Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Teladan dan Perjuangan Guru Kembar Merawat Mimpi Anak-Anak Pinggiran

Teladan dan Perjuangan Guru Kembar Merawat Mimpi Anak-Anak Pinggiran

teladan dan perjuangan-guru-kembar merawat-mimpi-anak-anak-pinggiran
Teladan dan Perjuangan Guru Kembar Merawat Mimpi Anak-Anak Pinggiran
service

Jakarta, NU Online

“Guru kembar”, begitu masyarakat menyebutnya. Sosok pengabdi pendidikan yang hingga usia senja tetap menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak dari keluarga rentan. Berlokasi di bawah Tol Ancol Timur, Jakarta Utara, sepetak bangunan di atas lahan pinjaman dari PT KAI menjadi bukti nyata upaya menghadirkan akses pendidikan yang layak.

Di tengah riuhnya Jakarta, anak-anak berseragam biru-putih tampak menjalani keseharian belajar. Sebagian duduk rapi membaca buku, sebagian bercengkerama, sebagian lain menunggu makan siang dengan wadah di tangan. Suasana sederhana itu diapit aliran selokan yang mengalir pelan saat hujan turun.

Di sisi tembok, sebuah spanduk merah yang mulai usang bertuliskan “Sekolah Darurat Kartini, Ibu Guru Kembar, Gratis” menjadi penanda bahwa pendidikan tak selalu lahir dari ruang sempurna, melainkan dari keteguhan yang tak mudah goyah.

Sosok “guru kembar” merujuk pada Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Keduanya menapaki jalan pengabdian yang serupa dengan semangat R.A. Kartini, bukan dengan pena dan surat, melainkan dengan kapur tulis, kesabaran, dan ruang belajar sederhana.

Di tempat itu, harapan dirawat. Anak-anak datang dengan segala keterbatasan, sepatu usang, kaki berdebu, dan latar kehidupan yang keras, namun duduk rapi, belajar mengeja masa depan mereka sendiri.

Guru kembar sedang membimbing anak-anak. (Foto: NU Online/Suwitno)

Bagi Rossy dan Rian, mengajar bukan sekadar aktivitas, tetapi laku hidup. Tentang bertahan saat tempat belajar digusur, dan tetap membuka kelas meski atap tak selalu tersedia.

Rossy merupakan alumnus Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, sementara Rian lulusan Fakultas Bahasa IKIP Semarang yang kini menjadi Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Semua bermula dari peristiwa tak terduga di kawasan Pluit. Saat terjadi tawuran, mobil yang mereka tumpangi berbelok ke kawasan kolong tol. Di situlah mereka melihat banyak anak tidak bersekolah.

“Awalnya saya hanya bilang, ‘besok sekolah ya’. Ternyata besoknya sudah ada sekitar 150 anak,” kenang Rossy.

Kala itu, fasilitas nyaris tidak ada. Mereka hanya membawa papan tulis, spidol, buku, pensil, serta roti dan susu untuk anak-anak. “Kami tidak punya bangku. Tapi mereka tetap datang,” ujarnya.

Sekolah Darurat Kartini yang dirintis sejak 1990 kini telah berusia 36 tahun. Sekolah ini mencakup jenjang PAUD hingga SMA, meski hanya memiliki ruang terbatas yang multifungsi, sebagai kelas, dapur, hingga ruang makan.

Guru kembar sedang melatih anak-anak menari. (Foto: NU Online/Suwitno)

Bagi mereka, alasan mendirikan sekolah ini sederhana: memberi kesempatan bagi anak-anak yang terhalang kemiskinan. “Kami memberi makan, pakaian, sepatu, alat tulis, tas, hingga rekreasi. Semua kami tanggung,” katanya.

Perjalanan sekolah ini tidak mudah. Lima kali mengalami penggusuran, mereka berpindah dari satu lahan kosong ke lahan lain, mempertahankan keberlangsungan pendidikan di tengah keterbatasan.

Hingga akhirnya, pada 2013, bantuan datang. Sekolah ini diresmikan Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol. Putut Eko Bayuseno, bersama Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan, yang memberikan lahan untuk digunakan sebagai sekolah.

Kini, seiring hadirnya berbagai program pemerintah seperti bantuan pendidikan, peran sekolah terus beradaptasi. Guru kembar menggagas konsep maternal love academy, yakni pendidikan yang tidak hanya menyasar anak, tetapi juga memberdayakan keluarga, terutama ibu.

Kegiatan guru kembar dalam memberikan anak-anak makan. (Foto: NU Online/Suwitno)

Di sekolah ini, anak-anak tidak hanya belajar akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti memasak, menjahit, hingga keterampilan kerja sederhana.

Namun, satu hal yang tidak mereka lakukan adalah menyalurkan tenaga kerja. “Kami membekali ilmu, bukan menjual keterampilan. Pendidikan harus disertai nilai moral,” tegasnya.

Upaya mereka mendapat perhatian internasional. Sekolah Darurat Kartini telah dikunjungi dan diapresiasi oleh berbagai pihak dari lebih 27 negara, termasuk Jepang, Amerika, dan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Meski demikian, tantangan masih ada. Banyak anak yang belum memiliki akta kelahiran, sehingga secara administratif nyaris “tidak terlihat”. “Baru sekarang ada pendataan untuk akta kelahiran,” ujarnya.

Bagi orang tua seperti Dewi Atika (41), sekolah ini sangat membantu. Ia menyekolahkan ketiga anaknya di tempat tersebut. “Di sini banyak kegiatan, anak jadi mengerti banyak hal. Semuanya juga gratis,” katanya.

Salah satu anaknya, Muhammad Fathan, kini lebih mandiri, mulai dari membantu pekerjaan rumah hingga belajar tanpa disuruh. Hal serupa dirasakan Nur Hasanah (15), siswa yang rela menempuh perjalanan panjang demi belajar. “Kadang saya harus menunggu lama, bahkan pernah jalan kaki sampai dua jam,” ujarnya.

Namun semangatnya tak surut. Ia belajar menari, memasak, hingga menjahit. “Harus tetap semangat meraih cita-cita,” katanya.

Di balik segala keterbatasan, Sekolah Darurat Kartini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang harapan. Tempat di mana anak-anak pinggiran tetap memiliki kesempatan untuk bermimpi, dan memperjuangkannya.

Kontributor: Nisfatul Laila

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.