KABARBURSA.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin masif dan menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan digital. Namun di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, teknologi ini mulai memunculkan tekanan baru terhadap lingkungan, terutama dari sisi energi, air, dan material.
Di sektor lingkungan sendiri, AI sebenarnya telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti memantau deforestasi hingga menganalisis kualitas ekosistem. Tetapi, penggunaan yang semakin luas justru menghadirkan paradoks baru perihal keberlanjutan.
Peneliti Forest Digest IPB University, Pradhipta Oktavianto, menilai ekspansi AI tidak bisa dilepaskan dari beban ekologis yang menyertainya. “AI menawarkan kemudahan dan kecepatan. Namun di balik itu, AI meninggalkan jejak lingkungan yang berat,” ujarnya, dikutip dari Forest Digest, Ahad, 26 April 2026.
Menurut dia, setiap aktivitas AI—mulai dari menjawab pertanyaan hingga menghasilkan gambar atau video—bergantung pada pusat data berskala besar yang membutuhkan energi, air, dan material dalam jumlah sangat besar. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung AI, tetapi sekaligus sumber tekanan terhadap sumber daya alam.
Pusat data AI dirancang untuk menangani komputasi intensif dalam skala besar. Dalam praktiknya, fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik tinggi serta sistem pendinginan kompleks agar server tetap stabil. Satu pusat data bahkan bisa mencakup jutaan meter persegi dan berisi ribuan server berperforma tinggi.
“Dalam banyak kasus, satu pusat data AI bisa lebih besar dari sebuah kota kecil, namun memiliki kebutuhan listrik dan air dalam jumlah masif,” kata Pradhipta.
Dari sisi energi, lonjakan kebutuhan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Riset Goldman Sachs menunjukkan permintaan listrik pusat data global berpotensi naik hingga 165 persen pada 2030, didorong oleh ekspansi AI. Konsumsi listrik diproyeksikan melonjak dari sekitar 536 terawatt jam (TWh) pada 2025 menjadi lebih dari 1.000 TWh pada 2030.
Masalahnya, struktur energi pusat data masih didominasi bahan bakar fosil. Sekitar 60 persen pasokan energi berasal dari sumber fosil, sementara energi terbarukan baru menyumbang sekitar seperempatnya. Kondisi ini dinilai berisiko memperpanjang ketergantungan global terhadap energi tidak ramah lingkungan.
Selain energi, konsumsi air menjadi isu lain yang tak kalah krusial. Server AI modern menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga membutuhkan sistem pendinginan berbasis air. Akibatnya, kebutuhan air meningkat signifikan.
Diperkirakan pada 2027, pusat data AI akan membutuhkan hingga 6,4 triliun liter air per tahun. Angka ini setara dengan kebutuhan air bagi sekitar 116,9 juta orang. Di tengah krisis air global, lonjakan ini menjadi sinyal peringatan serius.
Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Pembangunan pusat data juga mendorong peningkatan kebutuhan material, terutama logam seperti tembaga. Permintaan ini berpotensi memperluas aktivitas pertambangan yang selama ini memiliki rekam jejak lingkungan yang kurang baik.
Pradhipta menilai tekanan terhadap material ini dapat berlangsung dalam jangka panjang. “Dengan kebutuhan tembaga untuk AI, mungkin perlu dilakukan penambangan tembaga dalam 25 tahun ke depan sebanyak jumlah yang pernah ditambang dalam sejarah manusia,” ujarnya.
Di sisi lain, siklus hidup perangkat AI yang relatif singkat turut memperburuk masalah limbah elektronik. Server hanya bertahan beberapa tahun sebelum menjadi limbah beracun yang sulit didaur ulang. Data PBB menunjukkan kurang dari seperempat limbah elektronik global saat ini dikelola dengan benar.
Dampak lingkungan ini juga tidak merata. Banyak pusat data justru dibangun di wilayah yang rentan secara iklim dan sosial. Di California, misalnya, ekspansi pusat data terjadi di tengah kekeringan dan gelombang panas. Sementara di Queretaro, Meksiko, rencana pembangunan fasilitas serupa memicu kekhawatiran warga terkait ketersediaan air bersih.
Tren serupa kini mulai terlihat di negara berkembang, termasuk di Asia dan Afrika. Negara seperti Malaysia, Indonesia, India, hingga Afrika Selatan mulai diposisikan sebagai pusat baru data global, meski kapasitas energi dan airnya terbatas.
Dalam banyak kasus, manfaat ekonomi digital dinikmati secara global, sementara beban lingkungan justru ditanggung oleh wilayah tempat infrastruktur dibangun.
Pradhipta menegaskan AI tetap memiliki potensi besar, tetapi perlu diiringi dengan kebijakan yang tepat. “AI sering dipromosikan sebagai teknologi masa depan yang cerdas dan efisien. Namun, tanpa transparansi, regulasi, dan transisi energi yang serius, AI berisiko menjadi mesin baru ekstraksi sumber daya,” ujarnya.
Secara keseluruhan, ekspansi AI tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga tantangan keberlanjutan. Tanpa pengelolaan yang tepat, percepatan digital justru dapat memperdalam tekanan terhadap lingkungan global.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.