Ditulis oleh Hutama Prayoga •
KABARBURSA.COM – Harga emas dunia dan logan mulia diprediksi masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan di tengah tensi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Kendati demikian, harga komoditas ini diprediksi mengalami penguatan pada periode kuartal II 2026.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas dunia pada perdagangan Sabtu, 2 Mei 2026 ditutup di level USD4.616 per troy ons. Sementara itu, logam mulia berada di harga Rp2.796.000 per gram.
Ibrahim menilai harga emas dunia masih berpotensi menurun pada pekan depan. Jika terjadi pelemahan, ia memprediksi support pertama berada di USD4.520 per troy ons.
“Sementara support pertama logam mulia berada di Rp2.786.000 per gram,” ujar dia dalam keterangannya kepada media, Minggu, 3 Mei 2026.
Jika tekanan terus berlanjut, Ibrahim melihat emas dunia bisa turun ke area USD4.389 per troy ons. Bersamaa dengan ini, harga logam mulia diperkirakan bergerak mendekati level Rp2.750.000 per gram pada pekan depan.
Namun di tengah prediksi pelemahan itu, Ibrahim memandang harga emas dunia maupun logam mulia masih memiliki kesempatan menguat.
Apabila emas dunia menguat, level resistance pertama diperkirakan berada di USD4.702 per troy ons. Pada skenario ini, harga logam mulia berpotensi naik ke Rp2.866.000 per gram.
“Resisten kedua di USD4.851.000 per troy ons untuk emas dunia. Maka logam mulia kemungkinan itu di harga Rp2.900.000 per gram,” terang dia.
Untuk prospek jangka menengah, Ibrahim menilai tren harga emas masih positif. Secara teknikal, kata dia, harga emas dunia pada kuartal II 2026 berpeluang naik hingga USD5.400 per troy ons.
Sejalan dengan itu, harga logam mulia domestik juga diperkirakan dapat menembus Rp3.300.000 per gram pada periode yang sama.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas global. Meski sekitar 50 persen dipicu faktor geopolitik, masih ada variabel lain yang turut menentukan arah pasar.
“Pertama adalah geopolitik, kemudian perpolitikan di Amerika, ketiga yaitu perang dagang, keempat adalah kebijakan bank sentral global, dan kelima adalah suplei dan demand,” ungkapnya.
Menurutnya, isu geopolitik menjadi perhatian terbesar saat ini, terutama meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi memicu perang berkepanjangan. (*)





Comments are closed.