KABARBURSA.COM – Di tengah posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok kendaraan listrik global, kinerja lingkungan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) justru menunjukkan tren yang tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi transisi energi.
Laporan keberlanjutan 2024 perseroan mengungkap sejumlah indikator yang bergerak ke arah kurang ideal. Perusahaan bahkan secara eksplisit mengakui bahwa kinerja lingkungannya belum memenuhi target yang ditetapkan.
“Tahun 2024 menjadi tahun yang menantang dalam kinerja lingkungan, dengan sejumlah capaian yang belum sejalan dengan target dan tujuan keberlanjutan perusahaan,” tulis manajemen dalam laporan yang dilihat Ahad, 26 April 2026.
Pernyataan ini tercermin langsung dalam data emisi. Sepanjang periode pelaporan, total emisi gas rumah kaca (GRK) INCO tercatat mencapai 2,13 juta ton CO2eq, meningkat dari 2,03 juta ton pada tahun sebelumnya.

Kenaikan tidak hanya terjadi secara absolut, tetapi juga pada tingkat efisiensi. Intensitas emisi naik dari 28,73 menjadi 29,95 ton CO2eq per ton nikel.
Kondisi ini menandakan bahwa proses produksi menjadi lebih karbon-intensif. Artinya, untuk menghasilkan setiap ton nikel, perusahaan kini menghasilkan emisi lebih besar dibanding sebelumnya.
Tekanan serupa terlihat dari sisi energi. Total konsumsi energi meningkat menjadi 31,78 juta GJ dari sebelumnya 30,97 juta GJ. Sementara itu, intensitas energi juga naik dari 437,90 menjadi 445,73 GJ per ton nikel.

Peningkatan ini menunjukkan penurunan efisiensi operasional yang dalam jangka panjang berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi sekaligus memperbesar jejak karbon. Perusahaan menjelaskan bahwa kondisi ini tidak terlepas dari perubahan karakteristik bahan baku.
“Tantangan ini muncul di tengah upaya kami untuk meningkatkan produksi nikel matte di pabrik pengolahan Sorowako dengan bijih berkadar lebih rendah,” tulis manajemen.
Lebih lanjut, INCO menambahkan bahwa faktor cuaca turut memperburuk kondisi tersebut. “Faktor alam seperti curah hujan yang tinggi menyebabkan bijih memiliki kadar kelembaban lebih tinggi… dibutuhkan konsumsi energi yang lebih besar akibat kandungan nikel yang lebih rendah dan kelembaban yang lebih tinggi,” kata mereka.
Dampak operasional ini juga tercermin pada peningkatan limbah. Produksi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) naik menjadi 2.407,5 ton dari sebelumnya 2.041 ton. Di sisi lain, emisi partikulat melonjak signifikan menjadi 879 ton, dibandingkan 600 ton pada tahun sebelumnya.

Namun yang paling kontras terlihat pada aspek pemulihan lingkungan. Luas reklamasi lahan justru turun menjadi 178,9 hektare, dari 224,4 hektare pada 2023 dan 295,4 hektare pada 2022.

Penurunan ini menunjukkan bahwa laju pemulihan lahan tidak sejalan dengan tekanan operasional yang meningkat.
Secara keseluruhan, data tersebut mengindikasikan bahwa tekanan lingkungan INCO tidak hanya meningkat, tetapi juga bersifat struktural. Penurunan kualitas bijih membuat proses produksi menjadi lebih intensif energi, yang pada akhirnya mendorong kenaikan emisi dan limbah.
Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap praktik pertambangan berkelanjutan, kondisi ini menjadi catatan penting. Label “nikel hijau” yang melekat pada industri baterai tidak hanya bergantung pada penggunaannya dalam kendaraan listrik, tetapi juga pada bagaimana nikel tersebut diproduksi.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.