Mubadalah.id — Kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan dan masa depan anak mendorong munculnya pola asuh yang semakin protektif. Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan keluarga.
Orang tua cenderung berusaha melindungi anak dari berbagai risiko, mulai dari memasang pengaman di rumah hingga mengawasi setiap aktivitas anak secara intens. Berbagai perlengkapan keselamatan pun semakin marak digunakan.
Selain itu, tekanan sosial juga turut memengaruhi pola pengasuhan. Orang tua kerap merasa harus melakukan berbagai upaya perlindungan agar tidak dianggap lalai. Bahkan, ada kecenderungan saling menghakimi antarorang tua terkait cara mereka menjaga anak.
Di sisi lain, keinginan untuk melindungi anak dari stres juga semakin meningkat. Banyak orang tua berusaha menghilangkan potensi tekanan dalam kehidupan anak dengan cara terus mengawasi dan terlibat dalam setiap aktivitas mereka.
Namun, pola asuh yang protektif ini memiliki dampak yang kurang menguntungkan. Anak yang terlalu orang tua lindungi berisiko kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman, termasuk menghadapi kegagalan atau risiko kecil.
Padahal, pengalaman tersebut penting untuk membangun kemandirian dan ketahanan mental anak. Tanpa ruang untuk mencoba dan menghadapi tantangan, anak dapat tumbuh dengan ketergantungan yang tinggi terhadap orang tua.
Selain itu, upaya membangun kepercayaan diri anak melalui kontrol yang berlebihan juga dapat menjadi kontra produktif. Anak justru tidak memiliki kesempatan untuk mengenali kemampuannya secara mandiri.
Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya keseimbangan dalam pengasuhan. Orang tua tetap perlu memberikan perlindungan, namun juga harus memberi ruang bagi anak untuk belajar, mencoba, dan berkembang secara alami. []
*)Sumber Tulisan: Buku The Danish Way Of Parenting Karya Jessica J X dan Iben D S, hlm 15-18





Comments are closed.