Mubadalah.id – Saat berita tentang perempuan pertama yang berhasil menyelesaikan misi Artemis II menjelajahi Bulan. Saya seperti kembali pada masa lima sampai sepuluh tahun lalu, saat impian ingin menjadi Astrounot terlintas begitu saja. Saya membayangkan diri melayang di gravitasi nol, menatap Bumi yang biru dari balik kaca helm yang memantulkan kerlip bintang.
Mimpi itu begitu nyata hingga membuat saya yakin untuk memilih kuliah Jurusan Fisika. Saya ingin memahami bagaimana alam semesta bekerja. Bagaimana roket bisa menembus eksosfer. Dan bagaimana rasanya menjadi bagian dari segelintir manusia yang pernah menjelajah angkasa. Ya, meskipun kemudian impian itu hanya sampai pada batas teori yang saya kerjakan untuk menganalisa salah satu objek di luar angkasa, Bintang Neutron.
Namun, semakin dalam saya menyelami rumus mekanika kuantum, kalkulus, dan astrofisika, saya mulai menyadari sebuah realitas yang sunyi. Di laboratorium, di jurnal-jurnal ilmiah, hingga di lintasan orbit, ruang gerak perempuan masih sering kali dibatasi oleh stigma dan diskriminasi yang tak kasat mata. Saya mulai bertanya-tanya: Mengapa di balik kecanggihan teknologi manusia, langkah perempuan menuju benda langit terdekat kita seolah-olah ditarik oleh gravitasi yang jauh lebih berat dibanding laki-laki?
Mimpi yang Tertunda: Warisan Pratiwi Sudarmono
Kisah perjuangan perempuan di ranah antariksa sebenarnya memiliki akar yang kuat di tanah air, namun sering terlupakan. Pada tahun 1985, Indonesia hampir mencatatkan sejarah melalui Prof. Dr. Pratiwi Pujilestari Sudarmono.
Sebagai ilmuwan mikrobiologi dari Universitas Indonesia, Prof. Pratiwi bukan sekadar “pemanis” misi diplomatik. Beliau terpilih oleh NASA sebagai payload specialist untuk misi STS-61-H karena keahlian risetnya yang brilian mengenai perilaku makhluk hidup di luar angkasa sebuah penelitian vital bagi kelangsungan hidup manusia di orbit jangka panjang.
Prof. Pratiwi menjadi representasi pertama perempuan dari Asia Tenggara yang menjalani pelatihan fisik dan mental intensif di NASA. Beliau telah siap terbang, telah siap membawa bendera merah putih ke luar angkasa.
Namun, insiden meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada 1986 menghentikan semua jadwal peluncuran, termasuk misi yang seharusnya membawa Prof. Pratiwi. Meski begitu dedikasinya tetap membumi dan menjadi mercusuar bagi kita semua.
Sebagai Guru Besar, beliau membuktikan bahwa kecerdasan perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan ilmuwan dunia. Namun, batalnya misi tersebut juga meninggalkan luka kolektif: sebuah pengingat betapa rapuhnya mimpi perempuan ketika berbenturan dengan keadaan yang di luar kendali mereka.
Ke Mana Perempuan Selama Ini?
Jika misi ke Bulan sudah dimulai sejak era Apollo pada 1960-an dan Artemis II baru sekian puluh tahun kemudian, mengapa dunia harus menunggu hingga pertengahan 2020-an untuk benar-benar mengirimkan perempuan ke sana? Pertanyaan ini bukan sekadar soal waktu, melainkan soal sistem. Selama puluhan tahun, perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dihadapkan pada fenomena Leaky Pipeline atau pipa bocor.
Kita masuk ke jurusan sains dengan jumlah yang signifikan, namun satu per satu “bocor” dan menghilang di tengah jalan. Hal ini terjadi karena stigma domestik yang masih kuat, kurangnya mentor perempuan di posisi strategis, hingga lingkungan kerja yang seringkali tidak ramah bagi kebutuhan spesifik perempuan.
Perempuan tidak pernah absen dari sains; sejarah mencatat mereka sebagai “kalkulator manusia” di belakang layar misi-misi hebat. Namun, mereka jarang diberi kesempatan untuk berada di kursi pengemudi, untuk menjadi wajah dari keberhasilan itu sendiri. Penantian puluhan tahun ini adalah bukti bahwa akses terhadap teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan keadilan akses bagi gender.
Cahaya Artemis: Christina Koch dan Harapan Baru
Setelah penantian yang terasa abadi, secercah harapan kini bersinar melalui misi Artemis II. Sosok Christina Koch terpilih sebagai perempuan pertama yang akan menjelajahi Bulan. Koch bukan sekadar simbol; ia adalah ilmuwan tangguh pemegang rekor penerbangan luar angkasa tunggal terlama oleh perempuan selama 328 hari.
Kehadiran Koch dalam misi Artemis II adalah sebuah penegasan bahwa Bulan bukan lagi wilayah eksklusif. Bagi mahasiswi fisika seperti saya, sosoknya adalah bukti bahwa rumus-rumus rumit yang kami pelajari di kelas adalah kunci nyata untuk menembus batas-batas yang dulu mustahil. Artemis II menjadi momentum bagi dunia untuk berhenti bertanya “bisakah perempuan?” dan mulai bertanya “mengapa tidak sejak dulu?”.
Menghidupi Mimpi di Mana Pun Berada
Melihat perjalanan dari era Prof. Pratiwi hingga Misi Artemis II, Christina Koch, membuat kita merefleksikan kembali posisi kita sebagai perempuan yang mencintai sains. Peran perempuan ke depan tidak lagi sekadar menjadi pendukung, melainkan menjadi inovator utama. Kita membawa perspektif yang berbeda sebuah pendekatan yang lebih inklusif dan empatik dalam memecahkan masalah kompleks, mulai dari krisis iklim hingga kolonisasi planet lain.
Bagi setiap perempuan yang saat ini merasa sendirian di laboratorium atau merasa kecil di tengah dominasi gender tertentu. Ingatlah bahwa keberadaanmu adalah sebuah kemenangan. Prof. Pratiwi tetap menjadi bintang di dunia pendidikan meski tanpa roket, dan Christina Koch akhirnya menembus gerbang yang puluhan tahun terkunci bagi seluruh permepuan di dunia.
Teruslah hidup dan menghidupi mimpimu. Jika pintu dunia atau pintu menuju luar angkasa belum terbuka lebar. Maka bangunlah pintu itu sendiri melalui integritas dan ilmu pengetahuan.
Kita tidak hanya sedang belajar Fisika atau Biologi; kita sedang meretas jalan agar generasi perempuan setelah kita tidak perlu lagi menunggu puluhan tahun hanya untuk melihat satu nama perempuan di daftar awak kapal luar angkasa. Karena pada akhirnya, alam semesta tidak memiliki gender; ia hanya menunggu jiwa-jiwa yang cukup berani untuk datang dan mengungkap rahasianya. []




Comments are closed.