KABARBURSA.COM – Aliran dana investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang kuartal I 2026 menunjukkan tekanan yang konsisten.
Setelah sempat masuk di awal tahun, dana asing justru berbalik keluar dan meninggalkan pasar dengan nilai jual bersih (net sell) mencapai Rp33,83 triliun hingga awal April.
Data perdagangan resmi BEI yang dihimpun oleh Kabarbursa.com menunjukkan perubahan arah yang terjadi dalam waktu singkat sejak pertengahan Januari.
Pada pekan pertama Januari, yakni antara tanggal 5 sampai dengan 9, investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) Rp2,56 triliun dengan akumulasi Rp3,1 triliun.
IHSG saat itu menguat dan bahkan mencetak rekor tertinggi baru, mencerminkan fase akumulasi awal. Indeks naik 2,16 persen ke level 8.936,754 dari 8.748,132 pada pekan sebelumnya.
Tren tersebut berlanjut pada pekan 12–15 Januari dengan tambahan net buy Rp947,45 miliar. Posisi akumulatif meningkat menjadi Rp7,30 triliun, sementara kapitalisasi pasar BEI juga mencetak rekor Rp16.512 triliun.
Pekan itu indeks menembus level 9.075 dan mencatatkan all time high (ATH) baru, usai naik 1,55 persen dari 8.936,754.
Namun arah mulai berubah pada pekan berikutnya. Pada periode 19–23 Januari, meski masih tercatat net buy Rp759 miliar, posisi akumulatif justru turun ke Rp4,05 triliun.
IHSG mulai terkoreksi 1,37 persen ke level 8.951,010 dari 9.075,406. dan tampak kehilangan momentum, tercermin dari pekan berikutnya.
Tekanan berlanjut pada pekan 23–30 Januari. Investor asing berbalik mencatat net sell Rp1,53 triliun, dan posisi akumulatif langsung berubah menjadi net sell Rp9,88 triliun. IHSG terkoreksi tajam 6,94 persen ke level 8.329,606 dari 8.951,010 dalam satu pekan.
Memasuki Februari, pola yang sama terus terlihat. Pada pekan 2–6 Februari, meski tercatat net buy harian Rp944,31 miliar, posisi akumulatif tetap berada di zona jual bersih Rp11,02 triliun.
Adapun IHSG kembali melemah ke bawah level 8.000 usai turun 4,73 persen ke level 7.935,260 dari 8.329,606.
Tekanan belum mereda hingga pertengahan Februari. Pada periode 16–20 Februari, net buy Rp240,57 miliar tidak cukup mengubah arah karena akumulasi masih mencatat net sell Rp14,42 triliun.
Pergerakan IHSG pun hanya menguat tipis. Indeks sempat naik 0,72 persen ke level 8.271,767 dari 8.212,271.
Arah kembali negatif pada pekan 23–27 Februari dengan net sell Rp694,22 miliar. Meskipun akumulasi sempat membaik menjadi Rp9,51 triliun, tekanan jual tetap dominan di pasar.
Pada pekan tersebut, IHSG turun 0,44 persen ke level 8.235,485 dari 8.271,767.
Memasuki Maret, arus keluar kembali menguat. Pada pekan 2–6 Maret, investor asing mencatat net sell Rp263 miliar, diikuti net sell Rp117,17 miliar pada pekan 9–13 Maret. IHSG turun tajam masing-masing 7,89 persen ke level 7.585,687 dari 8.235,485 dan 5,91 persen ke level 7.137,212 dari 7.585,687.
Puncak tekanan terjadi pada akhir kuartal I. Pada periode 30 Maret–2 April, investor asing kembali mencatat net sell Rp813,51 miliar. Secara akumulatif, dana asing keluar mencapai Rp33,83 triliun sepanjang 2026.
Pada periode 30 Maret–2 April 2026, IHSG turun 0,99 persen ke level 7.026,782 dari 7.097,057.
Data ini menunjukkan pergeseran aliran dana yang signifikan. Dari fase akumulasi di awal Januari, pasar justru masuk ke fase distribusi dalam waktu kurang dari satu bulan.
Perubahan ini terjadi bersamaan dengan penurunan IHSG dari level tertinggi di atas 9.000 menuju kisaran 7.000 pada akhir kuartal I. Kapitalisasi pasar juga turun dari Rp16.512 triliun menjadi sekitar Rp12.305 triliun.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan yang berlangsung tidak hanya pada harga saham, tetapi juga pada likuiditas dan partisipasi investor asing di pasar domestik.(*)





Comments are closed.