Mubadalah.id – Hidup aman dalam kondisi perang merupakan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan. Hak untuk hidup secara layak tersebut adalah hal yang hilang dari kehidupan rakyat Suriah selama ‘perang saudara’ yang berlangsung bertahun-tahun.
Teror di mana-mana. Bom, agresi tentara dan rezim secara keseluruhan mengancam nyawa rakyat Suriah setiap detik.
Masyarakat sipil merupakan korban dalam keganasan perang tersebut. Banyak kepentingan ikut mengintervensi, tetapi siapa peduli pada nyawa masyarakat sipil?
As Long as the Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh menceritakan tentang kengerian perang Suriah dan mencoba memotret penderitaan masyarakat akibat perang dari dekat. Zoulfa Katouh merupakan penulis berdarah Suriah yang menulis buku ini untuk menunjukkan apa yang terjadi di Suriah kepada dunia, kejadian-kejadian yang tidak mungkin ada dalam pemberitaan media.
Perempuan dan Anak-anak: Korban Paling Terdampak
Salama, anak farmasi yang mendapat tuntutan menjadi perawat di tengah krisis perang, melihat korban perang berjatuhan tiada henti. Ia melihat bagaimana perempuan dan anak-anak silih berganti menjadi pasiennya. Setiap kali ada yang gugur, hal itu menyisakan kesedihan berkepanjangan dalam dirinya.
Kurangnya tenaga medis dan banyaknya korban menjadikan Salama beserta dokter lain tidak dapat menyelamatkan semua orang. Dalam suatu kejadian ketika Salama menangani Ahmad, anak kecil yang terluka karena bom di sebuah sekolah dasar, ia begitu sentimental karena Ahmad meregang nyawa di bawah penanganannya langsung.
Sebelum meninggal, Ahmad mengatakan, “Bibi – jangan menangis – kalau aku masuk surga – aku akan menceritakan – semuanya – kepada Tuhan.”
Kematian di seluruh kota menyisakan ketakutan. Semua orang, terutama perempuan dan anak-anak, bersembunyi di dalam rumah-rumah yang tidak lagi utuh, bila tidak mau menyebutnya dengan sisa puing-puing bangunan karena bom.
Dalam kesempatan lain, Salama nyaris menjadi korban kekerasan seksual oleh tentara yang menggeledah rumah sakit. Dari cerita-cerita yang Salama alami, kita dapat melihat bagaimana perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah sekalipun menjadi sasaran kekerasan, bahkan tanpa alasan.
Salama sering kali mengingat masa-masa indah hidupnya sebelum perang. Keluarganya yang utuh, mimpi-mimpi yang ia kejar dan tentu saja perasaan bahagia. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia hadapi saat ini. Perang merampas paksa segalanya dari rakyat Suriah: keluarga, rumah, pekerjaan, segala hal yang mereka miliki sebelumnya. Bahkan mereka kesulitan untuk makan dan minum.
Krisis ini menuntut mereka untuk kuat dan pasrah secara bersamaan.
Trauma, Iman dan Harapan
Peristiwa-peristiwa yang menimpa Salama menyisakan trauma dalam dirinya. Pada satu titik, ia juga mengalami halusinasi dan bercakap-cakap dengan Khawf – yang memiliki makna ketakutan.
“Khawf adalah halusinasi yang menetap. Dan setiap malam, selama tujuh bulan terakhir, dia telah memupuk ketakutanku, meniupkan nyawa ke dalamnya.” (h. 24).
Melalui sudut pandang ‘aku’ dari tokoh Salama, kita seolah-olah dapat melihat kejadian demi kejadian, ketakutan demi ketakutan, pembunuhan demi pembunuhan seolah-olah di depan mata. Serta turut merasakan emosi dan kebimbangan Salama.
Salama dihadapkan pada situasi dilematis karena ia merasa bersalah jika harus meninggalkan Suriah, sementara kondisi psikologisnya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja di rumah sakit. Pilihan yang tersisa adalah pergi meninggalkan tanah kelahirannya, untuk menemukan kedamaian dan keamanan.
Dari sudut pandang pertama ini, kita dapat melihat bagaimana perang meninggalkan pengalaman traumatis yang menyerang individu dan tidak melulu soal kisah heroik dari medan perang. Bagaimana Salama, perempuan yang mulanya penuh mimpi, memasrahkan nasibnya di atas perahu yang terombang-ambing, membawanya jauh dari Suriah, dari tanah dan bangsanya.
Benteng terakhir yang ia miliki adalah iman dan harapan Suriah yang lebih baik di masa depan. Novel ini secara keseluruhan mengungkapkan kenyataan pahit bahwa rakyat lah yang paling dirugikan dari konflik politik dan kepentingan elit. []





Comments are closed.