Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Jejak Surat dari Pinggir Sejarah, Perjuangan Para Saudara Perempuan Kartini

Jejak Surat dari Pinggir Sejarah, Perjuangan Para Saudara Perempuan Kartini

jejak-surat-dari-pinggir-sejarah,-perjuangan-para-saudara-perempuan-kartini
Jejak Surat dari Pinggir Sejarah, Perjuangan Para Saudara Perempuan Kartini
service

Roekmini duduk termangu dengan secarik kertas di hadapannya pada suatu hari di bulan September 1904. Ia harus menulis surat kepada Rosita Abendanon-Mandri, seorang perempuan Belanda di Batavia yang menjadi sahabat pena kakaknya, Kartini. 

Namun, apa yang harus ia tulis? Kartini baru saja meninggal dunia, hanya empat hari setelah melahirkan.

Setelah berminggu-minggu menunda, Roekmini akhirnya menggoreskan pena. Ia menulis bahwa hal yang menggantung begitu berat di hatinya juga membebani hati sahabatnya tersebut. Ia terus membayangkan bagaimana jiwa mereka, seperti dua senar yang terikat erat dan disetel dengan nada yang sama, akan lepas hanya dengan sentuhan sekecil apa pun terhadap penderitaan semacam itu.

Kalimat sedih itu membuka sebuah lemari arsip sejarah yang jarang kita baca. Selama ini, kita hanya mengenal sosok Kartini lewat surat-suratnya sendiri. Padahal, menurut inventarisasi arsip yang dilakukan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, terdapat 235 surat dalam arsip keluarga Abendanon. 

Sebagian besar surat tersebut ditulis oleh adik-adik Kartini, yakni Roekmini (1880-1951), Kardinah (1881-1971), Kartinah (1883-?), dan Soematri (1888-1963). Mereka bukan sekadar nama pelengkap dalam kisah pahlawan nasional. Mereka adalah pelaku sejarah yang selama ini berdiri di pinggir panggung. Dari pinggiran itulah, kita justru bisa melihat banyak hal nyata yang luput dari sorotan sejarah utama.

Nama Kartini selalu lekat dengan perjuangan emansipasi perempuan. Namun, saat membaca lembaran surat adik-adiknya, kita akan bertanya tentang siapa sebenarnya yang memulai semua ini. 

Pada tahun 1901, Kartini, Roekmini, dan Kardinah telah membangun semacam kelompok diskusi kecil. Mereka membaca buku-buku Belanda, membedah novel feminis seperti Hilda van Suylenburg, dan bertukar surat dengan para tokoh pembaru. Kartini memang yang paling berani menyuarakan pendapat dan banyak menulis. Namun, surat-surat Roekmini membuktikan bahwa dialah sosok yang paling tekun mengurus hal-hal praktis.

Baca juga: Panggil Aku Kartini Saja: Membaca Buah Pikir “Kawan Kita Kartini”, Bukan “Ibu Kita Kartini”

Ketika Kartini dan Roekmini berencana sekolah ke Belanda pada 1902, Roekmini-lah yang rajin menulis penjelasan panjang kepada Rosita. Ketika ada saran agar mereka tetap tinggal di Hindia Belanda saja, Roekmini menjawab dengan sopan tapi sangat tegas. Ia menyatakan bahwa mereka sudah mendiskusikannya dengan yang lain, memikirkannya sendiri, dan memutuskan untuk memilih Belanda setelah mendapat begitu banyak dukungan. Termasuk dari organisasi berpengaruh seperti Oost en West. 

Sayangnya, rencana ini kandas. Keluarga menentang, dan pejabat kolonial menganggap pendidikan Eropa hanya akan membingungkan mereka. Dalam memorandum tertanggal 27 April 1903, Residen Semarang Piet Sijthoff bahkan menyatakan bahwa mayoritas kesan yang akan mereka terima di sana hanya akan membingungkan mereka. Saat mimpi itu hancur, Roekmini yang harus memunguti serpihan kekecewaan itu dan berusaha mencari jalan lain.

Nasib masih belum berpihak pada Kartini dan saudara-saudara perempuannya. Pada Desember 1901, Kardinah yang baru berusia 20 tahun dipanggil oleh orang tuanya. Ia dijodohkan dan harus menikah dengan seorang patih di Pemalang. 

Dalam suratnya kepada Rosita, Kardinah tidak meratapi nasibnya. Ia justru menyampaikan permintaan maaf karena telah membuat sedih dan membawa kekecewaan atas keputusannya menerima lamaran itu. 

Mengapa seorang perempuan Jawa yang dijodohkan merasa perlu minta maaf kepada seorang nyonya Belanda padahal itu hal yang sangat lumrah saat itu? Jawabannya ada pada mimpi yang mereka bangun bersama. Bagi Kardinah, Rosita adalah saksi dari impian mereka tentang dunia alternatif, sebuah dunia di mana perempuan bebas memilih jalan hidupnya. Menerima perjodohan terasa seperti mengkhianati perjuangan mereka sendiri.

Dua tahun kemudian, giliran Kartini yang dijodohkan dengan Bupati Rembang. Lewat suratnya, Roekmini kembali mencoba berdamai dengan kenyataan pahit tersebut. Ia berharap bisa melupakan apa yang pernah ada, walau ia sadar betapa sulitnya berjalan di atas reruntuhan cita-cita indah dengan kepala tegak dan hati yang tabah.

Baca juga: Antara Kartini, Snouck Hurgronje, dan Etika Kebangsaan yang Bebas dari Patriarki

Setelah Kartini wafat, Roekmini pun mengambil alih peran sebagai penulis surat paling aktif. Surat-suratnya dari 1905 hingga 1920 adalah bukti nyata ketangguhan seorang perempuan. Ia pernah melamar pekerjaan di bank kredit pertanian, tapi ditolak karena pekerjaannya dinilai mengharuskan banyak bepergian dan tidak cocok untuk perempuan. Ia juga dijanjikan posisi di sebuah sekolah kejuruan, namun pemerintah tiba-tiba menarik dananya.

Pada 1908, Roekmini, Kartinah, dan Soematri ikut mendukung berdirinya pergerakan orang muda Jawa seiring dengan lahirnya Budi Utomo. Mereka bahkan menulis selebaran berjudul “Seruan kepada Jawa Muda” yang mengajak para pemuda progresif untuk bersatu. Tapi, Roekmini kecewa saat organisasi itu akhirnya malah dikuasai oleh pejabat tua yang kolot. Ia mengkritik keras terpilihnya Bupati Jepara yang konservatif ke dalam kepengurusan. 

Meski tidak pernah menjadi tokoh besar, Roekmini berhasil melakukan hal yang paling sulit, yakni bertahan. Setelah suaminya meninggal, ia menghidupi dirinya dengan menjadi guru taman kanak-kanak di Kudus bergaji 50 gulden sebulan. Doanya telah terkabul bahwa suatu hari ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tulisnya bangga pada 1921.

Di sisi lain, Kardinah yang menjadi istri Bupati Tegal memanfaatkan posisinya untuk berbuat sesuatu. Terinspirasi oleh buku kumpulan surat Kartini yang berjudul Door Duisternis tot Licht, Kardinah membuka sekolah ekonomi rumah tangga untuk anak perempuan desa bernama Wismo Pranowo pada 1 Maret 1916. 

Hebatnya, Kardinah menolak menggunakan bahasa Belanda di sekolahnya. Semua pelajaran diberikan dalam bahasa Jawa karena ia secara tegas tidak ingin anak-anak perempuan ini menjadi setengah Eropa. Ia berpendapat bahwa kekuatan bangsa kami hanya dapat ditemukan dengan tetap teguh pada jati diri. Ia ingin memajukan perempuan Jawa tanpa membuat mereka kehilangan akar budayanya.

Baca juga: Kita Bisa Belajar dari Kartini, Pemilu Bukan Soal Perolehan Suara dan Rebutan Kekuasaan

Sekolah ini berkembang pesat. Pada tahun 1917, Wismo Pranowo telah memiliki 165 murid dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari 7.000 gulden dari penyelenggaraan pasar malam. Kardinah juga menulis buku pelajaran dalam bahasa Jawa tentang menjahit, memasak, dan membatik. Buku-buku ini kemudian digunakan di sekolah-sekolah pemerintah. Ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang membumi justru lebih berkelanjutan daripada sekadar meniru model Barat.

Sementara itu, Soematri si bungsu tumbuh di zaman yang sedikit lebih modern. Pada 1914, saat diminta menulis laporan tentang kondisi perempuan Jawa untuk Komisi Penyelidikan Kesejahteraan Rakyat (Mindere Welvaart Onderzoek), ia dengan berani mengkritik praktik ketidakadilan dalam pernikahan. Ia menilai praktik selir adalah kanker dalam masyarakat Pribumi dan harus dihapuskan, sedangkan perempuan Jawa tidak banyak menuntut karena sejak kecil ia dididik untuk patuh. 

Soematri juga menyaksikan langsung perubahan sosial di sekitarnya. Pada 1918, ia menulis dengan takjub bahwa ia melihat istri seorang bupati menggendong anaknya sendiri dengan selendang saat naik kereta api. Ibaratnya, itu sesuatu yang dulu hanya ada dalam dongeng. 

Namun, di masa tuanya pada 1930-an, Soematri justru cemas melihat orang muda yang terlalu modern karena lebih suka ke bioskop dan berdansa daripada berkumpul dengan keluarga. Baginya, modernitas ternyata juga membawa kebingungan baru.

Satu per satu kakak-beradik Kartini tutup usia. Pada 1951, Roekmini meninggal di usia 71 tahun. Dari lima bersaudari, tinggallah Kardinah sendiri. Dalam suratnya kepada Hilda de Booy-Boissevain, teman lama keluarga, Kardinah menulis dengan penuh ketegaran bahwa kepergian saudaranya itu seperti daun kering yang jatuh ke tanah dan menemukan tempatnya di antara butir-butir padi. Kardinah menutup suratnya dengan kabar bahagia bahwa Kartini telah resmi diakui sebagai pahlawan nasional pada 1964. Setiap tanggal 21 April, ribuan orang berziarah ke makamnya di Bulu, Rembang.

Baca juga: Jangan Cuma Seremonial, Ini 5 Hal Penting Yang Dilakukan Kartini

Kisah saudara-saudara Kartini mengajarkan kita dua hal penting. Pertama, sejarah tidak hanya milik mereka yang namanya diabadikan sebagai nama jalan. Sejarah juga dibangun oleh perempuan yang lamaran kerjanya ditolak, yang mimpinya mendirikan sekolah kandas di tengah jalan, atau yang harus berjualan demi membangun rumah kecil. 

Kedua, perubahan sosial memiliki banyak wajah. Kartini adalah pihak yang paling banyak disorot. Namun, Roekmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematri membuktikan bahwa melanjutkan perjuangan tidak melulu harus lewat tulisan yang mengguncang dunia. 

Membuka sekolah kecil di desa, mengajar anak-anak TK, atau sekadar bertahan hidup secara mandiri, adalah bentuk perlawanan yang sama hebatnya. Surat-surat mereka tersimpan lama di Leiden selama lebih dari seratus tahun. Meski terlambat, jejak langkah dari pinggir sejarah itu akhirnya menemukan pembacanya.

Referensi:

Coté, Joost, ed. dan terj. Realizing the Dream of R. A. Kartini: Her Sisters’ Letters from Colonial Java. Athens: Ohio University Press, 2008.

Sumber foto: Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=8579929

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.