Jakarta, Arina.id — Akademisi Fahrudin Faiz menegaskan bahwa tidak ada yang lebih terhormat dalam hidup selain hati yang dipenuhi rasa syukur. Hal ini ia sampaikan dengan merujuk pada pemikiran filsuf Stoik Seneca, yang menempatkan syukur sebagai inti dari kehormatan manusia.
Menurutnya, seseorang yang senantiasa mensyukuri setiap anugerah Tuhan—baik yang kecil maupun besar, yang sederhana maupun istimewa, merupakan pribadi yang memiliki kualitas mental tinggi.
“Orang yang selalu bersyukur itu mentalnya mental orang kaya. Ia merasa cukup, merasa puas dengan apa yang dimiliki. Itulah orang yang layak dihormati,” ungkapnya dalam tayangan video YouTube Mengaji Hening diakses Rabu (22/4/2026).
Sebaliknya, ia menggambarkan sosok yang terus-menerus merasa tidak puas, gemar mengeluh, dan selalu menuntut lebih sebagai pribadi dengan “mental miskin”. Sikap tersebut membuat seseorang cenderung menutup mata terhadap berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan dalam hidupnya.
Lebih lanjut, Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa kesederhanaan tidak hanya soal sedikit atau banyaknya harta, melainkan sikap batin dalam menyikapi kepemilikan. Ia merumuskan tiga prinsip utama dalam menjalani hidup sederhana.
Pertama, merasa puas dengan apa yang dimiliki. Kepuasan ini bukan berarti berhenti berusaha, melainkan kemampuan untuk menerima dan menghargai apa yang sudah ada.
Kedua, senantiasa bersyukur. Rasa syukur menjadi fondasi penting dalam membangun ketenangan hidup sekaligus menjaga manusia dari sikap serakah.
Ketiga, memiliki kejelian dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ia menekankan bahwa banyak hal yang dimiliki manusia sejatinya tidak penting, namun tetap digunakan hanya karena sudah terlanjur dimiliki.
“Menggunakan sesuatu bukan karena kita membutuhkannya, tetapi karena kita memilikinya. Ini yang sering tidak kita sadari,” jelasnya, kembali mengutip pemikiran Seneca.
Ia memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti kepemilikan pakaian. Banyak orang memiliki puluhan bahkan ratusan pakaian, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar digunakan secara rutin. “Bisa jadi 75 persen isi lemari kita itu jarang dipakai. Padahal dengan 25 persen saja, kita sudah bisa hidup nyaman,” katanya.
Fenomena serupa juga terlihat pada kebiasaan mengoleksi barang lain, seperti sepatu, kendaraan, hingga gawai. Menurutnya, dorongan untuk terus memiliki lebih sering kali bukan didasarkan pada kebutuhan, melainkan keinginan dan rasa tidak pernah cukup.
Dalam konteks ini, ia mengajak masyarakat untuk mulai berbagi, terutama terhadap barang-barang yang masih layak dan bahkan disukai. Ia menekankan bahwa nilai kebaikan justru terletak pada kemampuan memberi sesuatu yang masih dicintai, bukan yang sudah tidak terpakai.
“Kalau dalam ajaran Al-Qur’an, kebaikan itu ketika kita berbagi dari apa yang kita cintai. Jadi bukan menunggu barang itu rusak atau tidak layak,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan tentang kecenderungan manusia yang gemar berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta dan barang. Sikap ini, menurutnya, justru menjauhkan manusia dari nilai kesederhanaan.
Sebagai contoh, ia menyinggung fenomena penimbunan barang pada situasi tertentu, seperti tabung oksigen di masa krisis kesehatan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya tidak membutuhkan, namun tetap membeli karena rasa khawatir berlebihan. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan mendapatkan akses.
“Ini menunjukkan mental yang tidak utama. Ketika belum butuh, seharusnya kita memberi ruang bagi yang lebih membutuhkan,” tegasnya.
Melalui pemaparannya, Fahrudin Faiz mengajak masyarakat untuk kembali menata cara pandang terhadap kehidupan. Kesederhanaan, menurutnya, bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kesadaran, kecukupan, dan kepedulian terhadap sesama.





Comments are closed.