Arina.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran terbaru kepada AS untuk mengakhiri perang antara kedua pihak. Trump meresponnya dengan menyebut proposal Teheran tersebut “tidak bisa diterima.”
Tanggapan presiden disampaikan melalui akun Truth Social miliknya kemarin, Minggu 10 Mei 2026. “Saya baru saja membaca tanggapan dari yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” katanya.
Unggahan tersebut muncul beberapa jam setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengirimkan tanggapannya terhadap proposal terbaru AS melalui mediator Pakistan.
“Tanggapan Republik Islam Iran terhadap proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang telah dikirimkan kepada mediator Pakistan hari ini,” demikian seperti dikutip dari Anadolu.
Lembaga penyiaran resmi IRIB, media Iran, juga melaporkan kalau proposal berfokus pada ide dan gagasan mengakhiri perang yang dipaksakan oleh AS dan Israel di semua lini, terutama Lebanon, dan memastikan keamanan pelayaran.
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah berlaku sejak 17 April 2026, yang kemudian diperpanjang hingga pertengahan Mei, tentara Israel terus melakukan serangan harian di Lebanon dan baku tembak dengan Hizbullah.
Sebelumnya, ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan, membuka jalan bagi diplomasi untuk solusi permanen bagi perang tersebut.
Iran perkuat kesiapan tempur pasukan
Adapun Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei mengeluarkan arahan baru tentang penguatan kesiapan dan postur operasional Angkatan Bersenjata Iran. Ia menekankan kesiapan dan respons berkelanjutan terhadap potensi ancaman.
Dalam pertemuan dengan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menyampaikan laporan tentang kesiapan Angkatan Bersenjata Iran, termasuk Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam, Pasukan Penegak Hukum, pasukan keamanan dan penjaga perbatasan negara, Kementerian Pertahanan, dan pasukan sukarelawan Basij.
Dalam laporannya, jenderal tertinggi itu mengatakan seluruh pasukan Iran berada pada tingkat kesiapan yang tinggi dalam hal moral tempur, kesiapan defensif dan ofensif, perencanaan strategis, serta peralatan dan senjata yang diperlukan untuk melawan tindakan permusuhan dari AS dan Israel.
Komandan tersebut, seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim, menjelaskan jika terjadi kesalahan perhitungan strategis, agresi, atau serangan oleh pihak musuh terhadap Iran, hal itu akan ditanggapi dengan tindakan cepat, kuat, dan tegas.
Mayor Jenderal Abdollahi juga menyampaikan jaminan janji kepada Pemimpin Tertinggi, dengan mengatakan mereka tetap sepenuhnya berkomitmen untuk mengikuti perintahnya dan akan membela negara hingga nafas terakhir mereka, cita-cita Revolusi Islam, wilayah Iran, kedaulatan, kepentingan nasional, dan bangsa Iran yang bermartabat.
Komandan tersebut menambahkan, pasukan militer akan membuat musuh-musuh yang bermusuhan dan agresif menyesali niat jahat mereka. Selama pertemuan tersebut, Pemimpin Revolusi Islam menyampaikan apresiasi atas keberanian dan kemampuan Angkatan Bersenjata negara itu.
Ayatollah Khamenei juga mengeluarkan arahan baru dan berwawasan ke depan yang bertujuan untuk memastikan kelanjutan operasi dan memperkuat respons yang tegas dan efektif terhadap musuh.
Sedangkan Presiden Masoud Pezeshkian menekankan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan mengatakan setiap rencana negosiasi tidak berarti menyerah atau mundur, melainkan bertujuan mengamankan hak-hak rakyat Iran dan secara tegas membela kepentingan nasional.
Pertemuan gugus tugas untuk rekonstruksi kerusakan akibat perang agresi AS-Israel terhadap Iran diadakan di Teheran pada hari Minggu dan dihadiri oleh Presiden Pezeshkian.
Selama pertemuan tersebut, presiden menekankan bangsa Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh dan bahwa setiap diskusi tentang dialog atau negosiasi tidak boleh diartikan sebagai penyerahan diri atau penarikan pasukan.
Presiden menjelaskan tujuan dari upaya tersebut untuk memulihkan hak-hak bangsa Iran dan dengan tegas melindungi kepentingan nasional. Pezeshkian juga menggarisbawahi perlunya mempercepat rekonstruksi daerah yang rusak, khususnya unit-unit perumahan.
Ia menyatakan bahwa memastikan keamanan psikologis dan ketenangan pikiran bagi keluarga yang terdampak adalah prioritas utama pemerintahannya selama fase rekonstruksi dan kompensasi.
Ia menambahkan bahwa semua badan eksekutif berkewajiban untuk menjalankan upaya pelayanan publik dengan koordinasi, kecepatan, dan kekompakan maksimal.
Pada saat sama, presiden mencatat bahwa mengingat skala kehancuran dan kerusakan yang disebabkan oleh perang AS-Israel, negara ini masih membutuhkan partisipasi publik yang luas, solidaritas, dan kerja sama dari lembaga-lembaga sosial.
Dia mengatakan semua sektor masyarakat harus bergandengan tangan untuk berhasil mengatasi masa sulit ini.





Comments are closed.