Suasana sangat ramai pada Senin malam kemarin (20/4/2026). Di Rumah Banjarsari–Ruang Publik dan Seni, Solo, Jawa Tengah, ratusan orang berkumpul di acara pemutaran film dokumenter berjudul Pesta Babi karya Dhandy Dwi Laksono. Film sepanjang 90 menit ini menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat di Papua.
Sebelum menonton, saya pikir akan banyak peserta yang mengantuk lalu tertidur–termasuk saya–karena film dokumenter biasanya padat dan berat, jadi dengan durasi sepanjang itu, sangat mungkin banyak penonton tertidur. Tapi dugaan saya salah. Film Pesta Babi menarik hingga detik akhir.
Dalam film dokumenter itu, saya melihat banyak sekali isu yang diangkat; kerusakan ekologis, kebijakan pemerintah yang gagal, kekerasan pada perempuan, kemiskinan, perjuangan masyarakat adat dan beberapa isu lain. Dari semua itu saya menyoroti satu hal: sosok Ibu. Dalam upaya merebut kembali hak masyarakat Papua atas keamanan dan lingkungan hidup, sosok dan suara ibu turut ditampilkan.
“Saya jalan terus sambil menderita,” adalah ucapan salah satu perempuan yang akan melahirkan dalam lingkungan yang rawan terjadinya kekerasan. Saya membayangkan betapa beratnya para perempuan yang hidup di sana. Perempuan hamil, akan melahirkan, atau sedang menstruasi hidup dalam bayang-bayang kekerasan dari bangsanya sendiri. Yasinta, salah satu mama di Papua menolak diam. Dia aktif memperjuangkan hak masyarakat adat diantara pejuang laki-laki.
Melihat sosok Yasinta, saya teringat dengan sosok-sosok perempuan yang turut aktif dalam gerakan sosial yang menyuarakan keadilan dan penolakan atas kerusakan lingkungan. Ingatan itu merambah ke sejarah perempuan di India, Argentina, dan Indonesia.
Pada tahun 1973 di India ada gerakan Chipko, aksi memeluk pohon untuk mencegah penebangan komersil yang mengancam lingkungan dan mata pencaharian mereka di wilayah Himalaya. Aksi protes lingkungan ini dilakukan tanpa kekerasan, didominasi oleh perempuan. Kenapa lebih banyak perempuan?
Dalam perspektif ekofeminisme, perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika alam bermasalah. Kedekatan peran sosial mereka dengan alam dan sumber daya lebih intim dari gender lain. Perempuan cenderung dapat melihat lebih dalam hubungan antara kerusakan lingkungan dan isu-isu keadilan sosial seperti kemiskinan, kesenjangan gender, dan kekerasan terhadap perempuan.
Menurut Vandana Shiva kerusakan alam memperparah ketimpangan gender yang sudah ada, bukan hanya soal lingkungan yang rusak hilang, tapi juga soal kehidupan perempuan yang semakin terpinggirkan. Sangat mungkin terjadi peningkatan beban kerja pada perempuan, kerentanan ekonomi, meningkatnya risiko kekerasan, dan menghilangnya pengetahuan lokal dengan alam.
Ibu-ibu di Plaza de Mayo, Argentina, pada tahun 1977 juga melakukan gerakan sosial menuntut keadilan. Mereka adalah ibu-ibu yang kehilangan anak akibat penghilangan paksa oleh rezim kediktatoran militer. Gerakan ini dimulai oleh sekelompok ibu yang berkumpul di depan Istana Presiden (Casa Rosada) untuk menuntut kejelasan nasib anak-anak mereka.
Perlawanan dilakukan dengan dasar nirkekerasan. Tindakan mereka adalah bentuk perlawanan damai yang menantang kekuatan militer dan rezim diktator. Ibu-bu dan nenek di Plaza de Mayo setiap Kamis akan berkumpul. Mereka mengenakan kerudung putih (scarf) yang melambangkan popok anak-anak dan membawa foto anak mereka sebagai simbol protes.
Selama lebih dari empat dekade, mereka rutin berkumpul setiap Kamis di plaza tersebut. Perjuangan mereka berhasil menarik perhatian dunia terhadap pelanggaran HAM berat di Argentina dan berkontribusi pada jatuhnya rezim militer. Aksi yang dilakukan ibu-ibu di Plaza de Mayo telah menginspirasi lahirnya gerakan Suara Ibu Peduli (SIP) yang diprakarsai Jurnal Perempuan dan aksi kamisan yang diawali oleh Ibu Sumarsih.
SIP adalah politik feminis yang dilakukan untuk melawan kediktatoran Soeharto. Gerakan ini berlangsung pada periode awal reformasi dengan maksud membuka ruang keberanian perempuan untuk terlibat dalam perubahan politik. Saat dilakukan pertama kali tanggal 23 Februari 1998, Ibukota sedang dalam status siaga satu (tembak di tempat bagi para demonstran).
Politik susu ibu yang dilakukan oleh Gadis Arivia, Karlina Supelli, Juli Suryakusuma, dan beberapa nama lain berhasil memainkan citra dan tanda agar pemerintah tidak merasa diprotes secara terang-terangan. SIP secara esensi ingin menyatakan pentingnya demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan menyatakan pendapat, tapi dikamuflasekan menjadi keprihatinan soal masalah susu dan ibu-ibu. Gerakan ini berhasil dan menarik perhatian masyarakat Indonesia pada saat itu.
Saat ini, kita familiar dengan gerakan berbasis online yang diprakarsai @ibuberisik di Instagram dan @neneng di Facebook. Gerakan ini juga diinisiasi oleh perempuan. Tanpa kekerasan dan memanfaatkan banyak simbol dan citra, edukasi yang dilakukan cenderung lebih bisa diterima masyarakat luas.
Pada akhirnya, yang paling terpenting, edukasi politik tetap dilakukan secara masif. Soal metode, apakah lewat jalan tanpa kekerasan atau sebaliknya, menyesuaikan tiap-tiap kelompok. Namun, jalan yang ditempuh perempuan biasanya mengambil jalan damai yang konsisten, seperti yang dilakukan di India (Chipko), Ibu-ibu di Plaza de Mayo (Argentina), Aksi Kamisan, SIP, Ibu berisik dan Neneng (Indonesia). Ini semua bisa dimaknai: pentingnya melibatkan perempuan dalam gerakan perubahan sosial.





Comments are closed.