Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Negeri yang Belajar Bertahan

Negeri yang Belajar Bertahan

negeri-yang-belajar-bertahan
Negeri yang Belajar Bertahan
service

Musim dingin di Teheran datang tanpa banyak suara. Salju turun seperti kapas yang pelan-pelan menutup atap-atap rumah bata, menempel di kabel listrik, dan menyelimuti jalan-jalan yang tak pernah benar-benar sepi. Di sebuah apartemen sederhana di distrik barat kota, seorang insinyur muda menatap layar komputernya. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Ia belum pulang sejak kemarin.

Namanya Reza. Ia bukan tentara. Bukan pula politisi. Ia hanya seorang anak dari keluarga guru di kota kecil dekat Isfahan—kota yang terkenal dengan kubah biru dan jembatan tua yang memantulkan cahaya matahari senja seperti cermin sejarah. Namun malam itu, Reza merasa dirinya sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri: kedaulatan.

Di layar komputernya, deretan kode dan simulasi bergerak seperti barisan semut. Itu bukan sekadar program. Itu adalah bagian dari proyek nasional—sebuah upaya panjang membangun teknologi mandiri ketika pintu dunia terasa tertutup.

Tahun-tahun sebelumnya, negara itu hidup dalam tekanan. Sanksi ekonomi datang seperti musim kering yang panjang. Bank-bank internasional menutup jalur. Mesin-mesin industri tak lagi mudah diperoleh. Suku cadang menjadi barang langka. Bahkan obat-obatan pun kadang harus dicari melalui jalur tidak resmi. Namun justru di titik itulah sebuah pilihan sejarah diambil. Bukan menyerah. Bukan mengeluh. Melainkan belajar berdiri sendiri.

Di ruang rapat sebuah gedung kementerian yang dingin dan beraroma teh hitam, seorang pejabat senior pernah berkata pelan, hampir seperti berdoa: “Kita tidak punya kemewahan untuk bergantung.” Kalimat itu kemudian berubah menjadi kebijakan.

Negara mulai membangun apa yang mereka sebut ekosistem knowledge-based. Pemerintah menawarkan insentif pajak hingga lima belas tahun bagi perusahaan teknologi. Anak-anak muda didorong masuk ke laboratorium, bukan hanya ke kantor birokrasi. Universitas tidak lagi sekadar tempat belajar teori, tetapi menjadi bengkel eksperimen nasional.

Dan pelan-pelan, kota berubah. Di beberapa sudut Teheran, papan reklame digital menggantikan spanduk kain. Sensor lalu lintas dipasang di persimpangan. Startup teknologi bermunculan di gedung-gedung lama yang direnovasi. Internet menjadi ruang baru bagi generasi yang lahir setelah revolusi.

Seorang mahasiswi teknik komputer bernama Laleh pernah berkata kepada temannya sambil menunggu bus: “Kita tidak punya pilihan selain pintar.” Ia mengatakannya tanpa sinisme. Tanpa dramatisasi. Hanya sebagai fakta hidup.

Di sisi lain kota, di sebuah pangkalan militer yang tersembunyi di gurun, seorang perwira muda berdiri di depan roket yang menjulang seperti menara sunyi. Angin gurun membawa bau logam dan pasir panas. Matahari memantul di badan rudal yang dicat kusam.

Perwira itu mengingat ayahnya. Ayahnya pernah menjadi tentara pada masa perang panjang dengan Irak pada dekade 1980-an—sebuah konflik yang oleh banyak orang disebut sebagai salah satu perang paling melelahkan dalam sejarah modern kawasan, dikenal sebagai Perang Iran–Irak.

Ayahnya tidak pernah bercerita banyak tentang perang. Hanya satu kalimat yang sering ia ulang: “Ketika dunia tidak menjual senjata kepada kita, kita harus membuatnya sendiri.” Kalimat itu kini hidup kembali dalam bentuk baja, bahan bakar, dan algoritma navigasi.

Pembangunan kekuatan roket di negara itu bukan proyek cepat. Ia seperti menanam pohon di tanah keras—memerlukan waktu, kegagalan, dan kesabaran. Setiap uji coba yang gagal bukan sekadar kerugian teknis, tetapi juga luka psikologis. Namun mereka terus mencoba. Bukan karena ambisi ekspansi. Melainkan karena rasa takut akan ketergantungan.

Di desa kecil di pinggiran provinsi, seorang guru sekolah dasar membuka buku sejarah kepada murid-muridnya. Dinding kelas retak. Atap seng berderit ketika angin bertiup. Listrik kadang padam tanpa peringatan.

Namun pelajaran tetap berjalan. Guru itu menunjuk gambar relief batu kuno. “Itu adalah peninggalan Kekaisaran Persia,” katanya. Anak-anak menatap dengan mata lebar. Sejarah di negeri itu bukan sekadar masa lalu. Ia adalah sumber legitimasi. Identitas nasional dibangun dari kesadaran bahwa mereka berasal dari peradaban yang sangat tua—lebih tua dari banyak negara modern. Kebanggaan itu bercampur dengan spiritualitas.

Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, beberapa siswa berdoa dengan suara pelan. Bukan karena diwajibkan secara keras, tetapi karena itu sudah menjadi kebiasaan sosial. Negara memelihara rasa kebersamaan melalui pendidikan yang terpusat, meski infrastruktur di daerah terpencil masih sering tertinggal.

Di sebuah barak militer, pemuda berusia delapan belas tahun baru saja menerima seragamnya. Bau kain baru bercampur dengan aroma sabun murah. Ia meraba lambang di dadanya dengan jari gemetar.

Wajib militer di negara itu bukan hanya soal pertahanan. Ia adalah ritual sosial—sebuah proses pembentukan identitas. Seorang instruktur berkata tegas: “Kalian bukan hanya menjaga tanah. Kalian menjaga masa depan.” Kalimat itu sederhana. Namun diulang berkali-kali, sampai menjadi bagian dari kesadaran kolektif.

Doktrin yang mereka pelajari memiliki nama khusus: moghavemat—perlawanan. Doktrin itu dikembangkan dan dijalankan oleh sebuah institusi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan negara: Korps Garda Revolusi Islam. Namun bagi banyak warga biasa, doktrin itu tidak terasa sebagai teori militer. Ia terasa sebagai sikap hidup: bertahan, beradaptasi, dan tidak mudah menyerah.

Suatu malam, listrik padam di apartemen Reza. Komputer mati. Ruangan menjadi gelap. Ia duduk diam beberapa detik, mendengarkan suara generator dari gedung sebelah. Lalu ia menyalakan lampu darurat kecil. Cahaya kuning redup memantul di dinding putih yang mulai mengelupas.

Ia tersenyum tipis. Gangguan listrik bukan hal baru. Kekurangan komponen elektronik juga bukan hal baru. Sanksi internasional telah mengajarkan satu pelajaran yang sangat praktis: improvisasi adalah bentuk patriotisme.

Ia membuka kembali laptopnya, yang berjalan dengan baterai cadangan. Program simulasi dilanjutkan dari titik terakhir. Baris kode kembali bergerak. Di luar jendela, salju masih turun. Pelan. Tekun. Tanpa suara.

Dari pengalaman negeri itu, pelajaran yang muncul bukan sekadar tentang militer atau teknologi. Melainkan tentang mentalitas sejarah. Bahwa kemandirian strategis tidak lahir dari kemakmuran, tetapi dari tekanan. Bahwa inovasi sering tumbuh dari keterbatasan, bukan dari kelimpahan. Bahwa nasionalisme yang bertahan lama biasanya berakar pada memori kolektif—sejarah panjang, penderitaan bersama, dan rasa memiliki terhadap masa depan.

Dan di situlah barangkali makna terdalam dari kisah ini: Sebuah negara bisa dipersempit oleh sanksi. Tetapi tidak selalu bisa dipatahkan oleh isolasi. Selama manusia-manusianya masih percaya bahwa bekerja, belajar, dan bertahan adalah bagian dari perjuangan sejarah mereka sendiri.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.