Ditulis oleh Syahrianto •
KABARBURSA.COM – PT Argo Pantes Tbk (ARGO) memulai pembangunan gudang logistik untuk J&T Cargo melalui proyek build-to-suit. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan memperkuat lini bisnis properti industri dengan kontrak jangka panjang.
Direktur Utama Argo Pantes Thomas Wahyu Kalaij mengatakan proyek ini diarahkan untuk meningkatkan utilisasi aset perusahaan.
“Groundbreaking ini sejalan dengan strategi kami untuk mendorong hunian gudang melalui kontrak jangka panjang yang memberikan arus kas lebih stabil,” ujar Thomas dalam keterangan resmi dikutip, Minggu 26 April 2026.
Pembangunan gudang tersebut ditandai dengan seremoni peletakan batu pertama yang dihadiri manajemen Argo Pantes, perwakilan J&T Cargo, kontraktor, serta lembaga pembiayaan.
Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp120 miliar dan ditargetkan rampung pada Februari 2027.
Gudang yang dibangun akan menjadi bagian dari jaringan logistik J&T Cargo, khususnya untuk memperkuat distribusi di kawasan Jabodetabek. Proyek ini juga merupakan tindak lanjut dari perjanjian sewa gudang yang telah diteken kedua pihak.
Sebelumnya, pada 11 Februari 2026, Argo Pantes menandatangani kontrak sewa gudang dengan J&T Cargo dengan nilai hampir Rp221 miliar. Kontrak tersebut berlaku selama 10 tahun atau 120 bulan.
Performa Saham ARGO hingga Free Float
Dari sisi pasar, saham ARGO ditutup di level Rp1.050 pada perdagangan terakhir, naik 5 persen dalam satu hari. Dalam sepekan, saham ini menguat 13,51 persen, sementara secara tahun berjalan masih mencatat kenaikan sekitar 5,53 persen.
Namun demikian, likuiditas perdagangan relatif terbatas dengan volume harian tercatat sekitar 15.400 saham, jauh di bawah rata-rata volume sekitar 90.740 saham. Kondisi ini mencerminkan aktivitas transaksi yang masih tipis di pasar.
Secara fundamental, Argo Pantes merupakan perusahaan tekstil terpadu yang memproduksi benang hingga kain berbahan katun dan campuran polyester.
Selain bisnis tekstil, perusahaan juga mengembangkan usaha penyewaan lahan dan gudang sebagai bagian dari diversifikasi.
Struktur kepemilikan saham menunjukkan dominasi investor institusi. PT Argo Manunggal Land Development menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 38,74 persen, diikuti PT Kukuh Manunggal Propertindo sebesar 16,07 persen dan Trevor Global Ltd 13,32 persen.
Sementara itu, porsi saham publik relatif terbatas dengan free float sekitar 7,57 persen. Angka ini berada di bawah ketentuan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mensyaratkan peningkatan free float secara bertahap untuk menjaga likuiditas perdagangan saham.
Dengan struktur tersebut, pergerakan saham ARGO cenderung dipengaruhi oleh kepemilikan yang terkonsentrasi. Di sisi lain, ekspansi ke bisnis properti logistik melalui proyek gudang ini menjadi salah satu langkah perusahaan dalam memperkuat sumber pendapatan di luar sektor tekstil.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.