
Plastik Jadi Bensin, Air Laut Jadi Padi: Eksperimen Besar BRIN di Pesisir Jepara
Di Desa Bandungharjo, Kabupaten Jepara, sampah plastik kini memiliki nilai baru sebagai sumber energi alternatif.
Inovasi yang dinamai Petasol ini dihasilkan melalui proses pengolahan limbah plastik bernilai rendah yang diekstraksi menjadi bahan bakar cair. Uji coba langsung dilakukan dengan memasukkan cairan tersebut ke mesin perahu nelayan guna membuktikan kemampuannya sebagai substitusi solar konvensional.
Metode pengolahannya mengandalkan mesin pirolisis yang mampu memproses sampah plastik tanpa harus membakarnya secara terbuka, sehingga emisi yang dihasilkan jauh lebih rendah.
Bagi nelayan pesisir, kehadiran bahan bakar alternatif ini menjadi peluang untuk melepaskan diri dari ketergantungan pasokan bahan bakar fosil yang harganya sering bergejolak.
Saat ini, unit pengolahan tersebut direncanakan menjadi bagian dari pusat industri kecil di kawasan pesisir. Tujuannya adalah menciptakan siklus di mana sampah yang sebelumnya mencemari pantai justru kembali ke masyarakat dalam bentuk energi yang mendukung operasional melaut sehari-hari.
Bertani di Tengah Ancaman Air Laut
Selain masalah energi, lahan pertanian di pesisir Jepara seringkali tidak produktif akibat rembesan air laut atau intrusi yang membuat tanah menjadi asin.
Menanggapi kendala tersebut, varietas padi Biosalin diperkenalkan sebagai solusi bagi para petani. Jenis padi ini memiliki ketahanan khusus terhadap tingkat salinitas tinggi, sehingga tetap bisa dipanen dengan hasil optimal meski terpapar air laut.
Sistem penanamannya menerapkan teknik pertanian berkelanjutan yang meminimalkan penggunaan bahan kimia tambahan. Pendekatan ini menjaga kesuburan tanah pesisir yang cenderung marginal agar tetap bisa digunakan dalam jangka panjang.
Padi Biosalin pun diharapkan mampu mengembalikan fungsi sawah-sawah di garis pantai yang sebelumnya telantar akibat kadar garam yang merusak tanaman biasa.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan bahwa teknologi ini sangat dibutuhkan mengingat panjangnya garis pantai wilayah tersebut yang mencapai 80 km.
Dengan padi yang mampu beradaptasi pada kondisi ekstrem, stabilitas pangan di tingkat daerah dapat lebih terjaga tanpa harus bergantung pada pembukaan lahan baru di area hutan.
Penerapan Teknologi Langsung di Lapangan
Integrasi antara pengolahan limbah menjadi energi dan pertanian adaptif di Jepara ini diarahkan untuk menjadi model bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Skema ini tidak lagi sekadar berada di level penelitian laboratorium, melainkan sudah masuk ke tahap penggunaan harian oleh warga lokal. Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk industri energi, dijalankan untuk memastikan mesin pengolah sampah dan benih padi tersedia secara berkelanjutan.
Pendampingan kepada masyarakat menjadi aspek penting agar unit pengolahan plastik tidak terbengkalai setelah program diluncurkan. Masyarakat diajarkan cara mengoperasikan mesin dan mengelola lahan sawah secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk membangun ekonomi lokal yang tidak hanya bertumpu pada hasil laut, tetapi juga pada pengelolaan limbah dan pertanian pesisir.
Model di Bandungharjo ini diproyeksikan sebagai “laboratorium hidup” bagi teknologi nasional. Keberhasilan nelayan menggunakan bahan bakar dari plastik dan keberhasilan petani memanen padi di tanah asin akan menjadi acuan untuk replikasi program serupa di sepanjang pesisir Nusantara guna menghadapi dampak perubahan iklim dan krisis energi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor




Comments are closed.