Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Traveling
  3. 72 Hours Zero Calorie

72 Hours Zero Calorie

72-hours-zero-calorie
72 Hours Zero Calorie
service

Baru saja berhasil menuntaskan tantangan 72 jam zero calorie. Selama tiga hari itu, saya hanya minum air putih, teh tawar, dan kopi tanpa gula. Tidak ada makanan sama sekali.

Mulainya sebenarnya gak direncanakan matang-matang. Jumat pagi saya ikut “gocapan” alias gowes cari sarapan. Menu pagi itu cukup sederhana: pecel tanpa nasi/lontong, telur, dan paru. Setelah makan sekitar jam 8 pagi, saya niatnya mau lanjut makan siang di kost sambil memanfaatkan bahan yang ada di dapur.

Tapi anehnya… kok gak lapar.

Kebetulan weekend itu saya juga gak pulang ke Bandung. Mulailah otak saya mencari aktivitas: mau gowes, jalan-jalan, atau bikin apa ya? Sampai akhirnya kepikiran, “Coba IF 72 jam aja kali ya.” Sebelumnya saya udah terbiasa IF 16:8 atau 18:6 meski tidak terlalu konsisten.

Jadi ini bukan semata-mata karena mau diet. Berat badan turun itu bonus. Yang bikin penasaran justru: gimana rasanya tubuh tidak makan selama tiga hari? Apakah bakal kuat? Atau malah tumbang duluan?

Hari Pertama: Masih Semangat

Hari Jumat aman terkendali. Saat rapat di kantor saya bahkan sempat cerita ke teman-teman kalau mau melakukan zero calorie 72 jam. Sengaja declare dulu biar makin niat dan malu kalau gagal.

Belum ada rasa lapar yang berarti. Masih merasa biasa saja.

Hari Kedua: Kepala Pening & Semua Makanan Terbayang

Sabtu pagi mulai terasa efeknya. Kepala agak pening. Saya coba minum air garam, air putih dicampur sejumput garam biasa. Ternyata sangat membantu. Peningnya hilang.

Hari itu saya minum teh tawar panas dan sekitar 2,5 liter air putih.

Lucunya, perut sebenarnya gak terasa lapar. Tapi otak mulai craving. Tiba-tiba semua makanan enak terlintas di kepala. Dari gorengan, mie ayam, sampai makanan random yang biasanya gak kepikiran.

Supaya gak fokus ke makanan, saya sibuk beres-beres rumah:

  • cuci piring
  • cuci baju seember besar (manual!)
  • nonton Netflix
  • scrolling HP

Sempat driver kantor menawarkan mau diantar jalan-jalan atau tidak. Langsung saya tolak. Takut tergoda untuk makan.

Hari Ketiga: Masih Bisa Gowes 🚴‍♀️

Minggu ternyata masih aman juga. Saya sempat minum kopi pahit satu gelas dan sekitar 2,5 liter air putih. Sudah gak minum air larutan garam.

Aktivitas hari itu:

  • nonton Netflix
  • scrolling HP
  • belanja online

Sore harinya saya mencoba gowes karena penasaran masih kuat atau tidak. Targetnya sederhana: kalau badan masih enak, lanjut jalan.

Hasilnya? Hanya sanggup gowes 12 km.

Sepulang gowes saya malah mampir beli pisang kepok dan tahu. Pisangnya buat direbus besok pagi, tahunya buat bahan batagor.

Selama puasa makan ini saya tetap minum obat rutin:

  • obat darah tinggi
  • obat batu empedu
  • obat kolesterol
  • obat gatal

Malamnya sempat galau juga. Kepikiran, “Ini aman gak sih minum obat tanpa makan?” Takut perut bermasalah. Tapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja.

Breaking the Fast

Senin pagi akhirnya momen yang ditunggu datang juga: makan

Saya memilih menu ringan dulu supaya perut gak “kaget”:

  • pisang kepok kukus di campur dengan rebusan kacang hijau tawar. Rasa manisnya ya dari pisang kepok.
  • susu

Dan jujur… makanan sederhana itu rasanya nikmat banget

Karena timbangan ada persis di depan pintu kamar, jadilah tiap keluar kamar selalu numpang timbang.

Hasil akhirnya: turun sekitar 3 kg.

Lumayan banget ya.

Kalau ditanya apakah mau mengulang lagi? Mungkin iya, kalau momennya pas seperti kemarin.

Saya rasa sangat mustahil melakukan ini saat weekend pulang ke Bandung. Itu jadwalnya anak jalan dan makan-makan.

Kalau dilakukan saat hari kerja penuh aktivitas juga sepertinya berat. Saya tipe orang yang gampang tergoda makan kalau lagi kumpul sama teman-teman. Biasanya saya orang pertama yang semangat bilang: “Yuk makan yuk…”

Tapi dari pengalaman ini saya jadi tahu kalau tubuh ternyata jauh lebih kuat dari yang saya kira. Dan yang paling berat ternyata bukan rasa lapar… melainkan godaan makanan yang muncul terus di kepala.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.