujuan untuk meningkatkan advokasi dan partisipasi masyarakat serta stake holder untuk meningkatkan budaya digital yang aman dan inklusif di ruang digital.
Mewujudkan Ruang Digital yang Aman
Acara ini dihadiri oleh 37 tamu undangan dan media seperti Yayasan Siklus Sehat Indonesia, Aliansi Remaja Independen, Yayasan Pulih, SAFENet, Fatayat NU, MPKU Muhammadiyah, dan Mubadalah.id.
Selain itu, acara ini juga turut hadir antara lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Choiri Fauzi, yang menegaskan bahwa ruang digital yang aman dapat berkontribusi besar bagi perempuan dan anak di masa yang akan datang.
“KBGO bukan sekadar isu virtual dengan dampak virtual, tetapi dampaknya dapat mempengaruhi dunia nyata baik dalam kreativitas dan inovasi generasi muda, pendidikan, kesehatan fisik dan mental, hingga pertumbuhan ekonomi. Sehingga respon kita juga harus nyata dengan penuh tanggung jawab bersikap preventif dan sistemik melalui pondasi hukum Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan kebijakan yang komprehensif serta kolaborasi lintas sektor,” ujarnya saat Peluncuran SHECURE Digital di ARTOTEL Gelora Senayan.
Harapannya usai peluncuran kolaborasi SHECURE Digital ini perlindungan perempuan dan anak. Khususnya di ruang digital harus terus berlanjut dan terintegrasi dalam setiap lapisan ekosistem digital. Mulai dari kemudahan dalam mengakses platform, mekanisme pelaporan yang komprehensif, privasi yang terjaga, hingga penguatan kapasitas layanan di lapangan. []





Comments are closed.