Jakarta, Arina.id—Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 yang tengah berlayar menuju Gaza, Palestina, dilaporkan mendapat intimidasi dan pencegatan dari militer Zionis Israel saat melintas di perairan internasional dekat Kreta, Yunani.
Menurut laporan Aljazeera, Kamis (30/4) Tujuh dari 58 kapal dilaporkan disita saat armada tersebut membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza yang masih berada di bawah blokade.
Operasi tersebut melibatkan penggunaan drone, teknologi pengacau komunikasi (jamming), serta kapal cepat bersenjata yang mengepung armada kemanusiaan di tengah Laut Mediterania.
Pihak penyelenggara flotilla menyebut kapal-kapal mereka dihadang oleh kapal cepat militer Israel yang mengaku berasal dari pihak Israel.
Dalam insiden itu, kapal-kapal tersebut dilaporkan mengarahkan laser dan senjata, serta memerintahkan para peserta untuk berkumpul di bagian depan kapal dan berlutut dengan tangan di tanah.
“Kapten kapal kami didekati oleh kapal cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai Israel mengarahkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, serta memerintahkan para peserta untuk maju ke bagian depan kapal dan berlutut dengan tangan di tanah,” demikian pernyataan Global Sumud Flotilla, Kamis (30/4).
Pihak flotilla menyebut kapal mereka dikepung di perairan internasional dan mengalami ancaman kekerasan serta kemungkinan penahanan.
“Komunikasi dengan sebelas kapal telah terputus, dan media Israel mengklaim bahwa tujuh kapal telah dicegat,” tulisnya.
Radio Angkatan Darat Israel menyebut bahwa operasi penahanan terhadap kapal-kapal bantuan telah dimulai. Tujuh kapal dari total 58 kapal disebut telah diamankan di sekitar perairan dekat Kreta.
Juru bicara Global Sumud Flotilla, Gur Tsabar menyebut tindakan tersebut sebagai serangan terhadap kapal sipil yang tidak bersenjata di perairan internasional.
Tsabar menegaskan bahwa operasi tersebut terjadi ratusan mil dari wilayah Israel dan dinilai melanggar hukum internasional.
“Israel tidak memiliki yurisdiksi di perairan ini. Menaiki kapal-kapal ini merupakan penahanan ilegal,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu aktivis di kapal flotilla Tariq Ra’ouf mengatakan bahwa kapal mereka dikelilingi oleh kapal-kapal militer besar Israel dan perahu karet cepat (RIB), serta mengalami gangguan komunikasi.
“Drone juga mengelilingi kami dan menyinari kami dengan cahaya,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa komunikasi antarkapal banyak yang terputus selama operasi berlangsung, serta adanya dugaan gangguan psikologis melalui saluran radio.
“Operasi tersebut dilaporkan berlangsung selama beberapa jam ketika armada tengah menuju arah Kreta di perairan internasional,” jelasnya.
Greenpeace menambahkan pemerintah Israel masih memberlakukan blokade penuh melalui jalur darat dan laut terhadap bantuan kemanusiaan serta pasokan makanan dari organisasi internasional.
“Pemerintah Israel terus memberlakukan blokade penuh melalui darat dan laut terhadap bantuan dan pasokan makanan dari organisasi internasional. Menghalangi bantuan dan menargetkan pihak-pihak yang berupaya mengirimkannya merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional,” tulis Greenpeace.





Comments are closed.