
Teknologi Gas CubiTan, Jawaban BRIN untuk Kurangi Ketergantungan Impor LPG
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengandalkan penggunaan Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai media penyimpanan gas metana.
Inovasi tersebut menjadi strategi menekan tingginya ketergantungan nasional terhadap impor LPG. MOF merupakan material hibrida hasil perpaduan ion logam dengan molekul organik yang menciptakan struktur dengan tingkat porositas sangat ekstrem.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Canggih Setya Budi, memaparkan bahwa satu gram MOF memiliki luas permukaan hingga 10.000 m², sebanding dengan luas lapangan sepak bola. Karakteristik tersebut membuat MOF jauh lebih unggul dalam menangkap molekul gas seperti metana, hidrogen, hingga CO₂ dibandingkan material tradisional sejenis zeolite.
Indonesia menyimpan potensi metana yang melimpah, baik dari cadangan alam maupun biomassa seperti limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME). MOF memegang peranan vital dalam proses pemisahan sekaligus pemurnian gas metana dari biogas POME tersebut.
Keberhasilan teknologi tersebut diproyeksikan mampu memperkuat kemandirian energi nasional melalui konsep “Gas Merah Putih” sekaligus memangkas beban subsidi LPG yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.
CubiTan: Evolusi Tabung Gas Pintar
Penerapan material maju tersebut bermanifestasi dalam sebuah sistem bernama CubiTan.
Inovasi tersebut lahir dari kolaborasi internasional BRIN bersama pakar dari Kyoto University serta perusahaan rintisan asal Jepang, Atomis dan Yachiyo Engineering. CubiTan dirancang sebagai alternatif tabung gas yang lebih efisien, ringan, dan memiliki fitur pemantauan digital secara presisi.
Sisi teknis tabung CubiTan dibangun menggunakan material Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) yang diisi dengan adsorben MOF. Hasilnya, bobot tabung menyusut drastis menjadi hanya 11,7 kg, jauh lebih ringan daripada tabung besi konvensional seberat 30,5 kg dengan kapasitas penyimpanan yang tetap bersaing.
Keunggulan lainnya terletak pada penggunaan sensor suhu dan tekanan nirkabel yang memungkinkan pemantauan kondisi gas secara seketika.
“CubiTan ini merupakan sistem gas yang terbuat dari CFRP, di dalamnya terdapat gas adsorben MOF. Dilengkapi pula dengan sistem komunikasi ACNWI, sensor temperatur, sensor tekanan, serta wireless,” jelas Canggih Setya Budi dalam lokakarya di Tangerang Selatan, Rabu (15/4).
Pemanfaatan MOF diklaim mampu mendongkrak performa penyimpanan gas hingga dua kali lipat dibanding sistem standar. Selain itu, teknologi tersebut memungkinkan operasional pada tekanan yang lebih rendah, sehingga faktor keselamatan bagi pengguna rumah tangga dan industri menjadi jauh lebih terjamin.
Saat ini, transisi ke teknologi MOF masih perlu penyelesaian kendala teknis di lapangan. Sistem CubiTan masih bekerja pada tekanan tinggi di kisaran 200 bar. Prioritas riset sekarang diarahkan pada penurunan tekanan operasional menuju angka 15 bar agar setara dengan kondisi tabung LPG yang sudah jamak digunakan masyarakat saat ini.
Lewat kemitraan Sister Lab dengan Kyoto University, BRIN berupaya merancang material MOF yang lebih tangguh terhadap tekanan mekanik dan kelembaban ekstrem.
Jika tekanan operasional berhasil diturunkan, teknologi tersebut dapat segera diadopsi menggunakan infrastruktur tabung yang sudah tersedia, sekaligus memicu pertumbuhan iklim riset dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor





Comments are closed.