Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

legenda-asal-usul-kampung-guntung-di-batu-bara,-cerita-rakyat-dari-sumatera-utara
Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
service

21 April 2026 17.00 WIB • 2 menit

Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara


Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang mengisahkan tentang legenda asal usul Kampung Guntung yang ada di daerah Batu Bara. Konon Kampung Buntung ini merupakan kampung pertama yang ada di daerah tersebut dulunya.

Pada zaman dahulu, wilayah Kampung Guntung ini merupakan hutan belantara yang tidak dihuni oleh manusia. Kedatangan para pendatang dari Kerajaan Pagaruyung menjadi awal dari kisah terbentuknya Kampung Guntung.

Para pendatang inilah yang pertama kali membuka hutan tersebut untuk pemukiman. Lama kelamaan makin ramai orang yang datang dan menetap di kampung tersebut.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Kampung Guntung yang ada di daerah Batu Bara?

Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara

Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Batu Bara, alkisah pada zaman dahulu daerah Kampung Guntung hanyalah berupa hutan belantara. Kampung ini baru tercipta ketika ada empat orang pendatang yang datang dari Kerajaan Pagaruyung ke daerah tersebut.

Keempat orang pendatang ini datang bersama ke daerah Batu Bara. Begitu tiba di sana, mereka berpencar ke berbagai tempat yang ada di Batu Bara.

Para pendatang ini menyebar ke berbagai daerah. Adapun empat daerah yang dihuni oleh para pendatang ini adalah Tanah Datar, Daerah Ujung, Daerah Pesisir, dan Guntung.

Pada awalnya, Kampung Guntung ini diberi nama Kampung Baru. Di kampung ini ada sebuah pematang yang banyak ditumbuhi oleh pohon embacang.

Lama kelamaan, pohon embacang ini menjadi buntung karena dimakan oleh hewan. Atas dasar inilah, kampung tersebut kemudian diberi nama Ambacang Puntung, yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Guntung.

Kampung Guntung juga menjadi kampung pertama yang ada di Batu Bara. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak orang yang datang dan berdiam di daerah tersebut.

Di masa lalu, ada juga empat orang tokoh yang membuka madrasah di wilayah Batu Bara. Keempat tokoh tersebut adalah Moyang Katibsyah, Moyang Soko, Imam Jawab, dan Tuk Ali.

Moyang Katibsyah membuka madrasah di Kampung Guntung. Tuk Tuban membuka madrasah di Lima Laras.

Moyang Soko membuka madrasah di Bagan Asahan. Sementara itu, Tuk Ali tidak diketahui membuka madrasah di mana.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat yang mendiami daerah Kampung Guntung makin ramai. Akhirnya dipilihlah salah seorang di antara mereka untuk menjadi penghulu.

Moyot kemudian diangkat menjadi penghulu pertama Kampung Guntung. Moyon merupakan seorang perempuan yang datang dari Pulau Samosir.

Dirinya diketahui bermarga Manik. Setelah masuk Islam, dirinya kemudian diangkat menjadi penghulu Kampung Gunung.

Moyot juga diakui menjadi penghulu di Kampung Sontang dan Kampung Lima Laras. Pada waktu itu, kedua kampung ini masih menjadi bagian dari Kampung Guntung.

Lama kelamaan daerah Kampung Sontang dan Kampung Lima Laras juga makin ramai dihuni oleh penduduk yang datang. Akhirnya kedua kampung ini memisahkan diri dan memilih penghulunya sendiri.

Dari ketiga kampung tersebut, Kampung Guntung memiliki wilayah yang paling luas. Hutan-hutan yang ada di sana terus dibuka untuk menjadi wilayah pemukiman.

Suatu ketika masyarakat membuka lahan dengan membakar pokok nibung. Ternyata api yang melahap pokok nibung ini terus menyala selama enam bulan lamanya.

Alhasil daerah tersebut kemudian diberi nama Kampung Nibung Hangus. Di dekat sana juga ada pemukiman yang dihuni oleh orang Kubu, sehingga kampung tersebut diberi nama Ujung Kubu.

Begitulah kisah di balik legenda asal usul nama Kampung Guntung beserta kampung-kampung lain yang ada di sekitarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.