Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Orang Kaya Main Miskin-miskinan, Humble atau Komodifikasi Kemiskinan?

Orang Kaya Main Miskin-miskinan, Humble atau Komodifikasi Kemiskinan?

service

Bincangperempuan.com- Jessica Jane dan suaminya Erwin Phang sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial pada Oktober 2025. Pasangan ini, yang dikenal dari kalangan kelas ata, tiba-tiba muncul dengan konten “miskin-miskinan”. Mereka memamerkan gaya hidup sederhana seperti dengan motor biasa, makan di warung pinggir jalan, hingga cerita “nikah karena cinta” tanpa menonjolkan kekayaan. Konten tersebut kontras dengan kakaknya, Jess No Limit dan Siska Kohl, yang lebih sering menampilkan kemewahan. Netizen pun terbelah. Ada yang terhibur dan menganggapnya relatable, tapi tak sedikit pula yang sinis: “Sandal kremesnya mahal, tasnya branded, tapi pura-pura miskin.”

Fenomena ini bukanlah satu-satunya.  Di berbagai platform digital, semakin banyak kreator yang menggunakan kesulitan ekonomi sebagai bahan bakar konten. Mulai dari orang kaya yang berpura-pura hidup susah (seperti tren makan di tempat kumuh karena vibe-nya estetik)—hingga yang lebih ekstrem dan eksploitatif atau poverty porn.

Konten-konten ini sering mendapat engagement tinggi karena terasa dramatis dan “dekat” dengan realitas banyak orang. Lantas apakah ini bentuk empati, atau justru sekadar komodifikasi kemiskinan?

Baca juga: Marie Antoinette: Bias Patriarki dalam Penghakiman Publik

Dari Main Miskin-miskinan ke Poverty Porn

Poverty porn atau eksploitasi kemiskinan terjadi ketika penderitaan orang miskin didramatisasi dan dijadikan tontonan untuk memicu respons emosional penonton (kasihan, marah, terharu). Di Amerika Serikat, kreator besar seperti Jimmy Darts membangun kariernya dengan mendekati orang tunawisma atau pekerja harian, memberikan uang segepok, lalu merekam reaksi menangis mereka. Video tersebut kemudian dibumbui musik sendu dan teks hiperbolis sebelum disajikan kepada jutaan followers.

Sekilas, ini terlihat seperti aksi kedermawanan. Namun, Leah Goodridge, seorang pengacara hak-hak tunawisma di New York, menelanjangi praktik ini. Menurutnya, ini tak ubahnya sirkus era Victoria yang memamerkan orang-orang marjinal sebagai tontonan aneh. “Mereka diperlakukan sebagai objek konten, bukan subjek manusia,” tegasnya.

Transaksi ini sangat timpang. Orang yang terekam kesusahannya hanya mendapat keuntungan finansial sesaat, sementara wajah dan kerentanannya menjadi jejak digital seumur hidup. Di sisi lain, sang kreator meraup keuntungan berlipat ganda: citra sebagai penyelamat atau dermawan, mendapat keuntungan dari adsense, endorse, dan donasi audiens. Kemiskinan orang lain telah diubah menjadi model bisnis yang menggiurkan.

Marie Antoinette: Main Miskin-miskinan dengan Bikin Desa Buatan 

Untuk memahami betapa problematiknya tren ini, kita harus mundur lebih dari dua abad ke belakang. Fenomena main miskin-miskinan adalah pengulangan sejarah dari apa yang sebelumnya dilakukan Ratu Prancis, Marie Antoinette.

Pada tahun 1783, sang Ratu membangun sebuah pedesaan buatan bernama Hameau de la Reine di dalam kompleks Istana Versailles. Di sana, terdapat pondok-pondok beratap jerami, kincir air, dan peternakan mini. Marie Antoinette dan lingkaran bangsawannya sering melarikan diri dari etiket istana ke desa buatan ini untuk bermain roleplay sebagai gadis desa yang sederhana. 

Namun, kesederhanaan itu palsu. Sapi-sapi dimandikan dengan parfum sebelum diperah, wadah susunya terbuat dari porselen Sèvres termahal, dan pakaian petani mereka dijahit dari kain berkualitas tinggi.

Marie Antoinette meromantisasi kehidupan petani tanpa harus merasakan bau lumpur asli, wabah kutu, kelaparan, atau ketakutan akan gagal panen. Ia memiliki jaring pengaman tak terbatas. Sementara di luar gerbang Versailles, rakyat Prancis yang kelaparan bersiap memulai Revolusi.

Hari ini, Hameau de la Reine hadir di layar smartphone kita. Kreator konten tidak perlu membangun pedesaan, mereka tinggal menyusun skrip, dan merekam. Mereka mengais estetika kemiskinan (makan pecel lele, naik motor kepanasan) tanpa pernah merasakan kecemasan sistemik dari kemiskinan itu sendiri—seperti stres ditagih pinjol atau bingung membiayai rumah sakit. Ketika mereka lelah menjadi miskin, mereka bisa menekan tombol stop recording dan kembali ke kasur empuk mereka. Bagi orang yang benar-benar miskin, tombol stop itu tidak pernah ada.

Baca juga: Stop Normalisasi Kemiskinan! Tren Rp5 Ribu di Tangan Istri yang Tepat

Kemiskinan Bukanlah Estetika

Tentu, tidak semua konten yang menyinggung kelas sosial adalah eksploitasi. Ada banyak jurnalis, aktivis, dan warga biasa yang dengan tulus mendokumentasikan ketimpangan untuk advokasi dan mendorong perubahan kebijakan publik. Namun, garis pembatas antara empati dan eksploitasi menjadi sangat jelas ketika engagement dan glorifikasi diri kreator menjadi tujuan utama.

Pada akhirnya, fenomena “main miskin-miskinan” menampar kita bahwa kemiskinan bukanlah kostum yang bisa dipakai untuk mendulang likes dan dilepas saat bosan. Ketika penderitaan struktural direduksi menjadi sekadar tren lifestyle, yang rusak bukan hanya nalar kreatornya, tapi juga empati kolektif kita sebagai masyarakat.

Sudah saatnya kita berhenti memberi panggung, berhenti melempar pujian “wah humble banget”, dan mulai bersikap kritis. Orang kaya yang pura-pura miskin itu mungkin hanya membuat konten, tapi orang miskin tidak bisa pura-pura kaya untuk keluar dari penindasan struktural. Berhentilah mengonsumsi kemiskinan sebagai atraksi sirkus.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.